The Courage To Be Dislike
The Courage To Be Dislike
Penulis: Ichiro Kishimi & Fumitake Koga
Penerbit: Diamond, Inc Tokyo
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 323
Buku ini adalah buku terlaris di Asia dengan lebih dari 3 juta copy terjual. Buku ini berisikan analisis psikolog abad ke-19 Alfred Adler bersama Freud dan Jung. Buku ini menggunakan format dialog klasik ala filsuf Yunani. Di buku ini terjadi semacam dialog antara seorang filsuf penyendiri yang tinggal di pinggiran kota yang telah berdiri selama seribu tahun atau lebih seperti itu, dan seorang remaja berusia pertengahan 20-an yang berusaha untuk memenuhi harapan yang diberikan kepadanya oleh keluarganya, teman dan masyarakat secara keseluruhan. Hasil dari upaya-upaya ini tidak menghasilkan
kebahagiaan. Singkatnya, pria ini tidak menyukai dirinya sendiri dan tidak terlalu bahagia. Sepanjang buku, anak itu menjalani transisi dan mendapatkan pandangan baru tentang kehidupan berdasarkan filosofi buku. Percakapan berlangsung selama beberapa hari dan menggunakan cara bicara seperti yang dilakukan para filsuf Yunani kuno sebagai cara untuk menyajikan ide dan perspektif. Saya pikir ini sebenarnya dibuat agar mudah dibaca. Buku ini memiliki prinsip yang sederhana. Menjadi bahagia bukanlah hal yang rumit. Apabila kita berhenti memperdulikan apa yang orang lain pikirkan tentang kita, maka kita akan bahagia. Kita bisa membentuk gaya hidup sejak awal, apakah itu menjadi optimis atau pesimis. Adler mengemukakan gagasan bahwa kita dapat mengubah siapa diri kita pada saat tertentu. Di dalam buku ini disebutkan bahwa sebenarnya kita lah yang membuat dunia ini menjadi rumit. Tetapi jika kita berubah, dunia ini akan terlihat lebih sederhanya. Artinya, Kita bebas dalam menentukan pilihan dan gaya hidup yang kita inginkan. Trauma masa lalu tidak akan menjadi penghalang. Dengan kata lain, hidup kita tidak akan ditentukan oleh pengalaman masa lalu, tapi makna yang kita berikan atas kejadian itulah yang menentukan hidup kita. Persoalannya bukanlah tentang bagaimana dunia ini, tetapi bagaimana kita memutuskan bagaimana cara menjalani hidup. Kadang kita lupa bahwa hidup bukanlah sebuah kompetisi. Apalagi dengan adanya sosial media, semua orang berlomba-lomba untuk pamer kesuksesan. Semua orang ingin terlihat lebih sukses, lebih kaya, lebih pintar di lingkaran sosialnya. Itulah pemikiran yang sempit. Kompetisi yang sesungguhnya tidak melibatkan orang lain. Tetapi, kompetisi yang sesungguhnya adalah untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Kita hanya bisa menjalani hidup kita sendiri. Dalam hal siapa untuk siapa kita menjalaninya, tentu saja,
itu adalah untuk diri kita sendiri. Kita tidak hidup untuk memuaskan ekspektasi orang lain. Maka dari itu, kita tidak bisa memaksa orang lain untuk suka dengan kita. Keberanian untuk bahagia dimulai dengan berani untuk menjadi orang yang tidak disukai. Jangan pernah hidup hanya untuk memuaskan harapan orang lain. Jika mereka tidak suka dengan dirimu, itu adalah urusan mereka. Bukan urusanmu. Ini yang disebut Kishimi sebagai keberanian untuk menjadi orang yang tidak disukai.
Oleh : Wildah Farhaeni Ridha (Departemen Pengaderan Sema FEB-UH 2019/2020)