The Danish Way Of Parenting
The Danish Way Of Parenting
Penulis : Jessica Joelle Alexander & Iben Dissing Sandahl
Penerbit : B First (PT. Bentang Pustaka)
Tahun Terbit : 2018
Tebal : 184
Buku ini menceritakan tentang Apa yang menjadikan Denmark negara paling bahagia di
dunia dan apa rahasia orang tua Denmark untuk membesarkan anak-anak yang bahagia, percaya diri, dan sukses, dari tahun ke tahun? Buku ini menyatukan wawasan seorang psikoterapis berlisensi dan seorang ibu berasal dari Amerika yang menikah dengan orang Denmark yang menceritakan tentang kebiasaan keluarga paling bahagia di dunia. Denmark merupakan salah satu negara di Skandinavia yang penduduknya termasuk kategori paling bahagia di dunia. Predikat ini udah didapat oleh Denmark sejak 40 tahun lalu). buku ini menjelaskan, kunci kebahagiaan orang-orang Denmark itu ada pada cara mereka mendidik anak-anaknya. Penulis buku ini asli orang Amerika dan dibesarkan di Amerika, kemudian menikah dengan suaminya yg orang Denmark. Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman penulis dan pengalaman suaminya.
Penulis buku ini pertama-tama juga mengajak kita untuk mengetahui “Default Settings” kita masing-masing. Maksudnya, kenali dulu diri kita sendiri dan darimana sebenarnya kita belajar mendidik anak-anak kita. Kalau yang secara alami, pasti kita mengikutin orang tua kita. “Saya dulu dididik begini dan begitu oleh bapak dan ibu saya jadi itu yang saya terapkan ke anak-anak”. “sebagian besar orang-otang di tempat saya gitu kok, buktinya anak-anaknya hidup- hidup aja”. Hal-hal seperti itu yang dimaksud dengan default setting. Di buku ini, teori parenting ala orang Denmark disingkat dengan kata “PARENT”.
P for Play
Jadi, anak-anak di Denmark, dimotivasi untuk banyak bermain. banyak bermain bukan
bermaksud ikut les ini itu. Dari bermain ini anak-anak kecil belajar untuk mengendalikan diri, mengambil resiko, bergaul dengan anak-anak lain dan banyak lagi manfaat lainnya. Tips untuk Play yang disarankan di buku ini:
- Matikan TV dan alat-alat elektronik. Biarkan anak-anak bermain dengan daya imajinasi mereka.
- Sebagai orang tua, ciptakan lingkungan bermain yang kaya dan mendukung semua indra : visual, auditory, tactile, dsb.
- Gunakan seni (tidak usah yang mahal-mahal, misalnya main coret-coret pakai kertas dan pensil warna).
- Biarkan anak-anak main di luar rumah, misalnya di taman, kebun, pantai, hutan, sawah, atau mana saja.
A for Authencity
Anak-anak di Denmark itu sejak kecil diajari untuk jujur pada diri sendiri dengan cara
mengenali setiap emosi yang dirasakan. Misalnya ketika sedih dan menangis, orang tuanya tidak akan marah-marah, tapi bertanya “Kenapa? Kamu sedih? Sedih kenapa?” dsb, untuk membantu anak-anaknya mengenali emosi dan kemudian mencoba memberikan saran untuk menyelesaikannya. Katanya, sebelum bisa “mengajari” anak-anak untuk mengenali emosi-emosi itu, orang tua juga harus jujur pada diri sendiri, mengenali emosinya sendiri dan tidak sok “cool” di depan anak-anak. Intinya, jika ibunya marah atau sedih atau kecewa, bilang saja, tidak usah disembunyi-sembunyikan.
R for Reframing
Reframing yang dimaksud di sini adalah melihat segala sesuatu dari beberapa sisi, dan itu tugas orang tua untuk mengajarkan ke anak-anak. Contoh yang dilakukan orang-orang di Denmark:
“Mama, si A itu nakal, dia merebut mainan aku” Orang tuanya tidak akan langsung marah-marah sama si A karena anaknya bilang begitu. Tapi orang tuanya harusnya bertanya
“Emang iya gitu dia nakal? Kan pernah juga dia baik sama kamu, emang menurutmu dia selalu nakal?”
“Dia pernah baik sih, dia pernah juga ngasih aku permen”
“Nah, itu, dia juga kadang baik. Kamu nanya ga kenapa dia merebut mainan kamu? Terus kamu bilang ga sama dia kalo kamu ga suka mainannya direbut?”
“Ga sih, aku langsung marah-marah dan pergi”
“Nah, lain kali kalo dia merebut mainan kamu, kamu gimana?”
“Aku mau bilang ke dia, jangan, ini aku lagi main”
“Nah, gitu aja, atau kamu ajak dia main bersama-sama gimana?”
Reframing atau melihat sesuatu dari berbagai sisi udah diajarkan sejak kecil di Denmark, jadi orang-orang Denmark dikenal sebagai orang-orang yang “Realistic Optimist”, artinya
mereka optimis tapi mereka juga lebih realistis, terutama dalam menghadapi tantangan hidup.
E for Empathy
Anak-anak di Denmark, diajarkan untuk selalu berempati pada orang lain. Tidak hanya di
rumah, bahkan di sekolah mereka juga punya banyak kegiatan untuk melatih empathy sejak dini. Salah satu pilar yang diajarkan orang-orang Denmark pada anak-anaknya adalah, tidak menjudge anak-anak mereka sendiri, anak-anak orang lain, anak-anak dari keluarga lain dan siapapun.
N for No Ultimatums
Orang tua di Denmark mendidik anak-anaknya tanpa memberi ancaman-ancaman. “Eh kamu, udah dibilangin jangan berisik, awas mama cubit”
“Kamu bisa rapi ga sih? Dibilangin dari tadi suruh rapiin mainan, ga dirapiin juga, mau dibuang aja mainannya?” Jadi baiknya bagaimana supaya tidak pakai ancaman?
- Stay calm dan ingat-ingat apa yang benar-benar ingin diajarkan ke anak-anak. Ajarkan pelan- pelan, kalau pertama belum mau, ingatkan lagi tapi jangan terlalu dipaksa. Ingatkan terus nilai-nilai yang ingin diajarkan.
- Berikan jalan keluar, hindari power struggles.
- Jelaskan aturan-aturan yang harus dipatuhi anak dan minta mereka untuk mengerti dan mau bekerja sama.
T for Togetherness
Orang-orang Denmark punya kebiasaan untuk selalu berkumpul dengan keluarga sesibuk
apapun mereka. Di akhir hari, mereka akan menghabiskan waktu bersama untuk makan, ngobrol atau sekedar menghabiskan waktu bersama. Selain dengan keluarga sendiri, mereka juga berkumpul dengan keluarga besar. Aturan utama ketika berkumpul dengan anggota keluarga
adalah:
- Matikan HP dan TV dan laptop yang menjadi distraksi!
- Lupakan sejenak masalah-masalah kerjaan, kantor, karena ini waktu untuk keluarga
- Jangan banyak mengeluh
- Siapkan makanan dan minuman untuk dinikmati bersama-sama
- Jangan membicarakan hal-hal yang bisa menjadi perdebatan, misal masalah politik, nanti ada waktunya sendiri
- Jangan membicarakan kejelekan orang lain
- Bercerita dan mengingat-ingat pengalaman-pengalaman seru dan lucu di masa lalu
- Berterima kasih pada anggota keluarga yang ada saat itu
Oleh : Anita Ainun Pratiwi HS (Departemen Pengaderan Sema FEB-UH 2019/2020)