Tempat Terbaik Di Dunia – Roanne Van Voorst
Tempat Terbaik Di Dunia – Roanne Van Voorst
Roanne van Voorst (1983) adalah seorang antropolog dan penulis buku-buku non-fiksi maupun fiksi. Debutnya diawali lewat Jullie zijn anders als ons: Jong en Allochtoon in Nederland (2010), buku tentang kaum muda imigran di Belanda. Dia meraih gelar doktor dengan predikat cumlaude dari Universitas Amsterdam pada 2014. Penelitiannya tentang banjir di Indonesia melahirkan buku akademis Natural Hazards, Risk and Vulnerability: Floods and Slum Life in Indonesia (2015) serta kisah pengalamannya dalam versi populer De beste plek ter wereld: Leven in de sloppen van Jakarta (2016). Roanne juga pendiri Fearlessly Fearful, platform daring untuk melatih peserta agar menjalani hidup dengan lebih berani. Sendirinya seorang pemanjat tebing, ia menerbitkan wawancaranya dengan para pemanjat kelas dunia tentang cara mengatasi ketakutan dalam Fear! Extreme Athletes on How to Reach Your Highest Goals and Overcome Fear and Self Doubt (2018). Sedangkan karya-karya fiksinya adalah De verhuizing (2015) dan Lief van je (2018).
Tempat Terbaik di Dunia adalah salah satu non fiksi terbaik yang pernah saya baca, karena penulis mengantarkan si pembaca untuk mengetahui kehidupan yang ada di perkampungan kumuh (bantaran kali) dari disertasi di ubah menjadi narasi yang sangat mudah di pahami. Roanne datang ke Jakarta untuk melakukan penelitiannya dalam hal penanganan banjir yang terjadi khususnya di Bantaran Kali.
Roanne bertemu dengan pemerintah untuk membuat izin penelitiannya tetapi Roanne ragu karena penelitian yang dilakukan berada di Kawasan Kumuh Jakarta, Kebanyakan orang menganggap bahwa di perkampungan kumuh Bantaran Kali pastilah warganya tidak menyenangkan, tidak kooperatif, dan kriminal. Kemudian Roanne menyusuri tempat itu dan tinggal bersama mereka selama setahun lamanya, untuk bisa mengenal warga Bantaran Kali lebih jauh (dan akhirnya bisa menceritakan semuanya kepada dunia luar). Di sana mereka hidup berdampingan dengan damai dan saling membantu, beberapa kali ada kejadian dan cerita lucu, tak jarang juga bergotong-royong menghadapi banjir musiman yang selalu melanda Jakarta.
Banjir sering sekali terjadi karena perumahan berada di samping sungai, dan alat pendeteksi banjir yang diberikan pemerintah cepat rusak sehingga masyarakat sulit mengetahui kapan banjir datang. Listrik yang dipakai warga perkampungan kumuh itu illegal, warga menyambung langsung di tiang listrik sehingga sering terjadi koslet yang mengakibatkan kabakaran. Suatu hari warga mengalami kebakaran diakibatkan oleh kosletin listrik, rumah yang di bangun terbuat oleh asbes kardus bekas dan kayu jadi mudah terbakar. Akses pemadam kebakaran sulit mengjakau perkampungan kumuh karena jalanan yang sempit sehingga warna hanya mengambil air di sungai untuk memadamkan api.
Warga perkampungan kumuh sangat sulit mengakses kesehatan karena biaya yang sangat tinggi dan masyarakat minim mengetahui prosedur yang ada di rumah sakit. Warga tidak percaya terhadapat rumah sakit karena berbagai pengalaman yang pernah di alami.
Pengalaman Roanne selama satu tahun hidup di sana menunjukkan bahwa warga bantaran kali hanyalah orang-orang biasa, dengan beragam persoalan hidupnya. Tidak seburuk anggapan para pejabat atau politisi, tapi juga tidak sepositif teori para ahli sosial yang kelewat romantik. Meski begitu Roanne mencatat, kerapkali warga bantaran kali tidak mendapat kesempatan yang sama dalam masyarakat.
Roanne mengkritisi banyak hal lewat buku ini. Antara lain, perihal tidak adanya sistem peringatan dini saat banjir, tingginya angka kebakaran di kampung kumuh, kemelaratan luar biasa, pelayanan kesehatan yang diskriminatif, ancaman penggusuran, kurangnya hunian terjangkau untuk warga miskin, serta maraknya korupsi di Indonesia.
Mengenai tempat terbaik di dunia yang sekarang tak ada lagi karena sudah digusur oleh pemerintah, diratakan oleh buldozer kuning raksasa.
#TOLAKPENGGUSURAN
Oleh : Muhammad Zulfiqry ( Wakil Ketua Umum Sema FEB-UH 2019/2020)