Puisi Pemenang Writing.com3 “Senja Menua”

Wahai para pengendali senja

Langit telah gemerlap bak malam tiada siang

Segelintir harapan telah usang

Ditelan parasnya Sang penguasa alam

Wahai para pengendali senja

Sudahkah kamu berbuat adil?

Dengan senja yang mulai menua

Terpontang-panting mencari kebebasan

Wahai para pengendali senja

Langit ingin kekuasaan, kebebasan yang nirwana tanpa adanya kelabu

Tapi penguasa menolaknya, menjadikannya seperti abu

Tidakkah kamu mengerti?

Camar ingin senja, begitupulah dengan si Gajah

Hak mereka dirampas bagai jalan politik keji ini

Camar dan gajah menjerit kesakitan, merongrong sekeras mungkin

Namun, penguasa tidak melihatnya, mendengarnya…

Bijaklah dalam melukis senja

Bukan untuk diri kau sendiri, kantongmu pun tidak membutuhkannya

Kenikmatan seperti biduan yang bernyanyi

Seperti aktor yang berada di atas panggung

Kebebasan direnggut bagaikan anarkisme yang adil

Jalan menuju senja yang cemerlang hampir hilang ditelan sabdanya

Embun-embun memancarkan seringaian kokoh

Seperti kotoran yang bersemayam di pabrik sabun

Senja menangis, menjerit seperti palu kehilangan pakunya

Tidak ada yang mendengarnya

Bahkan Camar dan Gajah hanya melihatnya bersedih

Untaian awan yang kini menghilang

Wahai para pengendali senja,

Tahukah kamu?

Hanya engkau yang mampu menahan senja menua

Menua seperti malam, gelap gulita tanpa harapan

Oleh : Fadel Dwi (Ilmu Ekonomi,2017)

Add a Comment

Your email address will not be published.