Resensi Buku “Stop Mempersulit Diri”
Resensi Buku “Stop Mempersulit Diri”
oleh A.Ahsan Amir
Judul Buku : STOP MEMPERSULIT DIRI ’60 Cara Menikmati Hiodup Yang Lebih Sederhana”
Penulis : DIYAN YULIANTO
Tahun Terbit : 2021
Tebal Halaman : 156
Buku “Stop Mempersulit Diri” ditulis untuk membantu orang-orang yang merasa kesulitan dan lelah dalam mengerjakan kewajibannya sehari-hari. Dalam buku ini, terdapat 60 bab yang masing-masing menjelaskan tentang masalah yang sering kita temui beserta cara meyikapinya. Masalah merupakan bagian dari kehidupan manusia. Tanpa masalah, niscaya hidup akan terasa hambar. Tidak semua masalah dapat diatasi dengan mudah dengan kata lain manusia bisa saja gagal. Kegagalan bukanlah sebuah aib atau dosa melainkan bagian dari upaya mencapai keberhasilan. Ketika kita telah berhasil mengatasi suatu masalah, kita akan mampu merasakan manisnya hidup. Manusia perlu memerhatikan dan mencintai dirinya sendiri untuk mencintai kehidupannya. Tidak semua orang memiliki lingkungan yang mendukung dirinya. Dalam buku ini, kita dapat menemukan beberapa cara untuk membuat pikiran kita lebih sederhana dan santai dengan situasi yang ada. Misalnya, bersyukur, melakukan hal-hal yang disukai, mengendalikan emosi, menjaga kesehatan fisik, dan lain sebagainya.
Bab 1 Jangan Menyesali Masalah
Penulis mengatakan bahwa sebagai manusia, masalah ibarat paket lengkap yang harus diterima dalam hidup. Bila tidak menyesali masalah dan menerimanya dalam hidup, maka mereka dapat mengurangi beban di pikirannya.
Bab 2 Jangan Merasa Menyesal Melakukan Hal yang Kamu Suka
Bab ini menjelaskan bahwa, terkadang manusia merasa menyesal ketika hanya melakukan hal-hal yang dimau dan merasa telah membuang-buang waktu. Keadaan ini membuat hal yang seharusnya disukai dan disyukuri malah membuatnya menyesali diri. Padahal, tidak ada salahnya melakukan hal yang disukai. Tentunya, selama hal-hal tersebut tidak mengganggu hak orang lain serta tidak pula melanggar norma atau hukum yang berlaku.
Bab 3 Kegagalan Bukanlah Dosa
Penulis mengatakan bahwa, jagoan tidak selalu berhasil, dan itu tidak apa-apa. Kegagalan merupakan sesuatu yang wajar dan biasa dalam hidup. Kegagalan sejati adalah ketika manusia berhenti dan menyerah.
Bab 4 Jangan Takut Mencoba Hal – Hal Baru
Hidup terlalu seru untuk dilewatkan dalam penyesalan. Ada begitu banyak hal baik di dunia ini. Jangan lewatkan hidup ini hanya untuk berkubang dalam penyesalan, kesendirian, dan mood yang berantakan. Mencoba hal-hal baru adalah sesuatu yang otak dan tubuh butuhkan.
Bab 5 Omongan Orang tidak Akan Melukaimu
Penulis berkata bahwa sebagai makhluk sosial, orang tidak akan pernah bisa lepas dari orang lain, termasuk dari omongan mereka. Dari kondisi tersebut, tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain mengatur frekuensi diri agar celaan dan hinaan itu tidak lagi melukai. Hal ini bisa mempraktikkan pepatah “masuk telinga kiri, keluar telinga kanan” , dengan kata lain tidak usah didengarkan.
