Tulisan Pemenang Writing.com2 “Ke-JUJURan VS Ke-JURUSan”

“Arrrghhh!!!” sebuah teriakan dan tangis pilu terdengar memenuhi ruangan. Segala usaha dan doa yang dilakukannya sia-sia. Denis Sinclair, yang baru saja melepas status siswanya di usia delapan belas tahun itu terlihat kacau. Ia meratapi nasibnya yang tidak lulus di salah satu perguruan tinggi ikatan dinas. Denis yang biasanya periang, supel, dan humoris kini menjelma menjadi monster. Menangis, meraung, dan meronta-ronta sendirian membuatnya seperti kehilangan jati diri.

Sejak dua tahun lalu, di awal semester ganjil kelas sebelas, Denis gencar mencari informasi tentang perguruan tinggi ikatan dinas yang ia minati. Mulai dari kakak kelas, teman kursus, sampai media sosial semuanya dikejar oleh alumni SMA Antariksa itu. Bahkan ia sudah mengikuti try out sejak kelas sebelas. Belum lagi soal-soal yang sulit seluruhnya dibabat habis olehnya. Denis malah lebih memilih bimbingan belajar untuk persiapan perguruan tinggi tersebut dibanding kursus persiapan ujian nasional.

Alhamdulillah, usaha Denis terbayarkan saat melihat pengumuman ujian tertulis yang menyatakan dirinya lulus untuk mengikuti tes tahap kedua yakni wawancara dan kesehatan. Di tahap inilah ia dinyatakan tidak berhak menjadi mahasiswa, tanpa aba-aba, tanpa tahu kesalahannya dimana saja, pihak perguruan tinggi langsung menyatakan ia gugur.

“Sudahlah Nak, kamu daftar saja di perguruan tinggi swasta UKS, Universitas Keren Sekali. Mama ada kenalan disitu, kamu bisa lulus tanpa tes.” ujar Ibu Denis menenangkan anak semata wayangnya. Maka keputusan finalnya Denis mendaftarkan diri ke UKS jurusan Kimia sesuai minatnya sejak SMA. Saat itu ia tidak banyak bicara dan hanya menunduk memendam kekecewaan karena impiannya terbang begitu saja bersama angin lalu.

*****

Tak terasa sudah satu semester Denis berstatus sebagai mahasiswa Jurusan Kimia. Ia tak banyak bergaul di kampus, tidak bergabung di organisasi manapun. Jangankan organisasi, teman sekelas  hanya yang ‘klik’ dengan dirinya saja yang ia ajak bertegur sapa. Kegagalan mencapai impiannya benar-benar mengubah sosok Denis yang cukup terkenal semasa sekolah kini menjadi mahasiswa robot yang mengejar nilai A dari setiap mata kuliah. Cukup membanggakan sebenarnya, Denis merupakan satu-satunya mahasiswa di jurusannya yang mampu meraih IP 3.97 di semester pertama.

Di semester kedua Denis mencoba membuka diri dengan mengikuti kegiatan sosial suatu komunitas diluar kampus. Ia mulai akrab dengan orang-orang yang berasal dari latar belakang berbeda-beda. Kedua orangtuanya merasa lega ketika melihat Denis kembali ceria seperti sebelum menjadi mahasiswa. Sampai akhirnya menjelang ujian akhir semester, pendaftaran SBMPTN kembali dibuka. Denis yang sibuk berkutat dengan laporan fisikanya pun sedikit terusik ketika ayahnya berbicara.

Den, kamu gak berminat ikut tes SBMPTN? Coba dulu, siapa tahu rejeki kamu disitu” ujar ayahnya sembari meneguk kopi hitam favoritnya.

“Untuk apa aku ikut tes lagi, Yah? Aku udah nyaman dengan kampusku. Nilai-nilaiku juga memuaskan. Apa yang harus Denis kejar lagi? Bukannya kuliah di swasta dan negeri tergantung dari individunya ya?” Denis yang memang berjiwa kritis langsung membalas ujaran ayahnya dengan sedikit emosi.

“Ayah Cuma menyarankan yang terbaik buat kamu Den, selebihnya ada sama kamu. Mau mencoba atau tetap seperti burung dalam sangkar emas. Kamu terlalu menikmati zona nyamanmu” percakapan itu ditutup dengan kalimat pamungkas dari ayah Denis. Sejenak Denis berpikir apa salahnya ia mencoba. Lagipula kalau tidak lulus, ia masih tetap mahasiswa di UKS. Akhirnya dengan segala pertentangan dalam dirinya ia beranikan diri untuk mendaftar SBMPTN dengan pilihan pertama Kimia, pilihan kedua Matematika, dan pilihan ketiga Psikologi di satu kampus ternama yakni Universitas Negeri Hampir Aja Swasta. UNeHAS ini merupakan kampus tertua dan terfavorit se-Indonesia Timur. Denis pun tetap melanjutkan kuliahnya dan berbagai aktivitas komunitasnya. Sampai akhirnya sehari sebelum tes ia baru menyadari bahwa besok ada praktikum yang merupakan penentu nilai laboratorium di mata kuliah inti.

