Mural dan Pembungkaman Kebebasan Berekspresi

Muhammad Ade Rizky Nur (Bendahara SEMA FEB-UH 2021)

Mural atau grafiti adalah salah satu praktik seni jalanan yang mengisi ruang publik dalam berekspresi terhadap lingkungan di sekitarnya. Karya-karya seni grafiti yang awalnya tumbuh di tembok-tembok di kota ini kemudian menjadi sebuah simbol keresahan/protes masyarakat terhadap situasi sosial dan politik di Indonesia. Beberapa hari ini, sedang ramai dibicarakan mural yang dibuat sebagai bentuk kritik sosial. Kemudian orang-orang yang membuat mural pun ditangkap oleh kepolisian karena diduga menghina Presiden melalui lukisan mural.

Ada tiga kalimat pesan yang membuat panas telinga penguasa dalam mural-mural yang dihapus tersebut. Yakni, “Tuhan Aku Lapar”, “404 Not Found”, dan “Dipaksa Sehat Di Negeri Yang Sakit”. Jika dikupas lebih dalam sebenarnya tiga kalimat itu memang mewakili perasaan mayoritas rakyat Indonesia saat ini. “Tuhan Aku Lapar” adalah bentuk ekspresi rakyat yang mulai kelaparan akibat pandemi yang tidak kunjung usai ini.

Lalu 404 Not Found, menurut news.com.au, 404 dalam dunia internet merupakan kode HTTP yang artinya laman tidak ditemukan alias kosong. Itu adalah cara internet untuk mengatakan bahwa anda telah mencapai jalan buntu. Sang pelukis mural hendak memberi pesan berupa kritik bahwa tokoh yang wajahnya digambar dalam mural tersebut tidak ditemukan atau seandainya ia ada maka seolah-olah dia tidak ada. Penulis tidak mau berspekulasi mengenai siapa tokoh yang dimaksud si pelukis mural tersebut, biarlah publik meraba-rabanya sendiri.

Penghapusan-kriminalisasi mural dinilai bentuk pembungkaman kebebasan berekspresi yang dijamin, dilindungi konstitusi, kovenan Sipol, UU HAM. LBH Jakarta meminta Presiden, Kapolri, Mendagri untuk menghormati kebebasan berekspresi dan berpendapat yang disampaikan masyarakat.

Lalu yang ada di Bangil, bisa jadi kalimat “Dipaksa Sehat di Negeri yang Sakit” adalah sindiran si pelukis mengenai program vaksinasi yang digalakkan di tengah kesimpangsiuran informasi di ranah publik mengenai dampak yang ditimbulkannya. Atau bisa juga sarkasme itu ditujukan secara umum untuk menggambarkan keadaan masyarakat di tengah pandemi ini yang dipaksa harus selalu sehat di tengah kebijakan-kebijakan penguasa yang terkadang malah membuat rakyat “sakit”.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kini hati rakyat kian disakiti saat melihat ratusan TKA masuk ke Indonesia sedangkan pribumi disuruh diam di rumah tidak bisa kerja, bansos Covid-19 yang jadi hak rakyat malah dikorupsi.

Antara Grafiti, Kesenian Jalanan, dan Sejarahnya.

Seni  lukisan  jalanan mural  dan grafiti  ini  juga  boleh  dikatakan  sebagai suatu  artefak.  Ini karena sesuatu hasil seni tersebut mempunyai makna atau pengisian tentang sesuatu watak, pandangan, nilai moral, budaya dan sebagainya oleh (Stamatescu dan Rusu, 2011). Sebagai contohnya, hasil-hasil karya kebanyakannya yang ekspresikan di dinding-dinding bangunan dan sebagainya adalah daripada budaya tempatan, kaum dan juga negara. Dengan itu, hasil ekspresi  tersebut  sudah  membuktikan  bahawa  seni  lukisan  jalanan  mural  dan  grafiti  ini perlulah dihargai dan juga dipahami maksud penyampaiannya.

Dalam sejarah, grafiti menjadi slogan perjuangan setelah Proklamasi Kemerdekaan. Grafiti pada masa Orde Baru dipandang sebagai kegiatan yang mengganggu, bahkan kriminal. Kelahiran grafiti Orde Baru ditandai setelah maraknya fenomena penembak misterius. Pemerintah yang menganggap grafiti semakin nakal dan mulai mendoktrin masyarakat dengan membenturkan karya seni dengan vandalisme. Orde Baru melakukan depolitisasi dalan semua lini kehidupan, salah satunya adalah bahwa seni tidak berpolitik, sehingga tidak ada keberpihakan seniman atas rakyat sebagai akibat trauma politik (Santoso 2003:309).

Kesenian jalanan sebagai Identitas Kota

Dalam studi komunikasi politik, seni jalanan dalam berbagai bentuknya sering kali diidentifikasi sebagai bentuk partisipasi politik nonformal. Pada praktiknya, seni jalanan menjadi lahan subur tumbuhnya aksi protes dan saran untuk mengambil posisi kritis dalam isu politik, sosial dan budaya (Gede,2019).

Alasan penting kesenian jalanan merupakan bagian esensial dalam sebuah kota adalah menuju kebebasan dan kekreatifan. Dengan seni, kita bisa mengkomunikasikan ide, mengekspresikan emosi, dan menjalin koneksi dengan orang lain. Kota yang kaya akan seni jalanan akan dilihat sebagai kota yang menghargai suara dan ekspresi publik. Ada beberapa elemen yang menarik dari semua mural, grafiti pada tembok. Maka dari itu, seni jalanan akan mengundang pengguna jalan untuk berimajinasi sambil melihat kondisi lingkungan disekitarnya dari perspektif lain.

Namun ternyata seni jalanan masih sering menjadi representasi orang yang distigmatisasi sebagai orang yang “harus dihapus dalam rangka mengembalikan ruang sosial sebagaimana mestinya”. Padahal, seni jalanan yakni terkhusus mural, justru di identik dengan culture jamming yang pada intinya merupakan sebuah cara untuk menyuarakan ide, gagasan, dan pesan mengenai kekecewaan terhadap keadaan.

Dengan begitu, seni jalanan menjadi cara damai sekaligus kuat untuk melakukan protes melawan ketidakadilan sosial dan politik hari ini.

“Di negara liberal, kita bebas berekspresi tapi makan cari sendiri. Di negara komunis, kita tidak bebas berekspresi tapi diberi makan. Di Indonesia, kita tidak bebas berekspresi juga makan harus cari sendiri.”Cak Nun

Referensi:

https://m.hukumonline.com/berita/baca/lt611cbf833aa33/3-alasan-hukum-pembuat-mural-bermuatan-kritik-tidak-dapat-dipidana

CNN Indonesia. (2021). Mural “Jokowi 404: Not Found” Dihapus, Pelukis Diburu Polisi. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210813174713-20-680147/mural-jokowi-404-not-founddihapus-pelukis-diburu-polisi

Isnaeni, H. (2021). Grafiti Setelah Proklamasi. https://historia.id/kultur/articles/grafiti-setelah-proklamasi-P0pl9/page/1

https://kumparan.com/firhandika-santury/mural-dan-ancaman-terhadap-kebebasan-berekspresi-1wKUuYn9D7c

https://udayananetworking.unud.ac.id/lecturer/publication/4808-gede-indra-pramana/street-art-sebagai-komunikasi-politik-seni-protes-dan-memori-politik-3363

Add a Comment

Your email address will not be published.