Hasil kajian Isu Strategis (KASUS) Bagian IV

EDUCATION 4.0

          Konsep Pendidikan 4.0 (Education 4.0) tidak bisa dilepaskan dari perkembangan dunia industri, utamanya Revolusi Industri 4.0 (4IR). Terminologi Revolusi Industri 4.0 sendiri pertama kali dipublikasikan oleh Davos pada tahun 2016. Terminologi ini semakin meluas sejak Kanselir Jerman Angela Merkel menyoroti istilah ini di Hanover Fair 2011 yang membuat industri di Jerman sangat kompetitif.

Lompatan inovasi dan kemajuan industri 4.0 sendiri dipicu oleh perkembangan teknologi Artifical Intelligence (AI), robotik, Internet of Things (IoT), kendaraan otomatis, bioteknologi, nano teknologi, 3D printing, Material Science, Quantum Computing dan penyimpanan energi (Energy Storage). Perkembangan industri hingga saat ini dimulai sejak perkembangan Revolusi Industri 1.0 (1784) dimana peralatan produksi mekanik mulai digerakkan oleh tenaga uap. Revolusi Industri 2.0 (1870) berkembang melalui perkembangan produksi massal melalui pembagian kerja dan penggunaan energi listrik. Pada tahun 1969, berkembang Revolusi Industri 3.0 yang mulai mengotomatisasi produksi melalui penggunaan alat-alat elektronik dan teknologi informasi (TI). Terakhir hingga saat ini, berkembanglah Revolusi Industri 4.0 yang mengandalkan produksi cerdas yang digabungkan dengan Internet of Things (IoT), teknologi cloud dan big data.

Perkembangan dunia industri ini turut memengaruhi bidang-bidang lain, termasuk pendidikan. Hal ini dipengaruhi langsung oleh perkembangan penggunaan sistem cyber fisik yang menggabungkan sistem cyber (komputasi) dan dunia fisik. Efek dari perkembangan teknologi yang sedemikian rupa akan turut memengaruhi bagaimana cara belajar mengajar dalam dunia pendidikan dan akan melahirkan tantangan-tantangan baru bagi dunia pendidikan di Indonesia. Terlebih lagi, perkembangan dunia industri pun menuntut kebutuhan-kebutuhan industrial yang disandarkan pada hasil dari proses pendidikan yang dalam artian dunia pendidikan dituntut untuk menyesuaikan diri sehingga mampu memenuhi kebutuhan industrial. Bahkan, dapat dikatakan bahwa Revolusi Industri 4.0 mulai masuk secara penuh hari ini berdasarkan fakta bahwa kecepatan dan dampak terobosan industri saat ini sangatlah kuat. Berbagai inovasi dan terobosan yag muncul sedemikian pesatnya mendorong Revolusi Industri 4.0 berkembang dengan kecepatan yang eksponensial dan memengaruhi hampir semua lini kehidupan.

Terkhusus untuk dunia pendidikan, dalam menyambut perkembangan Revolusi Industri 4.0 ada beberapa catatan penting yang harus diketahui, diantaranya:

  • Era disrupsi teknologi Revolusi Industri 4.0. (1) Sebagian besar perusahaan menggunakan teknologi untuk menjual produk mereka secara online (The Economist, 2017); (2) Semakin pentingnya keterampilan sosial (social skills) dalam bekerja (The Economist, 2017); (3) Lebih dari 55% organisasi menyatakan bahwa digital talent gap semakin lebar (LinkedIn, 2017); (4) Indonesia perlu meningkatkan kualitas keterampilan tenaga kerja dengan teknologi digital (Parray, ILO, 2017).
  • Literasi Era 4.0. Agar dapat menciptakan lulusan pendidikan yang kompetitif dalam dunia kerja, kurikulum pendidikan perlu orientasi baru pula. Menurut Ahmad I. (2018) perkembangan Revolusi Industri 4.0 menuntut tidak hanya cukup dengan literasi lama (membaca, menulis dan matematika) sebagai modal dasar untuk berkiprah di masyarakat (Aoun, MIT, 2017). Kelompok/jenis literasi era Revolusi Industri 4.0 adalah sebagai berikut: (1) Paradigma Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus diselaraskan dengan Era Revolusi Industri 4.0); (2) Reorientasi Kurikulum dengan memasukkan literasi baru (big data, teknologi/coding dan humanities) serta pengembangan kegiatan ekstra kurikuler kepemimpinan dan kerja tim dan mewajibkan entrepreneurship dan internship; (3) Hybrid/Blended Learning yang menerapkan sistem pembelajaran online; (4) Hibah dan Bimtek dari Belmawa untuk reorientasi kurikulum (GEN-RI 4.0) untuk 400 Perguruan Tinggi di Indonesia.

