Novel Pulang( Tere Live)
Novel Pulang( Tere Live)
Judul buku : Pulang
Penulis : Tere Liye
Editor : Triana Rahmawati
Penerbit : Republika Penerbit
Tebal buku : iv + 400 hal. ; 13.5 x 20.5 cm
Kota terbit : Jakarta
Tahun terbit : November 2015 cetakan VIII
Pertama kali liat judulnya kesan Saya adalah ini sepertinya buku mengenai sebuah
perjalanan, mungkin perantauan, dengan konflik batin dan emosional di dalamnya, mengenai keluarga atau tentang cinta. Dan ternyata agak berbeda dari apa yang Saya pikirkan. “Pulang” novel karya TERE LIYE ini bertemakan tentang perjuangan perjalanan pulang seorang Bujang, tokoh utama dalam novel ini memegang kendali yang berperan besar dalam bidang shadow economy (ekonomi bayangan atau biasa disebut usaha gelap/ilegal). Banyak tokoh penyusun cerita yang membawa novel menjadi satu kesatuan cerita yang utuh, menggambarkan dengan baik karena didukung dengan watak yang diberikan penulis sendiri. Berikut tokoh-tokoh beserta penokohan yang disebutkan dalam novel:
- Bujang (Si Babi Hutan, Agam) sebagai tokoh utama, diceritakan dalam novel Si Babi Hutan tak punya rasa takut, mandiri, serta pemberani.
- Samad sebagai Bapak dari Bujang. Sifatnya keras, keras kepala, dan pemberani.
- Midah sebagai Mamak Bujang dengan sifat penuh kasih sayang dan taat agama.
- Tauke Muda / Tauke Besar sebagai Pimpinan keluarga Tong meliki sifat keras. Tauke Besar menjadi sosok yang dihormati karena pemimpin yang adil dan bijaksana.
- Kopong sebagai kepala tukung pukul keluarga Tong. Kopong sangat setia kepada Bujang dan merupakan salah satu kepercayaan Tauke, bahkan hingga mati pun tetap pada pendiriannya bersama Keluarga Tong. Banyak juga tokoh yang dapat dijumpai membuat pembaca pun dijadikan sulit karenanya, banyak dintaranya menggunakan nama yang jarang digunakan, sehingga susah pula untuk diingat. Namun, nama yang diberikan penulis memenuhi watak yang dibayangkan. Tokoh- tokoh ini mendukug jalannya cerita diantaranya Basyir yang menjadi sahabat Bujang setelah Bujang menetap di provinsi. Kemudian Mansyur, orang kepercayaan Keluarga Tong dengan posisi kepala keuangan dan logistik, tugasnya menutupi kejanggalan dari dampak aksi-aksi yang dibuat Keluarga Tong karena bisnis yang dijalankan Keluarga Tong merupakan bisnis ilegal.
Di buku ini memiliki alur maju mundur dengan sudut pandang orang pertama, jadi di buku ini narasinya datang dari karakter utama yaitu Bujang. Perjalanan ceritanya dimulai dari datangnya Tauke Muda ke kampung Bujang untuk membantu Samad (Bapaknya Bujang) memburu Babi Hutan, dari sanalah petualangan Bujang di mulai. Setelah itu, Bujang yang tidak mengetahui bahwa Samad ini punya sejarah hitam yang membuat dia harus ikut oleh Tauke Muda, sudah menjadi perjanjian dan itu tidak bisa di hindari walaupun sang Mamak menolak mentah-mentah. Nah selanjutnya kita dikenalkan dengan rahasia yang Bujang gak pernah tahu, bahwa Samad dulunya adalah bagian dari suatu organisasi hitam atau dikatakan Keluarga Besar, dengan nama Keluarga Tong. Mereka ini adalah salah satu penguasa shadow economy, suatu konsep ekonomi dibawah dunia hitam, ekonomi haram. Keluarga ini ceritanya sudah turun temurun dan dari generasi ke generasi jika pimpinannya dinamakan Tauke Besar, tapi sebenarnya tidak ada yang namanya Tong di keluarga ini. Nah Bujang ini akhirnya dibawa Tauke Muda ke kota untuk bergabung juga dalam keluarga ini. Cerita berlanjut ke bagaimana menceritakan masa lalunya ketika Bujang mulai beradaptasi dengan Keluarga Tong dan mengerti apa itu konsep shadow economy serta bagaimana proses Bujang menjadi “penyelesai masalah” nomer satu di Keluarga Tong, bukan cuma sebagai tukang jagal atau tukang pukul yang hanya menggunakan fisik, tapi juga bisa berdiplomasi dengan intelegensi yang Bujang punya. Kita diperkenalkan dengan beberapa karakter yang selama ini juga membantu dan menjadi guru bagi Bujang, dari mulai akademis, menembak, pertarungan tangan kosong, bahkan teknik beladiri dari jepang lengkap dengan senjatanya juga di pelajari.
