Air Mata Surga
Air Mata Surga
Penulis : E. Rokajat Asura
Dalam menjalani kehidupan tidak ada seorang pun yang mau hidup serba kekurangan
seperti fisik, keluarga, kesehatan, dan lain sebagainya. Karena hal tersebut dianggap sebagai penghalang dalam beraktivitas. Akan tetapi hal tersebut tidak dapat kita pungkiri, karena setiap manusia telah ditetapkan oleh Allah SWT akan empat hal yaitu rezki, ajal, amal, dan celaka atau bahagia.
Sebagaimana yang terjadi pada kehidupan gadis kecil bernama Baraah, yang berjuang antara hidup dan mati melawan kanker osteosarcoma atau kanker pada lutut (tungkai) yang biasanya banyak terjadi pada usia 10-20 tahun yang menyebabkan kaki kirinya harus diamputasi. Baraah juga memiliki kelebihan kecerdasan audiotorial dengan suara yang indah sehingga hal itu lah yang membuatnya berkeinginan menghafal al-qur’an. Baraah Sameh Gadis Baraah kisah gadis kecil asal mesir berumur 10 tahun bernama Baraah, orangtuanya dokter dan pindah ke Arab Saudi untuk mencari kehidupan yang lebih
baik. Pada usia ini, Baraah menghafal seluruh Al Qur’an dengan tajweed, dia sangat cerdas dan gurunya mengatakan bahwa dia sudah maju untuk anak seusianya. Keluarganya sederhana dan berkomitmen untuk Islam dan ajaran-ajarannya, hingga suatu hari ibunya mulai merasa sakit perut yang parah dan setelah beberapa kali diperiksakan diketahuilah ibu baraah menderita kanker, dan kanker ini sudah dalam keadaan stadium akhir/kronis. Ibu baraah berfikir untuk memberitahu putrinya, terutama jika ia terbangun suatu hari dan tidak menemukan ibunya di sampingnya, dan inilah ucapan ibu baraah kepadanya “Baraah aku akan pergi ke surga , tapi aku ingin kamu selalu membaca Al-Quran dan menghafalkannya setiap hari karena Ia akan menjadi pelindungmu kelak “ Gadis kecil itu tidak terlalu mengerti apa yang ibunya katakan, tapi dia mulai merasakan perubahan keadaan ibunya, terutama ketika ia mulai dipindahkan ke rumah sakit untuk waktu yang lama. Gadis kecil ini menggunakan waktu sepulang sekolahnya untuk menjenguk ibunya ke rumah sakit dan membaca Quran untuk ibunya sampai malam sampai ayahnya datang dan membawanya pulang. Suatu hari pihak rumah sakit memberitahu ayah baraah bahwa kondisi istrinya itu sangat buruk dan ia perlu datang secepatnya, melalui telfon, sehingga ayah baraah menjemput Baraah dari sekolah dan menuju ke rumah sakit. Ketika mereka tiba di depan rumah sakit ayahnya memintanya untuk tinggal di mobil, sehingga ia tidak akan shock jika ibunya meninggal dunia. Ayah keluar dari mobilnya, dengan penuh air mata di matanya, ia menyeberang jalan untuk
masuk rumah sakit, tapi tiba-tiba datang sebuah mobil melaju kencang dan menabrak ayah baraah dan ia meninggal seketika di depan putrinya itu, tak terbayangkan tangis gadis kecil ini pada saat itu!
Tragedi Baraah belum selesai sampai di sini, berita kematian ayahnya yang disembunyikan dari ibu baraah yang masih opname di rumah sakit, namun setelah lima hari semenjak kematian suaminya akhirnya ibu baraah meninggal dunia juga. Dan kini gadis kecil ini sendirian tanpa kedua orangtuanya, dan dengan bantuan teman-teman ayahnya untuk mencarikan keluarga di Mesir, sehingga keluarganya bisa merawatnya. Tak berapa lama tinggal di mesir gadis kecil Baraah mulai mengalami nyeri seperti yang pernah dialami ibunya, dan oleh keluarganya ia lalu di periksakan, setelah beberapa kali tes di dapati baraah juga mengidap kanker, tapi sungguh mengejutkan kala ia di beritahu kalau ia menderita kanker, inilah perkataan baraah kala itu: “Alhamdulillah, saya akan bertemu dengan kedua orang tua saya.” Semua teman-teman dan keluarga terkejut. Gadis kecil ini sedang menghadapi musibah yang bertubi- tubi dan dia tetap sabar dan ikhlas dengan apa yang ditetapkan Allah untuknya. Hari-hari terlewati dan kanker mulai menyebar di seluruh tubuhnya, para dokter memutuskan untuk mengamputasi kakinya, dan ia tetap bersabar dengan apa yang ditetapkan Allah baginya, tapi beberapa hari setelah operasi amputasi kakinya sekarang kankernya menyebar ke otak, lalu dokter memutuskan untuk melakukan operasi otak. Ketabahannya dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan musibah yang datang silih berganti menghantam dirinya, namun hal itu tidak menjadi penghalang untuk tetap menghafal kitab suci. Kecintaannya terhadap hafalan ayat-ayat al-qur’an mematahkan segala aura negatif yang akan memburunya, karena ia masih dalam usia dini. Kenginan Baraah menjadi penghafal al-qur’an sangatlah kuat, tampak ia selalu berbagi lembaran ayat al-qur’an yang dihafal kepada temannya, Dinia. Baraah juga berkeinginan untuk dapat berkeliling dunia untuk membagikan lembaran hafalannya kepada seluruh anak yang ada di dunia. Agar para penjaga kitab suci makin
banyak lagi sebab penghafal itu adalah penolong agama Allah, karena barang siapa menolong agama Allah maka ia akan ditolongnya. Subhanallah….
Novel Karangan E. Rokajat Asura ini merupakan inspired by true story (kisah nyata)
gadis kecil, Baraah yang memiliki motivasi instrik serta tekad sekuat baja sehingga ia mampu menghadapi segala aral melintang dalam mewujudkan keinginannya menjadi penghafal al- qur’an, didukung lantunan suara yang merdu selalu membuat orang terkesima mendengarnya. Selain itu bahasa yang digunakan mudah dipahami, adapun yang membuat novel ini berkesan karena disajikan kalimat yang sangat renyah. Tidak hanya itu, novel ini berhasil memainkan
perasaan pembacanya, jadi dapat dibaca bagi siapa saja tanpa terkecuali. Jadi dengan menghafal al-qur’an akan menjaga kita di dunia maupun di akhirat
“Kisah tentang baraah, gadis kecil yatim piatu yang berjuang melawan kanker ini, seakan-akan menampar saya : semangat hidupnya, kecintaannya pada hafalan kitab suci,
kebaikan hatinya untuk berbagi, ketabahnnya yang menembus batas. Baraah tak perlu menjadi sedikit dewasa/ matang/ tua untuk ‘menasihati’ saya, bahkan dengan kekhasan kanak-kanaknya itu, baraah berhasil membuat saya terhenyak berkali-kali. Lebih dari itu, ending-nya membuat saya bertanya-tanya, ini kisah nyata atau fiksi ya? Penulis sukses mempermainkan emosi pembaca”
Oleh : Wahyuni Anita Sulpa ( Departemen Humas Sema FEB-UH 2019/2020)