“Menghempas Kebodohan dengan Pendidikan”

Bagaimana kondisi pendidikan Indonesia saat ini ?

Bank Dunia (World Bank) menyebut “bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah, meski perluasan akses pendidikan untuk masyarakat dianggap sudah meningkat cukup signifikan”. Peningkatan akses ini dilakukan dengan meningkatkan pembiayaan, meningkatkan partisipasi para pelaku lokal dalam tata kelola pendidikan, meningkatkan akuntailitas dan kualitas guru, hingga memastikan kesiapan siswa. Namun, hasil tersebut belum bisa memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia karena masih banyak tantangan yang belum terselesaikan, seperti tidak meratanya aksebilitas pendidikan atau terjadinya ketimpangan akses pendidikan di beberapa daerah.

Oleh karena itu, maka perlu dilakukan perluasan akses pendidikan yang lebih merata dan sesuai dengan standar pendidikan internasional, baik secara kurikulum maupun praktik. Selain itu, pemerintah juga perlu meningkatkan kriteria kualifikasi guru hingga meluncurkan kampanye perbaikan kualitas pendidikan.

Sedangkan dari sisi anggaran pendidikan, pemerintah dinilai perlu memberikan anggaran berdasarkan kinerja dan kualitas pendidikan.  Bahkan ibu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan “bahwa memang kualitas pendidikan di Tanah Air masih menjadi tantangan bagi pemerintah”. Padahal, dari sisi anggaran dana untuk pendidikan telah mencapai Rp 444 triliun atau sekitar 20% dari total belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018. Karena permasalahan pendidikan tidak bisa diselesaikan dari sisi anggaran, maka masalah ini perlu melibatkan beberapa kementrian yang berkaitan langsung dengan pendidikan, yaitu kementrian pendidikan dan kebudayaan (kemendikbud), kementrian riset teknologi dan pendidikan tinggi, dan kementrian agama.

apa yang tidak dimiliki mahasiswa masa kini ??

Mahasiswa saat ini sangat miskin, dalam hal minat membaca dan bereksplorasi. Karena kemalasan dan kurangnya motivasi mahasiswa dalam berkarya menjadikan kualitas pendidikan atau pembelajaran baik di dalam kampus maupun di luar kampus menjadi tidak maksimal.

Dari pengamatan saya sendiri, banyak Mahasiswa dalam mengerjakan tugas kurang memenuhi ekspetasi, di mana sekarang ini banyak mahasiswa yang kurang menunjukkan kesungguhannya dalam mengerjakan tugas, atau bahkan ketika mereka mengerjakan tugas, mereka hanya mengerjakan tugas hanya sebagai “Kewajiban” untuk mendapatkan kelulusan dan bukan sebagai kesempatan untuk mengexplore kemampuannya..

Setiap mahasiswa saat kuliah diberikan alat-alat atau kesempatan untuk mencoba sesuatu baru, sesuatu yang belum tentu mereka sentuh. Mahasiswa mengganggap tugasnya itu sebagai kewajiban, sebagai sesuatu beban yang akan dinilai. Karena adanya pemikiran mahasiswa yang seperti ini akan membuat mereka menjadi malas dan jenuh dalam mengerjakan tugasnya, dan juga menghasilkan hasil karya yang biasa saja dikarenakan mahasiswa tidak menikmati brief dan tugas dalam prosesnya.

Sebagai generasi penegak bangsa, generasi milenial sekaligus sebagai mahasiswa kita perlu menciptakan dan mewujudkan cita-cita suatu negara dengan meningkatkan kualitas pendidikan bukan hanya sekedar peningkatan aksesnya atau peningkatan anggaran dananya tetapi juga peningkatan dalam merubah mindset para mahasiswa untuk menyatakan bahwa “untuk  menjadi pejuang negara bukan hanya sekedar “otot” tetapi juga “otak”, merubah mindset mahasiwa terkait segala tugas yang diberikan kepadanya

Kalau bukan kita siapa lagi ? kalua bukan sekarang kapan lagi ?

salam mahasiswa

Fitriani S (Pite)

Anggota Departemen Kajian Strategis dan Advokasi

Add a Comment

Your email address will not be published.