295 Tahun Adam Smith

“Sang Bapak Ekonomi Modern”

Hari ini, tepat 295 tahun yang lalu pada tahun 1723 di Kirkcaldy, Skotlandia, pasangan Adam Smith dan Margareth Douglas harus menghela nafas panjang demi menantikan kelahiran anak mereka. Anak itu kemudian diberi nama John Adam Smith, yang kelak dikemudian hari dikenal dengan nama Adam Smith.

Adam Smith memperoleh pendidikan di Universitas of Glasgow dan Universitas Oxford serta menjadi profesor pertama di bidang Filsafat Moral di Glasgow. Ia adalah seorang filsuf abad ke-18 yang terkenal dengan sebutan bapak ekonomi modern dengan pendukung utama kebijakan ekonomi laissez-faire. Dalam buku yang ditulisnya pada tahun 1759, “The Theory of Moral Sentiments”, Smith meyakinkan pembacanya bahwa setiap manusia sangat menyukai hidup sebagai warga masyarakat, dan tidak menyukai hidup yang individualistik dan mementingkan diri sendiri. Adam Smith memiliki pemikiran bahwa setiap orang secara natural akan saling menghargai (rasional) sehingga dia menganggap manusia adalah makhluk bebas yang dengan sendirinya mengetahui nilai-nilai kemasyarakatan. Smith sangat menghargai sifat natural manusia dan kecewa pada dampak sistem merkantilisme[1] yang sarat akan campur tangan pemerintah.

Pada era merkantilisme orang-orang pada saat itu melihat kekayaan suatu bangsa dalam hal persediaan emas dan perak. Mengimpor barang dari luar negeri dianggap merusak karena itu berarti bahwa kekayaan ini harus diserahkan untuk membayar mereka; mengekspor barang terlihat bagus karena logam mulia ini kembali. Jadi, negara kemudian mempertahankan jaringan kontrol yang luas untuk mencegah kekayaan logam ini berkurang, mulai dari pajak impor, subsidi untuk eksportir, dan perlindungan untuk industri domestik. Proteksionisme yang sama juga berlaku di rumah. Kota-kota mencegah para pengrajin dari kota-kota lain pindah untuk melakukan perdagangan; produsen dan pedagang mengajukan petisi kepada raja untuk monopoli protektif; perangkat hemat tenaga kerja dilarang sebagai ancaman bagi produsen yang ada, inilah era yang dikenal dengan nama era merkantilisme.

Smith kemudian menunjukkan bahwa bangunan ‘merkantilis’ yang dibangun pada saat itu adalah suatu kebodohan besar. Dia berpendapat bahwa dalam perdagangan bebas, kedua belah pihak justru akan menjadi lebih baik dan sejahtera. Sederhananya, tidak ada yang akan berdagang jika mereka berkemungkinan untuk rugi dari pertukaran tersebut. Keuntungan pembeli, sama seperti penjual. Karena perdagangan menguntungkan kedua belah pihak, kata Smith, itu akan meningkatkan kemakmuran yang sama pastinya dengan sektor pertanian atau manufaktur. Kekayaan suatu bangsa bukanlah sekedar kuantitas emas dan perak yang terdapat dalam brankasnya, tetapi total produksi dan perdagangannya—yang hari ini kita sebut Produk Nasional Bruto (Gross National Product/GNP).

Terbitnya buku “The Wealth of Nations” pada tahun 1776 sangat memengaruhi pemikiran para politisi pada saat itu dan memberikan landasan intelektual dalam era perdagangan bebas dan ekspansi ekonomi yang besar. Smith sendiari memiliki pemahaman yang cukup radikal mengenai bagaimana masyarakat sebenarnya bekerja. Dia menyadari bahwa harmoni sosial akan muncul secara alami ketika manusia berjuang untuk menemukan cara untuk hidup dan bekerja dengan satu sama lain. Kebebasan dan kepentingan pribadi tidak akan menghasilkan kekacauan karena hal itu akan dibimbing oleh ‘tangan tak terlihat’ (invisible hand). Suatu tatanan sosial masyarakat yang makmur tidak perlu dikontrol oleh raja dan menteri. Tatanan sosial itu akan tumbuh dengan sendirinya, secara organik, sebagai produk dari sifat manusia. Hal ini akan tumbuh paling baik di pasar yang terbuka dan kompetitif, dengan pertukaran bebas dan tanpa paksaan.

Terlepas dari hantu ‘liberalisme’ yang diawali oleh pemikiran Adam Smith yang masih ‘bergentayangan’ menghantui dunia saat ini, bahkan hingga merasuki lini kehidupan setiap negara, buah-buah pemikirannya terkait perekonomian masih tetap dipakai hingga saat ini bahkan hingga ke ruang-ruang perkuliahan. Maka sepatutnya kita pun mengenang buah pemikirannya yang menjadi pemicu perkembangan pemikiran ekonomi kedepannya. Rest in Peace Adam Smith (1723-1790).

 

Mustafainul Akhyar (Manajemen, 2015)

[1] Merkantilisme yaitu sistem ekonomi yang berkembang dengan mengorbankan negara lain atau penjajahan terhadap suatu bangsa. Tujuan merkantilisme adalah mengumpulkan emas dan perak secara agresif dan menghalalkan segala cara untuk melakukannya. Suatu negara melakukan merkantilisme dengan cara mengirimkan utusan-utusan ke daerah yang jauh untuk mencari tambang emas dan perak dan logam berharga sebanyak-banyaknya.

Add a Comment

Your email address will not be published.