Bu, besok aku tes SBMPTN. Tapi baru nyadar kalau ternyata ada praktikum penentu kelulusanku di matkul inti. Jadi gimana nih?” ujar Denis sedikit panik. Ibu Denis yang tengah menyetrika pakaian tersenyum penuh arti kemudian berkata,

“Semua pilihan ada di tanganmu, Denis. Kamu udah dewasa sekarang, kamu yang lebih paham mana yang harus diprioritaskan. Kalau masih gundah, pergilah ambil air wudhu lalu shalat istikharah. Minta sama Gusti diberi petunjuk. Udah ah, ibu mau bikin rujak dulu” dan ibu Denis berlalu setelah menyelesaikan pekerjaannya. Denis yang telah menunaikan shalat istikharah kembali bimbang, antara mencoba peruntungan atau tetap pada zona aman dan nyaman miliknya. Jika ia memilih untuk tetap praktikum, maka ia akan kehilangan kesempatan menjadi mahasiswa UNeHAS. Namun sebaliknya ketika ia memilih untuk ikut tes, maka sudah dipastikan nilai E tercoreng di Kartu Hasil Studinya. Cukup lama mahasiswa berkacamata itu perang batin hingga akhirnya terlelap.

*****

Tiga bulan kemudian…

Disinilah Denis berakhir, gedung kampus UNeHAS yang tidak sesuai ekspektasi. Masih banyak gazebo yang tercoret dan bangunan hampir reot yang membuatnya bergidik ngeri. Bagaimana kalau saja gedungnya hancur seperti di film final destination? Denis segera mengusir pikiran absurdnya itu.

Setelah melawan kata hatinya untuk meninggalkan praktikum, ia benar-benar meninggalkan kampus lamanya, dan mendapat kesempatan menjadi mahasiswa baru di kampus pink dengan ciri khas lambang bebeknya yang perkasa. Benar, Denis Sinclair diterima melalui jalur SBMPTN dengan murni. Di kampus barunya ini, ia berubah drastis dari sebelumnya. Denis menjadi lebih ramah dan mudah bergaul, bahkan ia dikenal seangkatan karena popularitasnya di kalangan mahasiswa baru. Bahkan saat ia bertemu dengan teman SMP-nya yang gagal masuk UNeHAS yang bernama Fergyuzo sepulang ospek…

“Wah, keren lo Denis, bisa masuk UNeHAS. Bayar berapa sih?” ungkap Fergyuzo kagum sekaligus bertanya saking penasarannya.

“Biasa aja Bro. Bayarnya yah sesuai UKT sih, satu juta sekian sekian. Emang nape?” jawab Denis kemudian membalikkan pertanyaan.

Gue Cuma mau tahu aja sih, berapa yang lo habisin buat bayar calo SBMPTN. Soalnya calo gue kemarin kurang jitu. Masa udah habis dua puluh juta tapi kagak lulus juga? Hmmmm Nisa Sabyan sepuluh jam” Fergyuzo kembali curhat. Setelah pertemuan itu Denis kembali ke kampus sebab ada pengumpulan untuk informasi pengaderan. Saat dalam perjalanan itu ia merenung. Mengapa orang-orang masih saja berpikir licik? Ia sadar bahwa dirinya tak begitu jenius untuk bisa lulus tes SBMPTN, namun yang namanya rejeki siapa yang tahu? Apakah sebegitu buruknya citra dunia pendidikan dimata masyarakat sehingga satu bangku pun diperjualbelikan? Denis memegang kepalanya yang terasa pening, kemudian segera memarkirkan motornya di parkiran jurusan Matematika FMIPA UNeHAS.

*****

Tidak terasa sudah waktunya Denis ujian akhir semester. Meski telah pindah haluan ke jurusan matematika, kimia tetap dihati Denis. Ia selalu aktif di mata kuliah Kimia dan malah ia mengalahkan teman-temannya di jurusan kimia. Kini tiba saatnya ia melihat hasil akhir dari jerih payahnya selama ini. Dengan sedikit gugup ia membuka situs akademik untuk melihat nilainya. Namun sedikit mengejutkan bahwa Denis yang dikenal sebagai professor kimia di jurusannya mendapat nilai B. Teman-temannya malah tidak ada yang menyentuh B minus. Hanya mahasiswa jurusan Kimia sajalah yang memperoleh nilai A. Peristiwa ini menuai konflik hingga Denis dan beberapa temannya memprotes nilainya ke asisten dosen.

“Permisi Kak, maaf saya mengganggu. Saya mau tanya untuk matkul Kimia Dasar kok nilai kami tidak sesuai? Padahal kami selalu meraih nilai tinggi di kuis dan laporan kami selalu yang dijadikan percontohan” ungkap Denis dengan lugas di depan asisten dosen yang bernama Jennie.

“Nilai akhir itu sudah dijumlahkan dengan nilai ujian dan praktikum. Jadi terima saja nilaimu, apalagi B itu sudah sangat cukup untuk anak matematika” ujar Jennie sembari melanjutkan live streaming drama koreanya.

