LINTAS BUKU JILID II
LINTAS BUKU JILID II
Judul Buku : Sekolah Itu Candu
Penulis Buku : Roem Topatimasang
Hari, tanggal : 28 November 2018
Jam : 13:00 – 16:30 wita
Lokasi : Pelataran Student Center FEB-UH
Moderator : Yumi Safitri
Notulen : Andi Lisdiani
Lingkar Tadarus Buku (Lintas Buku) merupakan program kerja Departemen Kesekretariatan Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (Sema FEB-UH) periode 2018-2019 yang bertujuan untuk meningkatkan minat membaca anggota Keluarga Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (Kema FEB-UH). Maka, Adapun sasaran dari kegiatan ini adalah anggota Kema FEB-UH. Adapun peserta Lintas Buku Bagian II adalah sebanyak 47 orang.
Secara umum, kegiatan di dalam Lintas Buku terbagi menjadi dua, yaitu taman baca dan diskusi. Taman baca dimulai pada pukul 13:00 wita di pelataran Student Center FEB-UH, sedangkan diskusi buku dimulai pada pukul 16:00 wita di tempat yang sama.
Pada Lintas Buku Bagian II, Taman baca diisi oleh buku-buku perpustakaan Senat Mahasiswa FEB-UH beserta tiga organisasi mahasiswa jurusan (Ormaju) FEB-UH, serta tiga pelapak tamu yang terdiri dari Rumah Nomena, Ibookita dan Komunal Nokturnal. Sedangkan bentuk diskusi dalam Lintas Buku dlilakukan dalam bentuk mengkaji buku secara bergiliran. Yaitu, setiap anggota diskusi akan diberikan satu bagian dalam buku untuk dibaca, kemudian didiskusikan secara bersama di dalam forum diskusi. Pemberian lembaran karya yang akan didiskusikan dimulai pada pukul 13:00 wita atau saat taman baca dibuka.
Lampiran: Notulensi Ngaji Buku Bagian II
Bab 1: Sekolah dari Athena
Diceritakan mengenai asal sekolah muncul dari bahasa yunani sekole “masa senggang/luang” Mengunjungi tempat atau seseorang untuk mempelajari sesuatu yang tidak mereka ketahui. Para orang tua memberlakukan untuk putra-putri mereka. Semakin lama sekolah berkembang dari tempat lembaga pengasuhan anak kemudian berkembang menjadi ibu yang memberikan pengetahuan. Johanes amus yaitu usmu agung, penggagasan pola pengasuhan lebih sistematis, kemudian, yohan hendris: memberikan gagasan lebih terinci yaitu mengatur jenjang pengelompokkan anak . semakin lama dianggap perlu sekole itu sehingga diberi tambahan tenaga pengajar & diberi upah untuk membalas tenaganya.
Bab 2: Sekolah di Sana-Sini
Banyak pemikir-pemikir dunia, tetapi kurang terkenal di New York dan juga universitas PBB di Tokyo¸sekolah gelandangan di New York. Mengapa tidak seterkenal universersitas lainnya karena universitas tersebut tidak seperti universitas lain dan Tidak mengikuti standar sekolah lainnya, misal tidak punya gedung dan siswanya bebas memilih apa yang mereka sukai. Tidak ada anak, peminat, org tua tidak mau menyekolahkan anak-anak mereka di tempat yang seperti itu. Pesantrenpun kini yang sedikit demi sedikit mengbah sistemnya seperti sekolah pada umumnya
Bab 3: Seragam Sekolah
Memikirkan mengenai seraga sekolah. Bahkan pakaian anak sekolahpun dia politikkan. Menyeragamkan mata pelajarannya, isi kepala dan isi hati mereka ingin diseragamkan
Bab 4: Dirikanlah Sekolah
Orang–orang yang sudah pensiun dianjurkan sebaiknya mendirikan sekolah-sekolah apapun bukan hanya yang formal tetapi bisa juga nonformal, karena disana kita bisa menyalurkan apa yang telah kita dapat/ketahui kepada org lain
Bab 5: Sekolah dan Perusahaan
Kepala sekolah mengeluh mengenai tuntutan di seolah, mereka mengurus berbagai watak anak-anak-anak yang berbeda-beda dan sistem sekolah yang lebih ke sistem perusahaan. Sekolah itu lebih rumit dari perusahaan
Bab 6: Sekolah Anak Tenda
Pandangan jane, jane adalah orang yang aktif di masalah-masalah kemanusiaan katanya bangsa palestina bakalan merdeka tapi bakalan dikhawatir kepada anak-anaknya karena sekarang anak-anak palestina dididik dengan sistem perang. Begitupun dengan indonesia masih banyak anak-anak yang bersekolah sambil bekerja. Apa itu justru tidak lebih baik untuk mereka.