Bab 6 Kita Bergerak dengan Kecepatan Berbeda
Bab ini menjelaskan bahwa kecepatan orang berbeda-beda. Karena setiap orang berbeda-beda, maka tidak bisa jika setiap orang dipaksa untuk berjalan dengan kecepatan yang sama. Tidak mengapa kita belum memiliki rumah dan mobil sendiri karena kita masih fokus membantu orang tua dan membiayai sekolah adik-adik kita. Hidup perlu dinikmati prosesnya dan mensyukurinya.
Bab 7 Manusia adalah Guru Paling Praktis
Selain dari buku dan guru, penulis menjelaskan bahwa manusia adalah sumber bahan belajar yang sangat istimewa. Kita tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Ada maksud dibalik kita diciptakan unik dan berbeda-beda. Yakni agar setiap dari kita bisa saling belajar kepada yang lainnya.
Bab 8 Single Boleh, Tetapi jangan Hidup Sendirian
Penulis memaparkan tentang makhluk sosial yaitu manusia yang selalu membutuhkan orang lain. Manusia tercipta bukan untuk sendiri, melainkan untuk hidup berkelompok. Setangguh apapun seseorang, ia tetap membutuhkan support system dari orang-orang terdekatnya.
Bab 9 Bukan Apes, hanya Belum Rezeki
Penulis menjelaskan tentang rezeki yang telah diatur. Orang-orang memiliki rezeki yang berbeda-beda. Ketika si A telah mendapat pekerjaan, namun si B belum mendapatkan pekerjaan. Hal ini membuat perasaan si B merasa tidak adil. Sial atau tidak, terkadang hal ini hanya masalah persepsi. Terdapat ungkapan: “mungkin, memang belum rezekinya”.
Bab 10 Jagoan tidak Selalu Menang
“Kita masing-masing menang dengan caranya sendiri” (Diyan Yulianto, 2021: 27).
Bab 11 Nikmati Segala yang Tidak Bisa Kamu Hindari
Penulis menjelaskan tentang pikiran positif yang diperlukan dalam menyelesaikan suatu masalah. Berpikir positif memang tidak dapat mengecilkan masalah, namun hal ini dapat membantu seseorang lebih kuat dalam menghadapi masalahnya.
Bab 12 Jangan Pernah Lupa Bersyukur Penulis menjelaskan bahwa manusia mendapat kenikmatan yang sangat banyak. Selain dari kekurangan yang dimiliki manusia, ada kalanya manusia merasa bersyukur dengan kelebihan yang mereka punya.
Bab 13 Jangan Terlalu Kejam pada Diri Sendiri
Disini dijelaskan mengenai mencintai diri sendiri. Kehidupan tidak selalu berjalan lurus dengan yang diinginkan. Pada tahap ini pula, banyak orang yang semakin keras pada dirinya sendiri, dan hal ini bisa mengakibatkan kondisi yang buruk pada diri sendiri. Oleh karena itu, manusia memerlukan penghargaan pada dirinya sendiri dengan berbagai cara agar manusia lebih santai dalam menjalani hidupnya.
Bab 14 Jangan Lupa Ngopi
Penulis menjelaskan pentingnya istirahat dan menemukan salah satu kenikmatan untuk menjalankan kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya, menyeduh kopi, secangkir teh hangat, semangkuk es krim ataupun hal lainnya.
Bab 15 Wayahe Ngopi (Saatnya Ngopi)
Penulis menjelaskan tentang ngopi dalam wujud Ruhani atau merawat hati. Hati dirawat dengan berlaku sebagaimana fitrahnya hati, yakni dengan melakukan kebaikan. Hati dirawat dengan menjauhi rasa iri hati, dengki, serta sombong.
Bab 16 Berada di Lingkungan yang Menghargaimu
Penulis menjelaskan tentang perlunya lingkungan yang dapat menghargai seseorang. Manusia memiliki bakat yang berbeda-beda, dan tentunya semua memiliki tempatnya masing-masing untuk bisa dihargai. Penulis menyarankan pembaca untuk tidak ragu dalam berpindah tempat ke tempat yang dapat menghargai bakatnya.
