Tulisan Pemenang Writing.com2 “Perjuangan Wanita Pendidik”
Tulisan Pemenang Writing.com2 “Perjuangan Wanita Pendidik”
Namaku Adila, seorang anak biasa yang tinggal di pinggiran kota Makassar. Namanya saja pinggiran, tentunya di kota relatif lebih maju. Disaat aku sibuk memberi makan bebek-bebekku, anak-anak lain seumuran denganku yang tinggal di kota sedang asyik nongki dengan teman sebayanya, disaat aku makan dengan lauk sayur bening dan ikan kering, mereka makan dengan pizza dan burgernya.
Dulu, ketika hendak mulai bersekolah, orang tuaku tidak mendaftarkan aku di sekolah TK karena memang SD yang ada di sekitar kediamanku tidak mewajibkan lulus TK untuk mendaftar SD. Namun, aku dididik dengan baik meskipun sedikit keras. Ketika mulai bersekolah di bangku SD, aku tidak seperti anak-anak yang tinggal di kota yang diantar jemput orang tuanya. Aku menuju sekolah dengan berjalan kaki yang jaraknya sekitar 5 KM, cukup melelahkan untuk anak usia 7 tahun. Namun, itu hal yang biasa di desa ku karena memang mobil angkutan umum pun sulit untuk ditemui. Jika ada anak yang memiliki sepeda, itu sudah sangat hebat menurut kami, biasanya kami sampai berboncengan hingga 3 orang dalam 1 sepeda. Tapi harus kuakui, kami melewati masa yang sangat menyenangkan. Di pertengahan jalan pulang sekolah biasanya kami singgah di rumah teman yang jarak rumahnya tidak jauh dari sekolah hanya untuk meminta air putih untuk melepas dahaga kami berjalan kaki dan terkadang pun kami bermain sedikit sesuai dengan musim permainan pada saat itu. Bisa kelereng, petak umpet, lompat karet, dan masih banyak lagi. Selain itu, kami juga biasanya singgah di sungai kecil hanya untuk sekadar menangkap ikan kecil dan melepaskannya kembali. Namun, tidak jarang setelah sampai di rumah kami mendapat marah dan bahkan sampai mendapat pukulan dari orang tua karena terlambat pulang ke rumah. Didikan yang keras dari orang tuaku, mengharuskan aku untuk menjadi anak yang rajin untuk terus belajar dan itu terbukti selama di sekolah dasar aku tidak pernah keluar dari 10 besar, ketika SMP aku pernah mendapat juara umum ke-3.
Namun, nasib sebagai orang pinggiran tidak berubah bahkan sampai aku menginjak bangku SMA. Orang tua saya tidak mau menyekolahkanku di sekolah favorit karena alasan jarak dan biaya. Hingga pada saat mendaftar kuliah, aku berhasil lolos masuk universitas negeri terbaik di Makassar. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki ke luar dari desa.
Aku cukup kelabakan diawal masuk kuliah. Karena latar belakang pendidikan yang tidak terlalu bagus, aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk beradaptasi dengan lingkungan kampus yang dominan diisi orang-orang kota. Aku akui, sangat banyak pegalaman dan pelajaran yang baru aku dapatkan meskipun itu hanya persoalan spele. Orang-orang kota memang selangkah lebih update dari segi pengetahuan dibandingkan orang desa yang buta akan teknologi. Hal ini membuat aku berpikir lebih jauh ke depan bahwa jika nanti aku memiliki anak, aku akan menyekolahkannya di sekolah terbaik dan Favorit bahkan kalau bisa hingga ke luar negeri. Karena meskipun biayanya tidak murah, tapi aku yakin anakku akan bergaul dengan orang-orang yang ku akui dari segi intelektualitas dan ekonomi. Seperti nasehat Rasulullah “Barang Siapa yang Berteman dengan Penjual Parfum maka akan Tertular Wanginya”. Sebenarnya dari sini kita bisa membuat hipotesis “Adanya Korelasi Positif antara Tingkat Ekonomi dan Intelektualitas dalam Level Sekolah”. Jadi sebagai orang yang mungkin kurang dari segi ekonomi, tidak seharusnya kita menyalahkan orang kaya untuk semua kesenjangan yang terjadi, yang salah adalah ketika kita tidak berbuat apa-apa. Satu kalimat yang perlu ditanamkan dalam pikiran kita adalah “untuk mencapai kebahagiaan diperlukan pengorbanan”.
Meskipun begitu, banyak juga hal negatif yang tidak perlu diikuti jika bergaul dengan anak-anak kota. Seperti, kebiasaan mereka nongkrong di Cafe, karokean, bahkan sampai ke tempat hiburan malam. Aku yang memang dari kecil mendapat didikan keras dari orang tua, tidak memberanikanku untuk melakukan hal-hal di luar batas. Justru aku yang telah tumbuh dewasa dan cukup mengerti kekhawatirannya menjadi lebih semangat untuk memberikan yang terbaik. Aku sadar, mereka telah berharap banyak kepadaku dan telah mengupayakan segalanya untuk memberikan yang terbaik menurut mereka.
