KEADAAN PENDIDIKAN NASIONAL DI ERA KAPITALISME GLOBAL
KEADAAN PENDIDIKAN NASIONAL DI ERA KAPITALISME GLOBAL
oleh : Aqilah Nur Falihah
Hidup tanpa ilmu bagaikan malam tak berbintang, begitulah kiranya pribahasa yang kita dapatkan pada waktu kita masih menjadi bagian dari obyek ilmu pengetahuan teoritis tanpa memiliki sebuah kesadaran.Malam tanpa bintang analogi yang menggambarkan bahwa pada saat malam hari sebuah roda kehidupan yang penuh dengan kegelapan, dalam kondisi tanpa cahaya yang membuat kita tak mampu melihat setiap sudut yang ada, tak mampu melihat setiap lubang dan kubangan air yang berisi dengan kotoran tempat beraktifitasnya kerbau dan babi.
Sesuatu yang sangat ingin kita hindari bersama dengan cara menjadi manusia paripurna. Berkembangnya pendidikan pada era yang serba digital dimana fase ini, pendidikan telah kehilangan jatdirinya, berdirinya sekolah atas dasar. Kepentingan untuk menjalankan gerigi perusahaan, menjadikan sekolah pada akhirnya hanya memproduksi kerbau-kerbau baru yang difungsikan untuk digembalakan, dan membajak sawah, begitulah kurang lebihnya analogi kondisi pendidikan hari ini.
Pada situasi ini kita membutuhkan suatu kesadaran yang mampu menjadi “future maps” pada saat kita membutuhkannya .Kesadaran itu bernama kesadaran kritis.Kesadaran yang sangat diperjuangkan oleh Paulo Freire untuk mencerdaskan setiap rakyat miskin kota dan kepada meraka yang tertindas dengan berbagai situasi Negara yang serba “rimba”.
Pendidikan adalah hak dasar yang harus diperoleh oleh rakyat dan negara harus hadir disitu untuk memberikan ruang. Namun, pada realita penerapan sistem pendidikan yang terjadi hari ini hanya diperuntukkan untuk golongan yang mempunyai finasial cukup ataupun lebih. Artinya apa, pemenuhan hak dasar ini hanya sebagai simbolik di dalam sebuah pembukaan UUD 1945 yang telah disusun oleh para pendahulu.
Orang-orang yang memiliki kemampuan atau kepintaran hanya berharap disediakan beasiswa oleh pemerintah ataupun pihak swasta. Akan tetapi mereka tetap saja mengalami kendala karena peminat beasiswa yang begitu banyak. Belum lagi ternyata jumlah baesiswa yang tersedia sangat terbatas bahkan tidak ada 10 persen dari jumlah peserta didik yang sedang belajar disuatu insitusi pendidikan.
Nasib dunia pendidikan Indonesia sungguh sangat dramatis. Pendidikan nasional sebagai salah satu variabel untuk memajukan pendidikan justru di jadikan lahan akumulasi modal (pendidikan Layaknya komoditi yang siap di perdagangkan). Persoalan lainnya adalah kesejahteraan guru yang sangat minim. Gaji seorang guru belum memenuhi standar hidup layak keluarganya(kebutuhan ekonomi keluarga), sehingga tidak jarang guru-guru terlibat kerja sampingan(buka usaha, jadi tukang ojek, dan lain-lain), dan ini sangat mengganggu konsentrasinya untuk mengajar.
Tidak ada upaya pemerintah menambah kualitas tenaga pengajar dengan memberikan beasiswa untuk untuk melanjutkan kuliah. Nasib ratusan ribu guru kontrak di Indonesia sekaligus kenyataan bagaimana kondisi perbudakan modern yang di jalankan pemerintah, yang kemudian dalam beberapa kasus seperti kegagalan Ujian Nasional, kelompok inilah(guru bantu dan guru kontrak) yang banyak di salahkan.
Bagaimana mungkin mereka bisa memaksimalkan kinerjanya jika statusnya tidak jelas, apalagi kesejahteraannya. Maknanya apa? Hingga 76 tahun kemerdekaan kita, masih banyak warga Indonesia yang tidak mendapatkan hak dasarnya dalam konteks pendidikan. Padahal jelas tertera di dalam Pembukaan UUD 1945, salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Di sisi lain juga persoalan kesejahtraan guru yang betul-betul kurang menambah torehan negatif yang diberikan pemerintah terhadap sistem pendidikan hari ini.