Review Diskuy 06 – Salju di Aleppo
Review Diskuy 06 – Salju di Aleppo
Reviewer: Muh. Syi Syakli Hay (IMMAJ angkatan 2020)
“Kebencian itu bagaikan vampire satu menggigit yang lain, yang lain menggigit yang lain lagi.” Dina Sulaeman meminati kajian Timur Tengah saat dia bergabung dengan Islamic Republic of Iran Broadcasting (2002-2007) di mana setiap hari harus mengamati perkembangan Timur Tengah dan menuliskannya. Dia melanjutkan studi S2 dan S3 Hubungan Internasional di Universitas Padjajaran. Dia kemudian mendirikan sebuah lembaga kajian Timur Tengah, Indonesian Centre for Middle East Studies (ICMES) yang aktif mempublikasikan berbagai kajian dan analisis seputar Timur Tengah. Selain itu juga menerbitkan belasan judul buku, aktif menulis di blog, fanpage, berbagai media online, mengisi seminar, diskusi, dan mengajar.
Buku ini membahas tentang informasi atau berita tentang kebohongan media mainstream tentang aleppo mengenai bagaimana para kelompok jihad bersenjata atau teroris yang memainkan peran media-media mengenai apa yang sebenarnya terjadi di aleppo, apakah konflik agama seperti yang diberitakan internasional atau agama sebagai alibi untuk kepentingan ekonomi politik negara adidaya. Siapa dibalik perang Aleppo? dan bagaimana konflik disuriah berdampak ke Indonesia?
Dina Sulaeman menjelskan mengapa pertanyaan-pertanyaan tentang Suriah menjadi penting untuk dijawab karena imbas konflik Suriah telah mempengaruhi Indonesia dengan cukup dahsyat. Sejak tahun 2012, masyarakat di Indonesia berubah drastis dengan adanya ujaran kebencian dimana-mana. Orang-orang dengan mudah mengkafirkan pihak lain. Seruan bunuh, gantung, dan penggal dengan terbuka diucapkan tokoh-tokoh di depan publik, atau dimedia sosial.
Para pendukung “mujahidin” Suriah secara serempak dan masif menyebarkan narasi “Syiah membantai Sunni di Suriah” melalui media sosial, majelis taklim, seminar, siaran radio, dan televisi. Dukungan terhadap Free Syiria Army (FSA) terus dilakukan oleh para simpatisan dan anggota Ikhwanul Muslimin. Dalam penulisannya Dina Sulaeman menjelaskan adanya kemiripan pola pikir ataupun dukungan yang dilakukan oleh beberapa media, organisasi, serta partai yang ada di Indonesia. Media-media online pendukungnya adalah pkspiyungan, fimadani, dakwatuna, islampos, dan pernyataan resmi Partai Keadilan Sejahtera. Terkait pembebasan Aleppo Timur oleh tentara Suriah, PKS sama seperti para pendukung “mujahidin” lainnya menyatakan bahwa Bashar Assad telah melakukan kejahatan kemanusiaan. Sementara itu ormas Islam transnasional yang memiliki tujuan mendirikan khilafah, yaitu Hizbut Tahrir secara terbuka dan gencar menyatakan dukungan mereka terhadap “mujahidin Suriah yang hendak mendirikan negara khilafah”. Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Ismail Yusanto mengakui bahwa pernah mengikuti sumpah setia dengan banyak kelompok mujahidin ada di Suriah, termasuk dengan Al Nusrah. Tepatnya pada tanggal 20 November 2012, mereka mendeklarasikan Brigade Koalisi Pendukung Khilafah. Pada tanggal 9 September 2014, situs HT mempublikasikan ucapan duka cita atas tewasnya pimpinan pasukan “jihad” Ahrar Al Sham. Jabhah Al Nusra dan Ahrar Al Sham adalah organisasi teror yang merupakan keturunan “Al Qaida”. Mereka sering melakukan operasi militer bersama, misalnya pada bulan Mei 2016, mereka melakukan pembantaian massal di desa Zara (Provinsi Homs). Bila dicek di situsnya pada saat sebelum diblokir oleh pemerintah Indonesia, HTI aktif dalam menyebarkan informasi hoax soal Suriah.
Dina Sulaeman memberikan pesan kepada kita untuk mencintai bangsa ini dengan aktif mencegah penyebaran radikalisme. Semua msyarakat di tanah air agar mewaspadai keadaan anak-anak yang pada saat ini aktif menggunakan internet, mulailah memperhatikan diri sendiri dan keluarga. Jangan menyebarkan kebencian pada sesama manusia, karena akar radikalisasi adalah takfirisme (amat mudah mengkafirkan pihak lain yang tak sepaham). Lebih baik lagi: lawanlah akun-akun di media sosial yang gemar menyebarkan kebencian, takfirisme dan hoax