Bab 17 Jangan Lupa untuk Berhenti
Bab ini menjelaskan mengenai tindakan berhenti sejenak dalam hidup. Manusia pasti pernah berada di fase yang merasakan lelah dan bosan dalam hidupnya. Hal ini, menjadi tanda untuk berhenti sejenak. Ada berhenti sejenak yang harus dinikmati agar semangat hidup kembali melaju dan terus menyala.
Bab 18 Media Sosial bukan Patokan Kehidupan
Penulis menjelaskan pentingnya mengabaikan standar hidup seseorang dari pencapaian orang lain. Pada zaman ini, tentunya informasi cepat menyebar di media sosial. Media sosial sering memperlihatkan kehidupan orang lain yang tampak sempurna seolah-olah hal ini dapat mengarah pada hidup ideal yang manusia yakini.
Bab 19 Rebahan itu Perlu
Bab ini menjelaskan, kalau manusia memerlukan istirahat setelah bekerja seharian. Melakukan rebahan, memakan sesuatu, dan memainkan hal yang seru dapat membuat otak dan tubuh manusia rileks.
Bab 20 Tuliskan Bebanmu, Kadang itu Bisa Membantu
Pada bab ini, penulis memaparkan banyaknya orang yang rentan terkena depresi. Dengan beban yang manusia miliki, biasanya mereka sulit untuk membagikan beban pikirannya. Mencari orang yang dapat mendengar beban pikiran sangat susah. Hal ini juga bisa dilakukan dengan menulis diari yang dapat menjadi terapi menyembuhkan diri bagi seseorang. Menulis , sebagaimana berbicara dapat mengeluarkan muatan yang memenuhi kepala.
Bab 21 Miliki Jurnal atau Buku Diari
Bab ini menuliskan tentang curahan hati dapat disimpan sendiri. Sebab, cerita diri sendiri tidak bisa dibagikan kepada orang yang tidak dapat dipercaya. Maka dari itu , manusia bisa menuliskan curahan hatinya untuk konsumsi sendiri, dan disimpan dengan berhati-hati.
Bab 22 Hidup tidak Hanya tentang Materi
Pada bab ini, penulis menjelaskan tentang kebutuhan manusia yang tidak ada habisnya. Selain dari kebutuhan material yang terpenuhi, manusia juga membutuhkan kebutuhan nonmaterial. Mereka merasa belum bahagia dan mencoba mencari kebutuhan nonmaterial. Penulis bermaksud menyampaikan bahwa tidak sepantasnya kekayaan materi saja yang dijadikan tujuan utama hidup seseorang.
Bab 23 Kurangi Mengeluh
Bab ini menjelaskan tentang keluhan yang dialami manusia. Manusia bisa saja mengeluh namun, bila keluhan terlalu banyak akan berdampak buruk dandapat mengganggu kegiatan sehari-hari. Penulis memaparkan keluhan merupakan sebuah fiksi yang diciptakan oleh ego.
Bab 24 Pilih dan Temukan Kebahagiaanmu Sendiri
Bab ini menyampaikan bahwa kebahagiaan seseorang belum tentu menjadi kebahagiaan untuk orang lain. Maka dari itu, manusia dianjurkan untuk memilih kebahagiaannya sendiri kemudian menjalaninya dengan rutin.
Bab 25 Menikah adalah Awal, bukan Akhir
Penulis menyampaikan bahwa pernihan adalah sebuah komitmen bersama antara dua orang untuk hidup bersama dengan segala konsekuensinya. Pernikahan merupakan awal dari rangkaian drama kehidupan, bahagia maupun menderita yang mau tidak mau harus dialami kedua pasangan dalam menjalani biduk rumah tangganya.
