Social Distancing dan Physical Distancing : Apakah Humanisme Tereduksi?
Oleh : Aqila Nur Falihah (Departemen Humas periode 2021)
Manusia di penjuru dunia mengalami kepanikan yang begitu besar, perasaan takut bergemuruh pada setiap helaan napas-napas yang berkobaran dimana-mana. Kini, dunia sedang menghadapi fenomena baru yang mengagetkan dan membuat genting diberbagai Negara. Siapa sangka hal ini bisa terjadi. Di Wuhan tepatnya, awal kegentingan itu terjadi namun, beberapa dari kelompok orang masih menyepelekan hal ini masuk di negara-negara lain. Dan pada akhirnya, semua merasa kaget serta minimnya pembelajaran masyarakat yang di dapatkan dari Wuhan, artinya tidak banyak orang pada saat itu yang menyepelekan hal ini terjadi. Ketika masuk di Negara Indonesia, semakin hari semakin bertambahnya penderita. Akhirnya proses ekonomi makro lumpuh 70% . Tempat wisata, hiburan, kampus-kampus tutup untuk sementara. Covid-19 menyerang bukan saja kesehatan, tapi mental masyarakat yang kian hari semakin ganas terhadap ketakutan.Dibalik semua itu, keragu-raguan pemerintah utnuk memberikan kebijakan yang berupaya untuk mengatasi Pandemi ini semakin sulit. Di sisi lain ekonomi dan proyek pembangunan Jokowi sedng gencar-gencarnya, akibatnya simpang siur kebijakan yang terjadi. Masyarakat di berbagai daerah panic akan hal ini. Berusaha mencari dan serta mencurigai tetangga masing-masing. Bahkan tidak memberikan ruang bagi mereka yang dianggap asing.
Social dan Physical Distancing semakin popular terdengar di masyarakat. Bahkan, menganggap orang yang karantina mandiri adalah orang sakit. Fenomena saling kecurigaan ini ditambah dengan berita yang tiap hari menakuti masyarakat sehingga, pola-pola kerja di masyarakat khususnya di pedesaan semakin hilang dari budaya mereka. Akankah budaya baru muncul akibat ini? Atau parahnya lagi adalah akankah kepedulian terhadap sesama semakin tereduksi?. Bisa jadi, hal ini sebagai momok menakutkan terhadap Kapitalisme, yang disampaikan oleh Slavok Zizek dalam bukunya Panic! Covid-19. Menurut Zizek, fenomena ini bukan saja sebagai perang terhadap kesehatan namun terlebih lagi adalah perang ideologis oleh masyarakat yang bisa jadi melontarkan kata-kata rasis terhadap sesama yang disebabkan kepanikan yang menggelora. Slavok Zizek juga menjelaskan begitu detail pandangan kiri radikal yang memunculkan istilah “penemuan kembali komunisme” yang berarti serangan telak terhadap kapitalisme. Wabah juga ini menurutnya luput dari perhatian masyarakat maupun para ahli, yaitu bahwa wabah ini juga telah memicu virus ideologis, seperti berita palsu, teori konspirasi sampai ungkapan-ungkapan yang bisa dikategorikan sebagai ungkapan rasisme. Jadi, bukan hanya saling mawas diri yang mengakibatkan hal ini, namun jauh lebih panjang terbentuk solidaritas baru yang melampaui Negara-bangsa. Justru, jika dipikir akan muncul pola-pola humanis baru yang dilandasi dengan saling waspada antar sesama, artinya jauh melampui pola humanis yang kapitalistik. Justru oleh Slavok Zizek meramal dunia menuju ke Humanisme komunis.
Kita hidup dengan momen ketika kita benar-benar sayang terhadap orang lain atau objek tertentu, maka kita harus menjauh sejauh 1,5 meter demi keselamatan bersama. Media kita, selalu mengulangi perketaan mereka dan menasihati kita untuk tidak panik namun, kita mendapatkan data tentang penularan ini begitu pesat, bagaimana mungkin seseorang bisa tahanterhadap kepanikannya. Fenomena yang mengerikan di UK, ketika tisu yang digunakan di toilet habis dipasaran sehingga mengingatkan saya tentang suatu insiden yang aneh namun terjadi dalam realitas kita.
“ Dari sudut pandang sinis, vitalis, orang bisa tergoda untuk melihat coronavirus sebagai infeksi yang memungkinkan manusia untuk menyingkirkan yang lama, lemah dan sakit. Seperti mencabut gulma yang setengah busuk sehingga tanaman yang lebih muda dan lebih sehat dapat makmur, dengan demikian berkontribusi terhadap kesehatan global. Pendekatan komunis luas yang saya anjurkan adalah satu-satunya cara bagi kita untuk meninggalkan sudut pandang primitive yang kapitalistik. Tanda-tanda mengurangi solidaritas tanpa syarat sudah terlihat dalam perdebatan yang sedang berlangsung, seperti dalam catatan berikut tentang peran-tiga orang bijak-jika epidemi terjadi yang dahsyat di Inggris; “Pasien lanjut usia dapat ditolak perawatannya jika ruang medis sedang penuh, dan ketika protocol dalam perawatan koronavirus tidak mampu menampung pasiennya? Apakah akan terjadi pengerbonan yang terlemah dan tertua? Dan apakah situasi ini membuka ruang untuk korupsi besar-besaran ? Apakah prosedur seperti itu tidak mengindikasikan bahwa kita sedang bersiap untuk memberlakukan logika palingbrutal tentang kelangsungan hidup yang terkuat? Jadi, sekali lagi pilihan yang kita hadapi adalah : semacam barbarisme atau semacam komunisme yang diciptakan kembali”(Slavok Zizek : Covid-19 shakes the world).
Benar
tentang konsep etika yang harus dihadapi oleh Negara yang begitu membingungkan,
ketika mereka memilih untuk menganut konsep etika Utilitarianisme maka,
tamatlah riwayat para kakek lanjut usia, tukang becak dan masih banyak yang
potensial akan jadi korban. Ketika proyek ekonomi makro yang semakin hari
semakin merosot maka pilihannya adalah perbanyak lumbung pertanian dan kita
akan kembali pada kejayaan komunisme yang tidak terlalu bergelut dengan pemilik
modal. Namun, seperti mata pisau yang terbelah dua, covid-19 adalah lading bagi
WHO untuk menguasai lagi kesehatan dunia. Apa yang terjadi kedepan adalah
sesuatu yang sulit diprediksi mengingat hal ini adalah fenomena baru dalam
realitas masyarakat.
Satu hal yang menarik dari semua ini adalah ternyata, yang menjadi penopang
hidup kita selama ini adalah petani.