Pendidikan 4.0 (Education 4.0) berkembang di kalangan para ahli teori pendidikan untuk menggambarkan berbagai cara untuk mengintegrasikan teknologi cyber baik secara fisik maupun non fisik dalam proses pembelajaran. Menurut Jeff Borden, kemunculan konsep Pendidikan 4.0 merupakan lompatan dari Pendidikan 3.0 yang mencakup pertemuan ilmu saraf, psikologi kognitif dan teknologi pendidikan berbasis digital dan mobile yang berbasis web termasuk didalamnya aplikasi, perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software).

Menurut Prof. Intan Ahmad selaku Dirjen Belmawa Kemenristekditkti bahwa jumlah mahasiswa baru perguruan tinggi negeri Indonesia setiap tahun akademik diperkirakan sebanyak 471 ribu, sedangkan untuk perguruan tinggi swasta sebanyak 967 ribu yang tersebar hingga daerah kota dan kabupaten. Berikut ini saya sampaikan data sebaran jumlah lulusan perguruan tinggi berdasarkan bidang peminatan yang dihasilkan pada tahun 2014–2016 melalui sumber ADB, tahun 2018 sebagai berikut, yakni total lulusan bidang kependidikan selama periode 2014–2016 menempati urutan pertama dengan jumlah 930.395 alumnus, disusul bidang teknik & engineering sebanyak 622.605 alumnus, kemudian bidang kesehatan sebanyak 597.517 alumnus, bidang ekonomi sebanyak 559.336 alumnus, bidang ilmu pengetahuan sosial 260.369 alumnus, bidang humaniora sebanyak 189.384 alumnus, bidang pertanian sebanyak 102.335 alumnus dan terakhir oleh bidang kesenian sebanyak 57.381 alumnus.

Sementara jika melihat angka pengangguran yang telah dijelaskan sebelumnya yakni sekitar 8,8% menunjukkan adanya ketidak-efisienan antara kualitas lulusan dengan bidang pekerjaan yang tersedia. Ini menjadi dasar problematika dalam hadapan era disrupsi akibat rendahnya kompetensi dan skills yang dihasilkan oleh perguruan tinggi Indonesia terhadap formasi jabatan atas profesi yang didambakannya.

Selain itu permasalahan baru pada era revolusi 4.0/disrupsi adalah meningkatnya angka kriminalitas pada dunia maya atau dikenal dengan istilah cyber-crime (big data); yang senantiasa harus diwaspadai oleh semua pihak termasuk para alumnus perguruan tinggi. Pada tahun 2016, ada sekitar 1 milyar data pribadi (digital) telah diretas/dicuri oleh para pencuri data melalui media online, dan angka tersebut memungkinkan terus bertambah hingga saat ini. Sementara itu, disinyalir dunia akan mengalami kekurangan tenaga profesional bidang pengamanan informasi cyber pada tahun 2019 (sumber: ISACA,2017). Problem inilah yang wajib diantisipasi dan menjadi fokus perhatian bagi semua kalangan agar dapat dihasilkan solusinya.

Sangat penting bagi para mahasiswa dan masyarakat umumnya untuk dapat memahami dan mempelajari hal-hal yang berkenaan dengan fungsi pengamanan, penggunaan dan penyaringan informasi dunia maya (cyber security) agar segera dilakukan pencegahan dini dalam segala aspek permasalahan kriminalitas pada dunia maya (cyber-crime). Selain itu, hal ini pun akan membantu para alumnus untuk mengembangkan ide kreatifnya serta memanfaatkan era digital sebagai peluang guna menghasilkan jenis pekerjaan baru yang bersifat dinamis.

Menghadapi era Revolusi Industri 4.0, peran pendidikan tinggi menjadi sangat penting, terutama dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karenanya, pendidikan tinggi yang berbasis riset harus mendorong semakin terbukanya pengetahuan yang meningkatkan kesejahteraan manusia.