Bab 26 Kurangi Tumpukan Barang, Perbanyak Pengalaman
Pada bab ini, penulis mencoba menyampaikan tentang memiliki barang yang banyak hanya akan menambah hal-hal lain untuk dipikirkan. Barang-barang yang banyak biasanya membuat rumah menjadi berantakan dan lebih membuat frustasi daripada senang. Karena itu, barang harus dipilah untuk dibuang yang tidak ada gunanya dan menyimpan barang yang memiliki guna dengan cara teratur.
Bab 27 Bacalah Karya Sastra
Pada bab ini, penulis menjelaskan tentang perlunya membaca karya sastra. Sastra dapat digunakan untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan besar tanpa terasa menggurui dan menghakimi. Dengan melihat berbagai macam sudut pandang dalam karya sastra, hal ini dapat menumbuhkan rasa lebih peka, dan berempati.
Bab 28 Setiap Orang Memiliki Cara Sendiri untuk Berbahagia Pada bab ini, penulis mengatakan bahwa setiap orang memiliki cara untuk berbahagianya masing-masing. Namun, setiap pilihan juga memiliki konsekuensinya masing-masing, termasuk merokok, memancing, memelihara burung, merawat tanaman hias, menyenangi lagu-lagu K-Pop, dan lain sebagainya.
Bab 29 Dalam Tubuh yang Sehat, Ada Olahraga yang Niat
Penulis menuliskan bahwa kegiatan sehari-hari harus terdapat waktu untuk berolahraga. Disini, dipaparkan sebuah contoh yaitu seorang penulis yang bernama Haruki Murakami. Ia adalah seorang penulis kontemporer dari Jepang yang populer. Selain menulis, Murakami menekuni olahraga lari maraton. Alasan Murakami menyukai olahraga lari ini ada banyak. Salah satunya, Murakami memilih berlari sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa kesepian yang sering menyerang para penulis. Memang, kesannya para penulis lebih memilih untuk menyepi demi mencari Ilham atau kreativitas. Namun, sepi yang berlebihan juga tidak baik.
Bab 30 Bukan Bagus atau Indahnya, tapi Perjalanan itu Sendiri
Pada bab 30, penulis menuliskan bahwa piknik bisa dilakukan dimana saja. Piknik tidak perlu menghamburkan uang. Piknik bisa dilakukan kapan saja selagi senggang, dan tidak harus beramai-ramai. Penulis memaparkan kesan seorang traveler yang telah menjelajahi puluhan negara di dunia. Traveler ini bernama Trinity. Ia menemui berbagai macam perbedaan di setiap tempat yang ia kunjungi. Melalui pengamatannya, ia menyatakan bahwa sebuah perjalanan wisata itu selalu menyenangkan.
Bab 31 Menyapa Terlebih Dahulu
Penulis menceritakan dirinya yang dulu seorang penyendiri dan tidak memiliki banyak teman. Namun, penulis menyadari perasaan tidak menyenangkan ketika tidak memiliki teman. Ia pun memberanikan diri untuk menyapa orang lain terlebih dahulu. Dan hasilnya ia selalu diajak oleh orang lain yang ia sapa untuk berteman. Penulis berkata bahwa menyapa orang lain lebih dahulu diperlukan, persahabatan itu ditawarkan, bukan diminta.
Bab 32 Kecewa itu Hal yang Biasa
Pada bab ini, dijelaskan mengenai cara agar tidak kecewa . Agar tidak kecewa, manusia harus jujur pada diri sendiri. Manusia harus mengetahui kelebihan dan kekurangan dalam diri. Setelah berani melihat diri sendiri, manusia harus bisa mengakui kemampuan dan kelemahan, sehingga kita harus tetap bersemangat untuk memompa kemauan.
Bab 33 “Jual Dirimu”
Menjual diri yang dimaksud oleh penulis ialah menunjukkan semua yang terbaik pada diri seseorang kepada orang lain. Dalam hal ini, manusia memerlukan personal branding untuk menjadikan dirinya semakin “lalu” dalam berbagai hal. Personal branding adalah cara menampilkan kualitas positif diri seseorang dalam pandangan orang lain.
