Brief Review Buku “Kelakuan orang kaya”

Puthut EA merupakan seorang sastrawan dan peneliti yang berkebangsaan Indonesia. Beliau lahir di Jawa Tengah pada 28 Maret 1977.  Beliau telah menghasilkan banyak karya berupa tulisan-tulisan yang dibukukan baik fiksi maupun non fiksi. Salah satunya adalah buku dengan judul “Kelakuan Orang Kaya” yang diterbitkan oleh Mojok pada tahun 2018.

Buku ini berisikan 55 cerita ringkas, bukan cerita pendek apalagi novel. Pada bagian pengantar penulis, Puthut menjelaskan bahwa kumpulan ringkasnya ini semcam cerpen yang beberapa unsurnya dia hilangkan. Hal ini terbukti bahwa disetiap cerita ringkas yang ada dalam buku ini hanya terdiri dari 1,5 – 6 halaman saja untuk setiap cerita ringkasnya. Terlepas dari cerita ringkasnya yang hanya terdiri dari beberapa halaman saja, Puthut selalu berhasil untuk menyampaikan pesan ceritanya. Dari 55 cerita tersebut, ada beberapa cerita yang menjadi cerita favorit saya, yaitu kiash rio, tukang getek, tanjakan batu, sujud dan syukur, tiga murid, dan hukuman.

Buku ini mengisahkan tentang kelakuan-kelakuan orang kaya yang mampu mengganggu pikiran dan perasaan kita.. Sama seperti apa yang tertulis pada sampul halaman buku ini. Menurut saya buku ini bukan hanya mengenai orang kaya terkait materi namun hati juga Cerita-cerita ringkas yang ditulis oleh Puthut dalam buku ini  mampu membuat kita untuk berefleksi mengenai perilaku kita sehari-hari dan melihat apakah kemudian kita termasuk dalam orang-orang yang diceritakan Puthut dalam bukunya ini?

Salah satu ceritanya yang berjudul tiga murid menceritakan tentang tiga orang murid dari seorang kiai bernama Kiai Mukidi yang mengalami perubahan besar setelah kiai mereka wafat. Hal itu membuat warga kampung menjadi heran. Terlebih murid ketiga yang mengalami perubahan paling mengecangkan. Murid ini dikenal pandai dalam berbicara, sering diundang ceramah, dan gemar membuat status di facebook terkait ceramah-ceramah dan sering mendapat ribuan like dari orang-orang. Namun kini, murid tersebut selalu mabuk-mabukan di jalan desa dan nongkrong di kedai arak. Alasan itu yang kemudian membuat salah satu sahabat kiai mereka, Haji Ahmad mengundang mereka bertiga untuk makan malam untuk menanyakan perubahan tersebut.

Murid ketiga kemudian menjawab bahwa sebelum Kiai Mukidi meninggal dia dipanggil oleh Kiai Mukidi dan dibisikkan sebuah kalimat, “kesombongan itu datang dengan cara yang sangat lembut..”. Murid ketiga kemudian menangis dan menyadari bahwa selama ini ketika dia rajin membaca, pikirannya adalah untuk menjadi pintar. Kepintaran itu kemudian yang dia gunakan untuk berbicara di depan banyak orang dan facebook dan ketika dia mendapatkan pujian maupun tepuk tangan dia makin rajin membaca agar menjadi pintar. Hal itu dilakukan agar semakin banyak orang yang kagum padanya karena kealiman dia. Tapi ternyata di lubuk hatinya ada kesombongan. Kesombongan telah menggerakannya untuk melakukan semua itu. Bukan semangat belajar dan memahami dan bukan kesadaran untuk berbagi ilmu.

Hal itu yang kemudian membuat dia menjadi orang yang berbeda saat ini, untuk menghapus pandangan orang-orang tentang dia yang alim dan membuat orang-orang berpikir bahwa dia adalah orang yang hina. Haji Ahmad kemudian menangis, bukan karena kisah murid ketiga tapi dia menangisi dirinya sendiri.

Mari berefleksi!

Add a Comment

Your email address will not be published.