Seperti yang diketahui, saat ini ada banyak gagasan yang dikemukakan oleh Kementerian Riset dan Teknologi untuk mengoptimalkan pendidikan, salah satunya adalah program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Program ini berupa pembangunan universitas siber yang dipersiapkan untuk pembelajaran dalam jaringan (daring). Melalui metode ini, masyarakat diharapkan bisa memperoleh peluang lebih besar dalam mengakses pendidikan tinggi.

Saat ini Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia baru 31,5%. Jika pembelajaran hanya diterapkan secara konvensional, peningkatan APK hanya berkisar di 0,5% per tahun. Namun dengan terobosan PJJ tersebut, APK pendidikan tinggi diharapkan mampu melesat mencapai 40% di tahun 2022–2023, asalkan PJJ dapat diakses oleh lebih banyak orang secara efektif.

Paradigma dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi perlu diselaraskan dengan Era Industri 4.0 melalui : 1) Mendorong Science and Technology Index menjadi Pemeringkat Global; 2) Meningkatkan kegiatan riset dan publikasi yang relevan dengan tema Industri 4.0; 3) Perguruan Tinggi wajib melaksanakan proses inovasi produk melalui inkubasi dan pembelajaran berbasis industri; 4) Reorientasi Kurikulum : pengembangan & pembelajaran model literasi baru (coding, big data, teknologi, humanities/general education) perlu dikembangkan dan diajarkan, kegiatan ekstra kurikuler untuk pengembangan kepemimpinan dan bekerja dalam tim, serta jiwa wirausahawan dan intership diwajibkan, serta kemandirian yang matang. Kemudian menerapkan format baru sistem pengajaran pendidikan jarak jauh (PJJ) berbasis Hybrid/ Blended Learning/Online.

Adapun sisi lain yang perlu disiapkan secara teknis yaitu kompetensi inti yang dimiliki oleh setiap dosen sebagai ujung tombak dalam melahirkan dan mencetak generasi masa depan bangsa yakni para alumnus perguruan tinggi yang bermental kuat serta siap bekerja secara profesional, mandiri dan kreatif. Optimalisasi Kompetensi Dosen 4.0 (SDID, 2018), yakni: (1) Kompetensi Pendidikan, (2) Kompetensi Riset (fundamental dan terapan), (3) Kompetensi komersialisasi hasil penelitian dan inovasi (hilirisasi), (4) Kompetensi dalam era global: mampu berinteraksi dan berkontribusi secara global, (5) Kompetensi dalam memprediksi strategi masa depan, (6) Kompetensi dalam entrepreneurship.

Solusi alternatif terbaru yang perlu dikembangkan dalam mengantisipasi era disrupsi lainnya sebagai wujud pengembangan literasi kekinian sebagai berikut:

  1. Kemampuan untuk membaca, menganalisis serta menggunakan informasi (big data) pada era dunia digital-machine learning: watch, buy and love.
  2. Memahami cara kerja mesin dan aplikasi penerapan teknologi (Coding, Artificial Intelligence, Engineering Principles & Cyber Security)
  3. Memahami aspek humanities, komunikasi, desain, entrepreneurship dan kreatifitas

Itulah hal-hal yang perlu dikembangkan dan diterapkan dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 dengan terus memberikan arahan dan keyakinan kepada para mahasiswa bahwa literasi baru ini akan membuat mereka mampu berkompetisi pada sistem perekonomian kontemporer dengan berdasarkan pada teknologi kekinian.

Dalam wujud pengembangan literasi manusia, pihak universitas diharapkan mampu mencari metode khusus guna peningkatan kapasitas kognitif para mahasiswa melalui cara berfikir kritis dan sistemik dan pengembangan keterampilan yang bersifat mental spiritual. Adapun ide pengembangan model literasi manusia khususnya bagi mahasiswa pada era sekarang ini adalah sebagai berikut:

  • Keterampilan, melalui teknik kepemimpinan (leadership) dan siap bekerja dalam tim (team work).
  • Kelincahan dan kematangan kebudayaan (cultural agility), memahami bahwa semua mahasiswa beragam dengan berbagai latar belakang mampu bekerja dalam lingkungan yang berbeda (di dalam atau di luar negeri).
  • Wirausahawan, termasuk di dalamnya adalah jiwa sosial wirausaha (social entrepreneurship); merupakan kapasitas dasar yang sebaiknya dimiliki oleh semua mahasiswa.

Add a Comment

Your email address will not be published.