Bab 7: Sekolah Anak-Anak Laut
Sekolah diwakatobi,sulawesi tenggara. Bagaimana sekolah sd tersebut tidak menyediakan transportasi antar jemput. Terdapat peraturan anak sd 4-6 wajib untuk mengantar jemput gurunya untuk sekolah. Jika tidak dilakukan maka mereka diberikan sebuah hukuman yaitu mencari ikan. Bagaimana gurunya tidak melihat apakah anak-anak ini berada dalam bahaya untuk menjemput guru-gurunya dengan menggunakan perahu. Bukankah murid yang harusnya mendapat fasilitas tersebut karena murid-murid yang membayar untuk mendapat perahu itu. Apakah sekolah bagi mereka dan apakah mereka bagi sekolah?
Bab 8: Robohnya Sekolah Rakyat Kami
Sekolah ini berdiri di kaki gunung latimojong, dinding terbuat dari kayu, atapnya terbuat dari ijuk, pagarnya dari kayu, ibarat penjara. Namun kegiatan-kegiatan disekolah ini, setiap hari liibur misalnya ada kegiatannya sabtu krida: mereka tidak full belajar setelah itu dia luangkan waktunya untuk membersihkan sekolahnya, memperbaiki apa yang perlu diperbaiki. Tiap 4 bulan sekali mereka melakukan agenda besar dimana mereka masuk kehutan untuk mengambil bahan-bahan untuk memperbaiki sekolahnya. Diakhir semester mereka pergi membantu warga-warga untuk memanen dan jika mereka dibayar,uangnya akan digunakan untuk keperluan sekolah. sekolah ini sengaja dirobohkan kemudian diganti dengan sekolah yang lebiih baik, kondisi siswa yang baru berbanding terbalik dengan yang dulu, siswa memegang buku formal, memakai seragam. Sabtu rida diganti dngan jumat krida dan menggatinya dengan program senam. Tokoh ini membayangkan seorang filsuf pendidikan, dia menceritakan tentang kondisi siswa-siswa yang terpisah dengan sekolah dan masyarakat. Kondisi tersebut sudah ada disulawesi.
Bab 9: Involusi Sekolah Perubahan Ini
Mengubah hal-hal lebih sederhana dengan tidak mengurangi bobot tetapi mengurangi hal-hal yang tidak diperlukan, kita perlu mengutuk negara maju karena mereka lebih berfokus pada militer, dan negara-negara kecil hanya untuk mempertahankan egonya. Indonesia meningkatkan apbn untuk pendidikan. Apakah perkembangan diindonesia telah bersifat kuantitatif atau kualitatif? Kurikulum sekolah lebih padat, tapi apakah perlu?bukankah dipisah untuk lebih fokus, hal ini adalah sesuatu hal wajar. Kemampuan guru semakin meningkat dengan adanya bantuan dari teknologi. Bukan jumlah yang harus ditingkatkan tetapi kualitas, bukan menambah jumlah guru tetapi menambah kualitas guru tersebut.
Bab 11: Sekolah Itu Candu
Dimasyarakat telah tertanam bahwa seseorag harus menempuh pendidikan. Seorang anak yang ditolak meskipun mampu kemudian memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan.
Bab 13: Sekolah Telah Mati
Sesuatu yang tidak bisa menjalankan fungsinya dikatakan telah mati. Lantas bagaimana dengan sekolah dalam menjalankan fungsinya. Benjamin blum: fungsi sekolah sebagai lembaga pendidikan: membentuk watak, pengetahuan dan melatih keterampilan. Jika mereka yang ½ manusia, ¼ setan dan ¼ hewan terbentuk dari sekolah atau lingkungan? Apa fungsi sekolah yang jika kita terbentuk dari lingkungan? lantas dimana peran sekolah dalam membentuk watak.
Berapa banyak kontribusi sekolah dalam memberikan ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya, apakah pikiran makin pintar, berkuasa, terbentuk dari sekolah.
Berapa banyak keterampilan yang dimiliki oleh alumni, apakah benar-benar dari sekolah? berap banyak lulusan yang diterima dalam perusahaan tanpa harus tes? Jika sekolah untuk melatih keterampilan mengapa lulusan hukum manjadi pedagang, mengapa lulusan agama menjadi penulis, mengapa lulusan seni menjadi atlet. Jika memang banyak mejawab ya maka sekolah telah mati.
Bab 14: Sekolah Dari Analogi Ke Alternatif
Jika filsuf spanyol mengatakan: sekolah bukan menara gading, tempat kehidupan semu jauh dari realitas. Tempat bermain anak-anak dan mahasiswa.
Blenskai mengatakan: sekolah haruslah menjadi oasis.
Nyerer mengatakan: Sekolah itu kebun, seharusnya sekolah apa yang kau lakukan dan dapatkan harus sejalan dengan realitas. Ematikan yang hidup
Kii Hajar Dewantara mengatakan: Sekolah itu taman
Sekolah itu pasar, karena ada hal-hal yang terjadi dimasyarakat bahwa hari ini kita seperti pabrik, dari input ke output.
Adam Smith dan Alfred mengatakan: sekolah tempatnya labor?tenaga kerja
Roem Topatimasang mengatakan: sekolah itu tuyul,
Menganalogikan tidak jauh-jauh dari pandangan kita tentang sekolah itu
Keberadaan sekolah itu relatif, alternatif itu bisa ditambahkan, dihilangkan