Resensi Buku “Pasung Jiwa”

Oleh Muradha Tri Dewi Makmur

Identitas Buku

Judul               : Pasung Jiwa

Penulis            : Okky Mandasari

Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama

Teba                : 328 halaman

Buku ini mengangkat cerita mengenai isu sosial yang lazim terjadi di lingkungab masyarakat. Novel karya Okky Mandasari ini menceritakan tokoh utama bernama Sasana dan Jaka Wani yang mencari kebebasan dan melepaskan diri dari kungkungan baik dari kungkungan tubuh, jiwa, tradisi keluarga, dari norma yang berlaku, dominasi ekonomi serta belenggu kekuasaan. Buku ini Membeberkan betapa di luar sana banyak orang yang memiliki kebebasan dalam bertindak, mendapatkan keadilan tetapi mereka dikungkung masyarakat yang memiliki jabatan dan berkuasa. Di dalam buku novel Pasung Jiwa ini menunjukkan bahwa terdapat enam bentuk persoalan sosial yitu; persoalan kemiskinan, kejahatan, disorganisasi keluarga, generasi muda, konflik sosial, dan persoalan birokrasi. Selain itu novel ini juga membahas berbagai kritik sosial yang ditemukan oleh penulis, yaitu kritik sosial pada kungkungan orang tua atau keluarga, kritik sosial terhadap kesewenangan kepada waria atau transgender, kritik sosial terhadap kehidupan nestapa buruh pabrik, kritik sosial terhadap kehidupan pekerja seks komersial atau PSK, kritik sosial terhadap pihak yang berkuasa dan kesewenangan pemerintah, serta kritik sosial terhadap adanya Laskar atau pasukan pembela agama.

Cerita ini dibuka dengan Sasana yang dari masa kecil, remaja, hingga dewasa yang merasa terkungkung dengan sejuta aturan yang ada pada lingkungan keluarganya dan adat serta norma yang berlaku dalam masyarakat membuat hidup Sasana berjalan sebagaimana yang keluarganya inginkan. Dipaksa untuk bermain piano dan musik klasik, sementara Sasana sendiri jatuh cinta dengan musik dangdut. Diperas dan dikeroyok sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Yang Sasana tahu hanyalah ia harus membuat bangga kedua orang tuanya, berlatih memainkan tuts-tuts piano membuat ia menjadi pianis hebat yang menyabet berbagai penghargaan dan menjadi siswa berprestasi di sekolah. Kendati demikian Sasana tak pernah mencintai apa yang ia lakukan, ia hanya menuruti kehendak kedua orang tuanya. Hingga akhirnya ia merasa bahwa seluruh hidupnya adalah perangkap, tubuhnya adalah perangkap pertama. Lalu lompat ke masa kuliah, Sasana menemukan dirinya sendiri di dalam sosok Sasa yang ia buat dalam dirinya. Memakai daster, berbedak, bergincu, bebas menyanyikan lagu dangdut yang ia suka. Lalu ia dan jaka wani bertemu dan memutuskan mengamen bersama tapi itu tak berlangsung lama.

Sementara Jaka wani adalah sosok lain yang terjebak dalam kemiskinan. Menjadi seorang buruh pabrik yang hidup teratur dari senin sampai jumat, bekerja dari pagi sampai sore dengan upah hanya Rp 90.000 seminggu. Hidup seperti robot, sementara keinginan terdalamnya sebagai seniman tertimbun dalam-dalam. Perjalanannya dengan Sasa berakhir saat mengamen dan membuat aksi menuntut kebenaran. Hingga akhirnya Jaka Wani dipertemukan dengan Elis lalu kemudian dengan Kalina yang memiliki problem hidup dimana mereka tidak memiliki kebebasan dan menjadi sosok kaum yang tertindas.

Apa yang Cak Jek dan Sasa cari adalah kebebasan. Tapi bebas dari belenggu kekuasaan, hukum, kungkungan tradisi, agama, persoalan ekonomi dan keluarga pun belum tentu dapat dijadikan landasan kemenangan atas kebebasan. Justru kemerdekaan atas kungkungan tubuh dan pikiran setiap manusia yang berbeda inilah yang dapat dijadikan sebagai puncak kebebasan manusia.

Add a Comment

Your email address will not be published.