Denis yang awalnya semangat memprotes nilainya kini mundur perlahan sambal tertunduk. Ia benar-benar tidak menyangka penjelasan seniornya sangat mengecewakan. Kapabilitasnya tidak dihargai hanya karena ia dari jurusan yang berbeda. Padahal dosen matkul Kimia Dasar merupakan salah satu dosen favoritnya karena penjelasannya mudah dipahami dan ia sangat komitmen dengan waktu. Denis mengembuskan napasnya perlahan, dan mulai menyadari bahwa pemikiran konservatif itu masih berkucur di kepala orang-orang yang menjunjung tinggi revolusi industri. Sempat terlintas di benak Denis, untuk apa kita mempelajari semua mata kuliah jika kemampuan hanya diukur berdasarkan nomor stambuk? Dengan segala kekecewaan Denis pun meninggalkan sekretariat himpunan jurusan Kimia yang menjadi saksi bisu percakapannya dengan senior asisten dosen tadi.

*****

Tiga tahun kemudian…

Alhamdulillah ya, minggu depan kita udah ujian hasil. Semoga dimudahkan…” ujar Gempita, teman sejurusan Denis dengan tatapan penuh arti.

“Iya nih, tapi aku masih kurang di persyaratan seminar. Kan minimal mengikuti seminar hasil sebagai audience sebanyak lima kali. Nah aku baru empat. Bingung jadinya…” keluh Denis sambal mengelap kacamatanya yang sedikit berembun.

“Itu mah gampang, aku punya tante di bagian staf. Yang kayak gitu bisa dimanipulasi Den, tenang aja…” Gempita kembali berujar. Sontak Denis membulatkan matanya. Ia tak percaya bahwa masih ada saja kecurangan yang terjadi di kampus pink tercinta. Ia ingat betul kejadian semester lalu ketika ada senior yang batal mengikuti ujian karena persyaratan tersebut. Denis pun memijat keningnya perlahan kemudian berpikir bagaimana cara mendapatkan sertifikat seminar tanpa perlu berbuat kriminal.

*****

Nyanyian lagu Gaudeamus Igitur mengiringi langkah Denis maju ke mimbar. Dengan penuh percaya diri ia mengenakan toga kebanggaan dengan gelar mahasiswa terbaik beserta predikat cum laude-nya. Akhirnya segala perjuangan Denis terbayar lunas. Ia mendapatkan sertifikat seminar dengan jujur, sehari sebelum ujian hasil. Benar kata pepatah, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Menjadi mahasiswa terbaik se-UNeHAS bukanlah pencapaian yang mudah. Ia harus kena marah dari pihak fakultas karena dinilai lulus sebelum waktunya, padahal tidak ada pasal sama sekali tentang hal itu. Kemudian ia dibenci oleh sahabatnya, Gempita karena melaporkan bahwa selama ini sertifikat yang dikumpulkan hanya tiruan alias palsu belaka. Gempita pun batal mengikuti ujian hasil dikarenakan kecurangannya. Denis benar-benar menjadi pahlawan revolusioner di angkatannya karena ia berhasil menemukan kejahatan tersebut bahkan memberikan advokasi untuk teman-temannya yang kurang mampu.

Selama ini tidak ada yang mengetahui bisnis yang dijalankan oleh Gempita dan tantenya, yakni jual-beli sertifikat seminar palsu. Dengan kekuasaannya, tante Gempita dengan mudah mengatur bawahannya untuk melakukan hal yang salah. Orang-orang kurang mampu secara finansial yang bahkan sudah mengikuti seminar tersebut dipersulit oleh tante Gempita. Semua itu Denis ketahui ketika secara tidak sengaja flashdisk Gempita tertinggal di perpustakaan saat mereka mengerjakan skripsi bersama. Yang cukup mengejutkan karena ternyata bisnis ini diketahui oleh pihak fakultas namun tidak dihentikan. Oleh karenanya, Denis cukup berbaik hati mengungkap kebenaran setelah ia yudisium. Ia sadar bahwa ketika ia bertindak sebelum menjadi alumni maka pergerakannya akan terhambat. Seperti kata pepatah arab, “Kebaikan yang tidak terstruktur, akan dikalahkan oleh kejahatan yang terstruktur”.

Denis Sinclair, mahasiswa terbaik dengan IPK 3.96 dengan masa studi tiga tahun dua bulan. Ini baru secuil dari perjuangan Denis selama menjadi mahasiswa. Selanjutnya masih panjang perjalanan menuju puncak kejayaan. Dalam arti, ia harus menjadi pemimpin terlebih dahulu untuk merubah sistem menjadi lebih baik. Ia selalu mengambil prinsip Adolf Hitler yang mengatakan bahwa jika kita tidak menyukai sebuah aturan, maka raihlah puncak kepemimpinan kemudian hancurkan aturan tersebut.

Oleh :

Muhammad Fauzan (Manajemen,2015)

 

Add a Comment

Your email address will not be published.