Hubungan Lipstick, Manusia , dan Sapi
Hubungan Lipstick, Manusia , dan Sapi
“ Masalah lipstick malaikatku obsesif, kompulsif
Tiga lapis warna bagaikan melukis di-kanvas…
Lyric lagu di atas sepintas memantik ingatan kita terkait gejala-gejala manusia yang sering kita jumpai di sekeliling rumah, pasar, kampus, tempat kerja, dll. Yap betul, anak cucu Adam yang sedang memasang riasan pada wajahnya; tangan kanan memegang lipstick dan tangan kiri memegang cermin, yang perlahan mulai mendekatkan lipstick ke arah bibirnya dan diusapkannya dengan penuh semangat. Fenomena diatas seolah akan selalu menjadi bumbu pelengkap masyarakat urban ketika ingin mengisi “panggung depan” kehidupan (baca: dramaturgi), karena tak bisa dipungkiri hampir sebagian besar wanita usia produktif di dunia saat ini menyisipkan lipstick pada tasnya dan laki-laki adalah sebagian yang lainnya. Pertanyaannya, mengapa kita memerlukan lipstick? J
Lipstick sejak awal keberadaannya sudah menegaskan bahwa lipstick adalah penanda kelas sosial bagi siapa saja manusia yang menggunakannya; adalah masyarakat Mesir kuno yang pertama kali memperkenalkan ekstrak tubuh serangga cochineal yang dapat digunakan sebagai pewarna kemerah-merahan pada bibir yang dalam kelanjutannya dijadikan tanda untuk mengklasifikasi golongan kelas tinggi, dalam konteks ini adalah golongan kerajaan, seperti the sun-god’s daughter Cleopatra.
Lipstick terus mengalami perkembangan dalam proses produksinya, namun makna yang terkandung dalam lipstick itu sendiri hampir tidak berubah untuk setiap yang memakainya. Lipstick saat ini tetap menjadi penanda akan “berkelas”nya seseorang. Masyarakat mesir kuno diatas dapat memberikan kita isyarat bahwa era firaun (Ptolemy XII, ayah cleopatra) yang menjadikan lipstick sebagai sesuatu yang terbatas hanya untuk golongan kerajaan dan yang lainnya adalah budak, dalam perkembangannya, makna ini masih bisa kita rasakan sampai sekarang, hanya saja dalam bentuk yang sedikit berbeda. Dalam perkembangannya lipstick tidak lagi menjadi sesuatu yang sulit didapatkan, artinya lipstick telah mengalami pergeseran dari sisi akses, Namun mengapa lipstick bisa mengalami pergeseran?, dan bagaimana dengan kelas sosial dan perbudakan?
Adalah kapitalisme yang lahir sebagai sebuah sistem untuk mempermudah manusia mendapatkan apa yang menjadi keinginannya, sekaligus merekonstruksi pikiran untuk melihat apa yang sebelumnya menjadi keinginan menjadi sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi (Baca: konsumerisme). Semakin banyak modal yang terakumulasi, maka semakin banyak barang yang bisa dikonsumsi, termasuk lipstick itu sendiri. Namun sayangnya sistem ini tidak memberikannya dengan cuma-cuma, setiap individu diharuskan untuk mengasingkan diri dari anak, ayah, ibu, tetangga, dsb.
Setiap manusia saat ini akan bekerja dengan sangat keras untuk mendapatkan apa yang sebelumnya tidak dapat dimilikinya. Pola pikir pun berubah, dari sebelumnya hanya menjadikan makan dan minum sebagai kebutuhan utama, lipstick kini juga berubah menjadi sesuatu yang harus ada. Tanpa disadari kita sudah kembali ke era perbudakan firaun, bahkan jauh lebih terpuruk.
Kapitalisme telah menjadi sistem untuk membentuk firaun yang baru. Setiap manusia yang tidak memiliki banyak modal, dengan pola konsumerisme yang sengaja ditanamkan pada kepala setiap individu, akan disiksa secara kemiskinan, kebodohan dan kesengsaraan yang berkepanjangan. Lipstick memang mudah diakses, namun perbudakan babak baru telah dimulai. Pola pikir konsumerisme akan membuat manusia berkesimpulan bahwa lipstick sama berharganya dengan makanan, yang pada kelanjutannya lebih baik tidak makan daripada tidak memakai lipstick.
Kapitalisme telah membentuk subjek (para pemilik modal). Subjek telah membentuk objek yang tak mampu bersaing dengan subjek dan subjek telah menjadikan lipstick sebagai komoditas sekaligus tanda untuk menandai nomor punggung pada manusia yang siap diperah dan disembelih layaknya sapi perah. Jika mesir kuno menyiksa budaknya dengan cambukan maka saat ini kita diperbudak oleh sebuah produk.
Sungguh tak penting, aku tak ingin, siapa peduli, lipstick warna pink
Sungguh tak penting, aku tak ingin, yang aku ingin ia telanjang” (Jason Ranti – Variasi pink)
oleh : AR