Who Moved My Cheese? Cara Jitu Menghadapi Lika-Liku Perubahan dalam Kehidupan dan Pekerjaan
Who Moved My Cheese? Cara Jitu Menghadapi Lika-Liku Perubahan dalam Kehidupan dan Pekerjaan
Karya : Spencer Johnson M.D.
oleh : Rezky Indah Lestari (Departemen Kesekretariatan dan Dana Usaha)
Buku yang diterbitkan tahun 1998, ini merupakan buku yang populer dan menjadi buku bestseller yang dituliskan oleh Spencer Johnson M.D. Beliau menciptakan kisah “Who Moved my Cheese?” dengan tujuan membantu menghadapi perubahan yang kerap kali terjadi dan tidak mudah dalam hidupnya. Hal ini memberi tanda bahwasanya dia perlu bersikap serius tetapi tidak kaku dalam merespon segala perubahan yang terjadi dalam dirinya.
Buku ini diawali dengan pembahasan “ Bagian dari Diri Kita” yakni si Sederhana dan si Rumit, tokoh imajiner yang diilustrasikan dari kisah ini. Tokoh itu yakni dua tikus Sniff (Endus) dimana memiliki karakter yang mampu mencium adanya perubahan dengan cepat, si Scurry (Pelacak) yang sangat tanggap dalam mengambil tindakan. Ada pula dua kurcaci bernama Hem, dimana yang menolak dan mengingkari adanya perubahan karena takut apabila perubahan itu berdampak pada hal yang buruk, dan Haw yang memiliki karakter akan mencoba beradaptasi jika Ia melihat perubahan ternyata mendatangkan sesuatu yang lebih baik. Keempat tokoh ini diilustrasikan sebagai tindakan kita dalam merespon perubahan, yang mana pun dari keempat itu menjadi bagian dari kita, kita memiliki ciri yang sama yakni kebutuhan untuk menemukan jalan di labirin dan kesuksesan dalam menghadapi perubahan yang terjadi.
Who Moved My Cheese? Ini berkisah tentang perubahan yang terjadi dalam labirin di mana empat tokoh yang disebutkan di atas itu pergi mencari Cheese. Cheese ini diibaratkan sebagai hal-hal yang ingin dicapai dalam hidup ini, sebagaimana cita-cita atau mimpi kita. Setiap orang memiliki gagasan tersendiri tentang cheesenya dan kita pun terus mengejarnya karena meyakini bahwa akan membawa kesenangan jika kita mendapatkannya. Kemudian, “ Labirin” yang dinyatakan di kisah ini mewakili tempat di mana kita menghabiskan waktu untuk mencari-cari apa yang kita inginkan tersebut.
Tiga bagian utama dalam buku ini, pertama terkait dengan Pertemuan, dimana teman-teman yang dulunya sekelas mengadakan reuni dan saling bercengkrama bersama, bertukar pikiran dan mendiskusikan terkait perubahan yang terjadi. Bagian kedua adalah bagian inti dari buku ini yaitu cerita Who Moved My Cheese dimana disini kita akan menemukan kisah bahwa kedua ekor tikus lebih mampu menghadapi perubahan yang terjadi, sigap dan responsif karena mereka tidak memperumit permasalahan dan langsung mengambil tindakan dari perubahan yang terjadi. Dibandingkan dengan para kurcaci yang memiliki otak dan emosi manusiawi, mereka memperumit keadaan yang ada dan tidak langsung bertindak untuk menghadapi perubahan. Hal ini bukan berarti karena tikus lebih pintar daripada manusia, kita tahu bahwa manusia jauh lebih memiliki kecerdasan daripada tikus. Justru ketika membaca dan memperhatikan kisah Who Moved My Cheese apa yang dilakukan oleh keempat tokoh dalam kisah ini dan menyadari bahwa keempatnya memang mewakili bagian dari diri kita, yang rumit dan yang sederhana. Kemudian, bagian ketiga, Diskusi. Masing-masing tokoh yang reuni pada bagian pertama itu berdiskusi tentang arti cerita bagi mereka, bagaimana mereka menilai, dan menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Sebagaimana kita ketahui, perubahan merupakan hal yang pasti terjadi, tidak ada yang kekal dalam dunia yang fana ini, baik dalam urusan pekerjaan, bisnis, kesehatan dan pendidikan. Oleh karena itu, setiap orang perlu berusaha bijak dalam menghadapi perubahan yang terjadi, mempersiapkannya sehingga diri ini mampu dalam merespon dan bertindak terhadap perubahan. Kisah sederhana tetapi kaya makna dalam buku ini mengajarkan kita terkait cara menyikapi dan menghadapi perubahan. Hal-hal seperti cara menyikapi perubahan dalam hidup, berpikir secara sederhana dalam mengatasi masalah, tidak perlu menyalahkan keadaan yang tidak ada hasilnya, cara mendorong dri agar mampu beradaptasi dan ikut berubah, dan bagaimana menikmati perubahan-perubahan itu.
