Karangan bunga dan awal ketandusan diri.
Karangan bunga dan awal ketandusan diri.
Karangan bunga dan awal ketandusan diri
Karangan bunga selalu saja menjadi bagian yang penting untuk mengisi penanda kesenangan, maupun kedukaan suasana hati dan biasanya, mengisi ceremonial kegiatan sekali seumur hidup. Pagi ini saya memasuki kampus dan melihat karangan bunga (kembali) berjejer. Disisi bawah karangan bunga itu nampak jelas menandakan darimana karangan bunga itu berasal (nampaknya dari instansi swasta). Di sisi tengah karangan bunga itu bertuliskan kata yang hampir seragam, yakni “selamat kepada” dan dilanjutkan dengan nama yang “diselamatkan”. Nampaknya karangan bunga ini menjadi penanda kebahagiaan. Karangan bunga yang sengaja ditujukan kepada sarjanawan muda yang baru saja menyelesaikan program sarjananya.
Mahasiswa dan kelulusan, kelulusan dan kebanggaan merupakan 2 keterkaitan dari tiga entitas yang berbeda, namun secara jejak hampir sulit untuk dipisahkan. Mahasiswa program sarjana dan sejenisnya dengan batasan durasi 7 tahun (lihat Permen no. 44 tahun 2015) dalam berkuliah merupakan peraturan yang kembali mencoba menjadi penanda adanya koridor waktu maksimal yang harusnya dihindari oleh mahasiswa. Semakin lama mahasiswa berada di kampus seolah menjadi stigma yang negatif dalam kalangan masyarakat yang konservatif.
Sudut pandang konservatif melekat pada mayoritas masyrakat yang memandang berkuliah hanyalah sebuah batu loncatan untuk kembali menjerumuskan diri pada lingkaran setan dunia kerja. Dari stigma inilah kelanjutannya melahirkan sebuah paradigma “tepat waktu” yang melihat mahasiswa lulus tidak dekat dengan digit ketujuh tahun perkuliahannya. Mahasiswa tepat waktu seolah akan menjadi momok atau narasi yang siap dibacakan oleh siapa saja dan kebanyakan berujung kepada kekeliruan memandang substansi pendidikan itu sendiri.
Pendidikan tidak lagi dilihat menjadi sebuah wadah yang dapat membantu berpikir secara kritis. Pendidikan tidak lagi dilihat menjadi ajang bergensi yang seharusnya dapat membantu pola pikir menjadi holistik. Pendidikan tidak lagi dilihat sebagai ajang merumuskan segala permasalahan sosial yang terjadi di sekitar. Pendidikan pada akhirnya dinarasikan sebagai pabrik pencetak ijazah yang siap mengisi individu yang individualis.
Lulus tepat waktu bukanlah menjadi sesuatu yang salah ketika ketepatan waktu itu dapat menjadi identifikasi diri, bahwa diri sudah siap berada dalam masyrakat. Sudah siap berada dalam masyarakat berarti sudah siap berkorban untuk masyarakat atas pengetahuan yang diperoleh. Artinya pengetahuan yang diperoleh haruslah bersifat mapan dulu untuk setidaknya menjaga diri untuk tidak terbawa arus egoistik dan mampu bergerak secara sosial untuk menyelesaikan persoalan-persoalan dalam masyarakat. Jangan sampai symbol karangan bunga itu hanya mati sia-sia terbawa dalam selimut ketandusan diri yang tidak sama sekali bermanfaat.
oleh : AR