Bab 34 Ayo Bahagia di Tempat Kerja
Penulis menjelaskan perlunya bahagia di tempat kerja. Ada orang yang tidak menyukai tempat kerjanya karena berbagai macam alasan. Namun, tempat kerja tetap saja memiliki andil dalam membentuk seseorang yang sekarang dan di masa depan. Penulis menganjurkan kepada pembaca untuk menerima dan berdamai dengan masalah yang muncul.
Bab 35 Mengalah agar Tidak Kalah
Bab ini menjelaskan tentang kesalahan yang tidak disengaja oleh orang lain bisa ditanggapi dengan mengalah. Misalnya, bersenggolan secara tidak sengaja, menyerobot antrian ATM, atau tanpa sengaja menjatuhkan es krim ke baju orang lain. Mengalah bukan berarti kalah. Terkadang mengalah diperlukan demi kesehatan diri sendiri. Tidak ada manusia yang selalu benar.
Bab 36 Tirulah Anak-Anak
Penulis memaparkan bahwa tumbuh berkembang dan menjadi dewasa itu bagus. Namun, terkadang manusia terlalu berlebihan dalam menjadi dewasa dan akhirnya lupa merasakan cara memandang indahnya dunia dari sudut pandang anak-anak. Pada bab ini, penulis memaparkan sedikit tentang karya fabel klasik “The Little Prince”. Buku ini menceritakan tentang seorang penerbang dan seorang pangeran kecil. Pangeran kecil mengisyaratkan gambar biri-biri kepada sang Penerbang, dan si Penerbang tidak memahami maksud dari si Pangeran kecil. Hal ini mengingatkan pada masa kecilnya yaitu tidak ada yang memahami perasaannya. Pada akhirnya, ia memahami bahwa semua yang terpenting dalam kehidupan ini tidaklah selalu sesuatu yang dapat dilihat oleh mata, tetapi selalu dapat dilihat oleh hati.
Bab 37 “Me Time” itu Penting
Bab ini berisi tentang perlunya waktu untuk melakukan me time . Penulis berkata untuk tidak merasa bersalah ketika sedang menikmati waktu untuk dirinya sendiri. Selama hal itu tidak mengganggu hal lain, maka me time perlu dilakukan agar bisa lebih santai dengan pekerjaan sehari-hari.
Bab 38 Tidur dan Bangun Lebih Awal
Tidur dan bangun lebih awal dapat membantu seseorang memulai hari dengan suasana hati yang lebih baik dan badan lebih segar. Bab ini menuliskan solusi untuk tidur lebih awal. Tidur malam dapat dilakukan lebih cepat dan tidak kurang dari 7-8 jam. Untuk lebih efektif, benda-benda elektronik seperti TV dan HP harus diatur waktunya agar waktu tidur cukup.
Bab 39 Katakan “Tidak” untuk Korupsi
Bab ini menjelaskan tentang tindakan kecil yang tidak disadari bisa disebut tindakan korupsi. Siapapun bisa terlibat korupsi selain para pejabat. Contohnya, seseorang yang meminta kuitansi kosong di pom bensin, menonton sepak bola atau bahkan tidur selama jam kerja dapat disebut sebagai tindakan korupsi.
Bab 40 Hati Hati di Jalan
Penulis menuliskan bahwa motor yang menerobos trotoar, berkendara sambil mengirim pesan, tidak menghargai orang yang menyeberang jalan dan lain sebagainya ini sangat berbahaya. Upaya-upaya yang menjelaskan tentang pentingnya disiplin lalu lintas sering dilakukan. Hanya saja masyarakat selalu menyepelekan hal tersebut. Penulis berkata untuk melakukan tindakan disiplin dimulai dari diri sendiri.
