Brief Review Buku “Laut Bercerita”

Buku Laut Bercerita mengisahkan tentang seorang tokoh fiktif yang bernama Biru Laut yang hidup di jaman Orde Baru. Laut menjadi salahsatu dari 13 aktivis yang dikisahkan korban penyiksaan untuk mengungkap aktifitas-aktifitas yang dinilai dapat memicu pemberontakan terhadap rezim Soeharto. Aktivitas-aktivitas yang dimaksud seperti bedah buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananda Toer yang dinilai merupakan sesuatu hal yang tabu pada masa itu.

Buku ini mengungkap bagaimana mahasiswa yang sudah sangat ingin mengakhiri era Orba dengan berbagai cara, walaupun dengan mengorbankan nyawanya. Mereka terus berusaha menegakkan apa yang mereka anggap benar, dan tetap berusaha meski diceritakan beberapa kali ditangkap dan diinterogasi oleh aparat dan intel.

Buku ini juga tidak lepas dari romansa ringan, dimana dalam buku ini diceritakan bahwa Biru Laut jatuh cinta dengan teman sepergerakannya, Anjani. Mereka berkenalan saat Winatra, organisasi yang dimasuki Biru Laut, merenovasi sekretariat baru mereka di daerah Seyegan, Yogyakarta. Mereka pun menjalin asmara, namun tidak melupakan tujuan mereka untuk mengakhiri pemerintahan Soeharto.

Pada akhirnya, Biru Laut tidak ditemukan, meskipun beberapa temannya dipulangkan. Komisi Orang Hilang pun dibentuk untuk menegakkan HAM, yaitu menuntut kejelasan atas apa yang menimpa ketiga belas orang yang hingga pada akhir cerita tidak ditemukan.

Nilai-nilai yang saya dapat beragam. Mulai dari nilai konsistensi dalam bergerak yang dicerminkan oleh semua orang yang ada dalam Winatra, yang terus berjuang tanpa mengenal lelah, dan tanpa memikirkan ‘biaya’ yang bahkan menyangkut nyawa. Nilai perubahan juga saya dapat temukan dari tokoh Asmara, adik dari Biru Laut. Ia berusaha untuk merubah pandangan ibunya untuk menerima realita bahwa ada kemungkinan Biru Laut takkan kembali dan harus keluar dari ‘kepompong’ kenyamanan. Saya juga mendapat nilai edukasi, dimana orang-orang yang ada dalam Winatra tidak berpuas diri pada ilmu yang ada, melainkan memperluasnya melalui budaya membaca dan berdiskusi.

Kaitan antara buku ini dengan kehidupan saya (pembaca) ialah saya sadar bahwa di jaman sekarang kita sudah ‘bebas’ untuk mengeksplorasi pengetahuan melalui buku, tanpa ada rasa cemas suatu saat aparat akan menangkap dan meninterogasi, sehingga saya akan berusaha untuk mengembangkan budaya membaca saya (yang saat ini masih saya rasa minim).

 

Oleh: Wily Reinard Mallisa, Akuntansi 2017.

Add a Comment

Your email address will not be published.