A Brief History

Penulis : Stephen hawking
Tahun terbit : 2017

Niat awal mendapatkan buku ini adalah bahwa saya ingin membuktikan, apa betul mempelajari fisika lebih jauh akan menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada. Mungkin banyak yang sudah tahu bahwa Stephen Hawking seorang ateis. Saya penasaran, teori atau hukum fisika macam apa yang ditemukan Hawking yang membuatnya tetap meyakini ketiadaan Tuhan; apakah sungguh temuan ilmu pengetahuan yang benar akan menjauhkan kita dari Sang Kebenaran. Dan inilah yang saya dapatkan dari A Brief History of Time: Hawking adalah sosok yang sungguh-sungguh tulus mencintai ilmu fisika. Memang teori-teorinya kompleks, bahkan untuk golongan buku yang konon ia tulis sebagai bacaan ringan. Tetapi cara Hawking menguraikan, bahkan menyelipkan gurauan renyah sebagai analogi, menggambarkan seorang profesor yang tengah menghayati sisi kanak- kanaknya. Ia bermain, menjelajah, dan bercerita dengan semangat. Ia menulis bukan seperti seorang dosen angkuh yang merasa tahu semuanya, melainkan seperti anak kecil yang ingin membuat karya terbaik untuk dipersembahkan kepada sang ibu. Sikap itu menjadikan Hawking seorang pencari kebenaran yang sejati. Dan Anda tahu? Benang merah dalam buku ini adalah perburuan satu rumus besar yang dapat menjelaskan seluruh alam semesta. Hawking percaya bahwa ada satu rumus, satu hukum, yang dapat menyatukan semua rumus dan hukum fisika, dari luar angkasa hingga partikel atom terkecil. Ia menamakannya Teori Terpadu Agung (Grand Unified Theory). Nah, sampai di sini, tidakkah Anda melihat betapa ia sesungguhnya sedang mencari Tuhan? Hawking sendiri berjasa menyatukan dua teori raksasa dalam fisika modern, yakni teori relativitas umum dan teori mekanika kuantum. Namun pekerjaan belum selesai. Belum ada yang dapat menyatukan teori relativitas kuantum dengan teori gravitasi. Hawking menyebutnya teori gravitasi kuantum, dan ia percaya solusinya terletak dalam pemecahan misteri lubang hitam. Ke sanalah arah perkembangan fisika kini. Nah, kita masih belum tahu apa yang berlangsung di pemikiran Hawking selama ia hidup. Mengapa hasil kerja akal budinya yang luar biasa tidak juga memercik api iman? Ya tentu ini bukan porsi kita untuk menjawabnya. Lagipula, iman adalah rahmat, datangnya dari kemurahan hati Tuhan, bukan dari jasa manusia. Tapi saya pribadi sungguh miris. Professor, you were soooo close to finding Him, just a little bit more!

Ah, tapi siapa tahu, mudah-mudahan, di detik-detik terakhir hidupnya, Tuhan berkenan mewahyukan Teori Terpadu Agung itu, yakni diri-Nya sendiri, yang selama ini ditelisik dengan penuh cinta. Bila benar demikian, tentulah hari itu menjadi hari paling bahagia bagi seorang Stephen Hawking.

Oleh : Ahmad Suhaeli Wardana ( Departemen Kesekretariatan Sema FEB-UH 2019/2020)

Add a Comment

Your email address will not be published.