Begitu banyak hal yang membuatku keheranan selama kuliah disini, merencakan liburan ke luar negeri adalah hal yang biasa bagi teman-teman baruku. Aku yang memang orang pinggiran berpikir kalau ke luar negeri itu hanya sebatas ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji. Semakin aku memahami lebih lanjut, aku semakin heran saja ketika teman-temanku menyebut Korea, Singapura, dan London. Mungkin memang tidak ada yang salah dari hal itu, aku saja yang terlalu kampungan. Jika kembali bercerita pada teman-teman SMA dan SMP ku, liburan itu hanya sebatas Bantimurung saja.
Singkat cerita, aku saat ini sudah mulai mengerjakan skripsi. Untuk mengerjakannya supaya lebih fokus, aku mencari tempat yang tenang di daerah yang dekat dengan desa. Aku menyukai tempat yang tenang dan asri. Menurutku, daerah dekat pegunungan adalah yang paling cocok. Ketika sementara mencari tempat yang cocok, ada seorang anak kecil yang mengikutiku dan bertanya mengapa aku mengenakan hijab yang panjang. Aku pun menjawab, “Seorang Wanita harus Menjaga Auratnya agar Hidupnya Merasa Tenang”. Mendengar jawabanku dia kebingungan. Akupun bertanya apa yang sedang dia lakukan disini. Dia menjawab “aku sedang mengembalakan ternakku”. “Kamu tidak sekolah?” tanyaku lagi. “aku berhenti, kata ibu aku hanya menghabiskan uang karena aku tidak pandai, jadi lebih baik fokus mengembalakan ternak saja supaya lebih berguna bagi mereka katanya”. Mendengar jawaban anak itu, aku tergerak untuk mencari tahu bagaimana keadaan anak-anak di desa ini, apakah hanya anak tadi yang mengalami hal itu atau banyak yang mengalami hal yang sama.
Setelah berkeliling di desa itu dan mencari tahu, ternyata banyak yang memang mengalami hal serupa, bahkan ada yang tidak pernah disekolahkan sama sekali. Aku mencoba melakukan pendekatan dengan orang tua anak-anak itu, namun tidak ada yang setuju dengan apa yang aku katakan. Hingga akhirnya aku mengambil inisiatif untuk mengajar anak-anak yang tidak sekolah ini dan menjadwalkannya setiap jam 4 sore di dekat gunung yang tenang. Aku sangat bersyukur karena ternyata mereka semangat untuk datang belajar.
Pada suatu hari, ada orang tua yang datang padaku. Awalnya kukira dia akan memarahiku, seperti beberapa kasus sebelumnya. Namun, kali ini dia datang berterima kasih karena perubahan yang terjadi pada anaknya selain menjadi lebih pandai, anaknya juga lebih sopan dan menghargai orang tuanya. Memang selama belajar akademik, juga aku selipkan sedikit pelajaran tentang sopan santun dan moral etika. Dalam hati aku sangat bersyukur. Para orangtua itu pun bersepakat untuk menyekolahkan anaknya kembali, dan aku menyarankan untuk membantu mengurus sekolah mereka dan kuupayakan mereka masuk sekolah terbaik dan favorit dengan tetap kuberikan pembelajaran di setiap sore hari untuk membantu mereka mengimbangi pelajaran yang mungkin sedikit lebih menguras otak di sekolah barunya dan juga aku mengajarkan apa saja hal yang tidak boleh mereka ikuti dari teman-teman mereka yang kebanyakan ekonominya menengah keatas dan memiliki kebiasaan berbeda.
Pada akhirnya, tempat belajarku semakin ramai. Para orang tua bersepakat membangunkan tempat khusus untuk ku mengajar dan tempat itu menjadi terkenal. Aku yang dulunya orang pinggiran menjadi dikenal banyak orang. Malah aku pernah beberapa kali di undang di acara TV Nasional sebagai tamu Talkshow Wanita Inspiratif. Dampak dari itu juga, saya mendapat kepercayaan dari beberapa sekolah untuk murid yang ku rekomendasikan dari tempat mengajarku.
Waktu berlalu begitu cepat, gelar sarjana telah kuperoleh 1 tahun yang lalu, dan saya sekarang sedang melanjutkan program magister di universitas yang sama. Saya juga sangat bersyukur karena orang tua saya telah menyadari akan pentingnya terus menyekolahkanku disaat semua orang tua di desaku sibuk menikahkan anaknya di usia muda. Saya kembali berpikir untuk mengatasi masalah yang ada di desaku ini dan akan menjadi project baruku di masa mendatang.
Aku seorang wanita yang memiliki impian menjadi pendidik yang kuat (aku berharap semua wanita memiliki impian sepertiku), sebagaimana tokoh wanita pada zaman Rasulullah yaitu Asy-Syifa’ binti Abdullah yang merupakan tokoh ilmuwan wanita yang terkenal dengan kepandaiannya disaat hanya segelintir wanita yang diperbolehkan untuk membaca dan menulis. Namun, dia menawarkan diri untuk menjadi guru yang memberikan pendidikan pada wanita-wanita islam.
“Teruslah Menebar Manfaat dan Kebaikan Bagi Orang Lain”
Oleh:
Fitri ( Manajemen, 2015)