Bab 41 Turuti Passion-mu, tetapi Jangan Berhenti dari Pekerjaanmu
Penulis menyarankan untuk menuruti passion yang dimiliki agar bisa menghargai diri sendiri lebih baik. Namun, sebelum hal itu dilakukan, manusia perlu mengerjakan pekerjaannya terlebih dahulu. Jika pekerjaan terselesaikan, dan gajinya bisa memenuhi kebutuhan, maka hal ini dapat membuat seseorang lebih leluasa untuk mengejar passionnya.
Bab 42 Jadikan DL sebagai Pendorong
Penulis mengatakan bahwa alih-alih tenggat waktu dijadikan sebagai musuh, lebih baik tenggat waktu dijadikan sebagai kawan untuk memotivasi seseorang.
Bab 43 Membuat Daftar
Bab ini berisi tentang cara untuk membuat tugas-tugas terlihat lebih sederhana. Penulis mengatakan untuk membuat daftar pekerjaan yang harus diselesaikan. Bila salah satu pekerjaan selesai, maka poin pekerjaan tersebut dicoret. Ada kepuasan tersendiri saat mencoret satu per satu hal dalam daftar setelah usai dikerjakan.
Bab 44 Jangan Mencemaskan Hal-Hal yang Tidak Bisa Kita Kontrol Penulis memaparkan saran dari Richard Carlson yang merupakan penulis dari buku yang dibacanya. Buku itu menuliskan agar tidak perlu mencemaskan hal-hal remeh serta hal-hal besar yang tidak bisa dikendalikan. Khawatir tidak mengubah apapun, kecuali membuat orang lain khawatir. Manusia itu hebat, namun terbatas. Selalu ada batas-batas yang tidak bisa manusia lewati. Untuk melewati masalah itu sendiri manusia hanya perlu fokus pada proses penyelesaian masalah.
Bab 45 Belajar Berkata “Tidak”
Bab ini menegaskan bahwa tidak semua pekerjaan harus dikabulkan, tidak semua harus diikuti. Manusia perlu belajar untuk berkata tidak pada hal-hal yang memang di luar kemampuan atau keinginannya. Hal ini akan menjadi jalan terbaik menuju hidup yang simpel.
Bab 46 Belajar Mendengarkan
Penulis mengatakan bahwa manusia lebih menyukai untuk didengar daripada mendengarkan. Fakta-fakta yang perlu diketahui ialah mereka yang tidak mau mendengarkan tidak akan bisa belajar banyak, wanita lebih menyukai dan lebih butuh didengarkan dibanding pria.
Bab 47 Carpe Diem
Penulis mengambil judul “Carpe Diem” dari film Dead Poet Society. Carpe diem! Ungkapan khas Pak Keating- guru sastra mereka, langsung menyulut bara pada diri anak-anak muda itu. Melalui puisi, mereka belajar dan berjuang mengejar mimpi, mencari jati diri, dan belajar memaknai hidup serta menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk menuju cita-citanya. Penulis berkata bahwa film ini berhasil menggugah kesadaran penonton untuk bergerak meraih mimpi, mencoba mewujudkan impian mereka, dan bahwa tidak apa-apa menjadi berbeda karena memang tidak ada manusia yang serupa.
Bab 48 Jangan Membanding-Bandingkan
Pada bab ini, penulis berkata bahwa seseorang yang bahagia tidak pernah sekali-kali membandingkan hidupnya dengan orang lain. Ia memilih untuk bersyukur dengan semua yang ada pada dirinya, bukannya pada hal yang tidak ada.