Selain menceritakan bagian masa lalu itu, disini juga secara bersamaan menceritakan kejadian yang sekarang dimana ada konflik antar penguasa shadow economy yang harus diselesaikan oleh Bujang. Bukan hanya masalah dari luar ternyata ada konflik lain yang
ternyata muncul dari dalam, dan mengancam Keluarga Tong ini. Secara plot Saya suka, walau alurnya maju mundur tapi temponya terjaga. Dari awal sampai akhir temponya naik turun dari cepet ke lambat, dan karena ini selang seling dari menceritakan masa lalu kemudian masa saat ini sehingga membuat kita terus penasaran untuk membaca kelanjutannya. Yang menarik dari cerita ini adalah diambilnya tempat penguasa shadow economy, konsep yang baru buat Saya tapi Saya yakin ini sesuatu yang memang ada di dun ia nyata. Aksinya pun seru, bagian yang paling Saya sukai adalah pertarungan di Hong Kong dan momen ketika Bujang membunuh Ketua Keluarga Lin dengan shuriken yang disamarkan menjadi kartu nama. Twist di akhir cerita juga menarik karena tak
disangka-sangka. Disini konflik yang diceritakan pun bukan hanya mengenai konflik antar penguasa, pengkhianatan, tapi juga konflik emosional si Bujang ini sendiri yang baru mengetahui tentang keluarganya. Lewat cerita-cerita dari Kopong, Tauke Besar sendiri, dari Tuanku Imam. Bujang yang selama ini menyimpan kebencian mendalam kepada sang Bapak, tidak menyadari bahwa Bapaknya pun telah banyak merasakan penderitaan. Bahwa hidupnya dengan Midah tidaklah mudah. Sehingga membuat batin Bujang ini selalu bertanya-tanya. Dari karakter menurut Saya cukup solid, Bujang sebagai karakter disini mengalami perkembangan karakter yang sangat baik dari awal hingga akhir, sempat skeptis karena di awal terlihat Bujang tampak seperti manusia sempurna, pintar, cepat dalam belajar dan memahami sesuatu, dan jago berkelahi, terlebih lagi ia tidak punya rasa takut. Jago berkelahi mungkin memang sudah ada dalam darahnya, tapi pintar? Dari mana datangnya? Ya walau disini dikatakan datang dari Mamaknya, tapi kepintarannya melebihi apa yag orang lain pikirkan. Namun dari kesan kesempurnaan ini, ternyata Bujang tetap punya kelemahan dan itu adalah ketika keluarganya tiada dan juga ketika penghianatan terjadi dan Keluarga Tong hampir di habisi. Disini terlihat Bujang masih seperti selayaknya seorang anak yang sebenarnya peduli dan terpukul mendapat kabar jika orang yang ia sayangi meninggalkannya. Juga disaat pengkhianatan terjadi, rasa takutnya kembali. Saya juga suka dengan karakter pendukung di cerita ini apalagi yang masuk kedalam tim terbaik versi Bujang, karena mereka adalah orang yang pernah punya hubungan masa lalu dengan Keluarga Tong. Kiko dan Yuki yang merupakan cucu Guru Bushi dan White yang adalah anak dari Frans. Bahkan Salonga pun punya hubungan dengan Tauke Besar terdahulu. Orang-orang terbaik yang setia kepadaku. Seperti yang pernah kubilang sebelumnya, di Keluarga Tong semua orang memiliki kelindan sejarah dengan masa lalu (hal. 116)
Yang menarik pastinya Tere Liye selalu memasukan unsur islami ke dalam buku-bukunya,
termasuk di novel ini. Walau Saya menemukan permintaan yang diberikan oleh Mamaknya Bujang itu tanggung, jangan minum / makan yang haram, kenapa tidak sekalian minta Bujang berjanji juga untuk tidak membunuh? Pada akhirnya penyelesaian dari konflik ini adalah bukan hanya lewat kemenangan melalui pertempuran fisik melawan musuh, tapi disini juga dengan pertempuran hati, berdamai dengan diri sendiri.
“Ketahuilah Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapapun. Hidup ini hanya
tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran” (hal. 340) “Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja.” (hal. 387)
“Saat itu terjadi, kau telah pulang, Bujang. Pulang pada hakikat kehidupan. Pulang,
memeluk erat semua kesedihan dan kegembiraan.” (hal. 388) Inilah definisi PULANG dari Bujang.
Oleh : Saskiah Khaerunnisah Zali ( Departemen Kesekretariatan Sema FEB-UH 2019/2020)