Sebagian besar orang yang tidak menyadari akan datangnya perubahan sehingga tidak ada persiapan dengan baik, sehingga ketika terjadi perubahan mereka kaget, menolak, dan tetap menyangkal perubahan itu. Orang tidak mau berubah salah satu sebabnya dikarenakan telah adanya rasa nyaman, rasa nyaman yang dialami pada kondisi itu membuat mereka menolak perubahan, tidak mau belajar dan mencoba hal-hal baru. Padahal tidak dapat dipungkiri perubahan itu akan datang suka tidak suka. Nah, disinilah perubahan dapat disikapi dengan cara baik atau buruk.
Sebagaimana tokoh yang ada di kisah Who Moved My Cheese memiliki keragaman dalam menghadapi perubahan. Sniff dan Scurry tidak berpikir panjang dan sederhana saja ketika perubahan itu terjadi. Sniff mampu mencium adanya perubahan sedangkan Scurry yang bergegas dalam mengambil tindakan ketika persediaan cheese semakin menipis. Namun, hal sebaliknya terjadi pada dua kurcaci, Hem dan Haw. Dimana kedua kurcaci sudah merasa nyaman dan aman dengan cheese yang selama ini mereka nikmati sehingga tidak peduli dengan perubahan yang terus terjadi. Ketika cheese nya sudah tidak ada lagi, maka Hem sibuk mencari alasan mengapa cheesenya sudah tidak ada, dan dia tetap gigih bahwa cheese itu akan tersedia kembali sehingga dia tidak mau meninggalkan labirin cheesenya. Namun, Haw yang awalnya juga kaget dan tidak serta merta menerima perubahan akhirnya berpikir positif, mencoba bergerak maju dan beradaptasi dengan perubahan.
Dalam kisah ini juga memberikan pelajaran bahwa langkah awal untuk memulai suatu perubahan adalah dengan berpikir positif. Ketika Haw mulai sadar tidak akan memperoleh apa-apa dari usaha yang mereka lakukan di mana tetap menunggu cheese di station labirin yang lama, Ia mulai berpikir untuk mencari sumber cheese yang baru, mereka harus berubah sebagaimana Sniff dan Scurry. Sedangkan Hem masih bersikeras untuk bertahan karena takut akan bahaya yang akan dialami jika kembali ke labirin untuk mencari sumber cheese yang baru. Ia meyakini bahwa cheese itu akan kembali ke tempat semula.
Kesimpulan yang dapat diambil dari Who Moved My Cheese ini bahwasanya perubahan itu selalu terjadi sehingga perlu mempersiapkan diri dalam usaha untuk mengantisipasi ketika perubahan itu benar-benar terjadi, kita bisa lebih sadar untuk membuat hal menjadi sederhana, fleksibel, dan segera dilakukan, tidak perlu memperumit permasalahan dengan keyakinan yang menakutkan, rasa nyaman atas suatu kondisi merupakan faktor yang membuat orang sulit berubah/tidak mau berubah, kita perlu dalam memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi dengan memperhatikan perubahan kecil sehingga kita bisa mempersiapkan diri pada perubahan besar yang mungkin terjadi, cepat dalam menyesuaikan diri dengan mengikhlaskan hal-hal yang telah lalu dan mencoba mempelajari hal-hal baru pada perubahan, berubah dan nikmati perubahan, dan bersiap untuk segera berubah dan menikmatinya karena sesungguhnya ketakutan yang kita biarkan berkembang dalam pikiran kita akan lebih buruk dari kenyatannya.