Bab 49 Tidak Apa-Apa Merasa Sedih
Bab ini berisi tentang manusia perlu sesekali bersedih. Kesedihan berseling dengan kegembiraan adalah dua pengisi hati dan jiwa manusia. Penulis menuliskan tentang Nabi Muhammad Saw. yang selalu menyerahkan semuanya kepada Allah Swt., sumber dari segala solusi permasalahan ketika sedang bersedih. Beliau mencontohkan bahwa dengan bersikap sabar serta berbaik sangka kepada Allah Swt., bantuan akan datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
Bab 50 Jangan Gampang Baper
Pada bab ini, dijelaskan mengenai sikap sabar dan mau menerima fitrah bahwa hidup tidak selamanya indah. Penulis bahwa semua hal yang dialami adalah hal yang biasa dalam hidup.
Bab 51 Dirimu Sumber Kebahagiaanmu
Untuk mendapatkan hidup yang sederhana, seseorang harus menjadikan dirinya sendiri sebagai sumber kebahagiaannya sendiri. Penulis mengatakan bahwa manusia harus mengandalkan dirinya sendiri untuk bahagia sebelum menjadikan orang lain sebagai sumber kebahagiaan. Manusia tidak memiliki tempat yang lebih baik untuk bergantung dan berharap selain kepada Tuhan dan kepada dirinya sendiri.
Bab 52 Perhatikan Jika Kamu ingin Diperhatikan
Penulis memaparkan bila ingin diperhatikan, maka ia pun harus memperhatikan orang lain terlebih dahulu. Penulis memaparkan salah satu isi dari buku Austin Kleon, yang mana menunjukkan hukum keseimbangan yang berlaku dalam berbagai bidang.
Bab 53 Terkadang, Kritik Memang Harus Diabaikan
Penulis mengatakan bahwa, manusia diajari untuk menerima kritikan, tetapi tidak semua kritik harus didengarkan. Terkadang, kritik memang ada untuk diabaikan ketika hanya akan menjadi beban dan bukannya tantangan.
Bab 54 Menjaga Pola Makan
Bab ini menerangkan tentang hidup yang sederhana dan mudah dijalani bisa didapatkan ketika sehat dan tidak sakit-sakitan. Untuk tetap sehat, tentunya diperlukan pola hidup sehat seperti rutin berolahraga, makan makanan bergizi, dan cukup beristirahat.
Bab 55 Menghargai Proses
Penulis mengatakan untuk menghargai proses kehidupan. Dengan memahami bahwa hasil terbaik membutuhkan proses, maka manusia akan lebih menikmati dan jauh lebih tenang dalam mengerjakan sesuatu.
Bab 56 Memberi untuk Diberi
Bab ini menjelaskan bahwa segala sesuatu yang diberikan kepada orang lain dengan hati yang ikhlas dan pengharapan yang baik akan kembali kepada dirinya.
Bab 57 Jangan Gampang Berjanji jika tidak Mampu Menepati
Penulis menegaskan untuk berkata tidak mampu bila tidak mampu untuk mengerjakan suatu janji.
Bab 58 Move on Pangkal Keren
Penulis memaparkan sebuah pepatah, yakni bahwa “masa lalu tercipta untuk dikenang bukan untuk disesali”. Terkadang, manusia merindukan sesuatu yang telah lalu karena masalah yang dihadapinya kala itu tampaknya jauh lebih sederhana daripada menghadang masalah saat ini. Setiap zaman mempunyai keistimewaan dan kekurangannya masing-masing. Penulis menegaskan agar memulai langkah yang akan menentukan masa depan sendiri daripada bernostalgia masa lalu.
Bab 59 Setiap Orang ada Kurangnya, Setiap Orang ada Lebihnya
Penulis menuliskan bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Masing-masing manusia diciptakan dengan keunikan yang berbeda-beda. Dengan ketidaksempurnaan manusia, manusia perlu menyadari diri yang mengharuskan untuk hidup berkelompok dan saling membantu.
Bab 60 Melambat di Dunia yang Bergerak Cepat
Penulis menyarankan agar tetap waras di dunia yang bergerak terlalu cepat, manusia butuh untuk melambat. Hal ini akan mengingatkan kembali pada esensi kehidupan yang sederhana.