Resensi Buku: Filsafat untuk Para Pemula

Peresensi         : Wily Reinhard

Judul Buku      : Filsafat untuk Para Profesional

Editor              : F. Budi Hardiman

Tebal              : 228 halaman

Penerbit           : Penerbit Buku Kompas

Cetakan          : 2016

ISBN               : 978-979-709-987-9

 

Resensi

Filsafat seringkali dianggap sebagai salahsatu bentuk pengetahuan yang berat dan sulit, karena filsafat seringkali berusaha untuk mencari esensi dan kebenaran akan sesuatu. Orang pun cenderung untuk menghindari segala sesuatu yang berbau filsafat karena terlalu mengawang-awang dan abstrak. Namun dalam buku ini, editor yang bernama F. Budi Hariman ini mencoba mengajak kita untuk berfilsafat dalam kaitannya dengan profesi dan profesional pada bab I dan mencoba menuangkan dalam sembilan profesi, yaitu :konsultan diet pada bab II; pembantu rumah tangga pada bab III; agamawan pada bab IV; perancang busana dan pialang saham pada bab V; perusahaan iklan pada bab VI; perawat tubuh pada VII; turis, peziarah, dan pengembara pada bab VIII; sastrawan pada bab IX, dan pensiunan pada bab X. Setiap bab memiliki masing-masing tokoh-tokoh yang mendasarinya, sehingga memberi wawasan yang luas bagi pembaca.

Pada bab I yang berbicara mengenai profesi dan komitmennya, editor menggunakan pemikiran Plato untuk menjelaskan esensi dan makna mengenai profesi tidak mutlak sebagai sebuah pekerjaan belaka, tetapi juga kegiatan yang berdasarkan kemampuan khusus dan ikut serta membentuk identitas dan kepribadian seseorang. Bab ini juga mengajak kita untuk meahami lebih jauh akan makna persahabatan yang sebenarnya tidak terbatas pada keterikatan dua orang, tetapi ada pihak ketiga yang membantu kedua orang tersebut menjalin persahabatan

Pada bab II, pemikiran Episkuros (Epicurus) mengenai hidup bebas dari penderitaan menjadi landasan pada bab ini. Bab ini secara umum membahas bagaimana hidup dapat terlepas dari kesusahan dan dapat menikmati hidup yang penuh kesenangan, namun secara khusus bab ini menjelaskan bagaimana kita memperoleh kebahagiaan melalui pola makan dan memperoleh kebahagiaan yang seutuhnya.

Pada bab III, dialektika Hegel tentang teori tuan-budak membantu kita untuk memahami bagaimana mengenai konsep sejati dari ‘ada’ tidak hanya hanya, tetapi ‘menjadi’. Bab ini juga mengajak kita bagaimana di dalam masyarakat ini individu-individu terikat satu sama lain oleh hubungan tuan-budak, dan tidak dapat lepas oleh adanya saling ketergantuan budak terhadap tuannya dan tuan terhadap budaknya.

Pada bab IV, atheisme -antropoteologisme- Heuerbach dan pemikiran Marx tentang agama menjadi dasar pada bab ini. Bab ini menerangkan bagaimana Heuerbach mendefinisikan antropologi sebagai dasar teologi dan manusia adalah Allah, dan Marx mendefinisikan manusia sebagai inti dari agama. Pada bab ini jelas terlihat bagaimana Heuerbach dan Marx berusaha untuk memberi pemahaman bahwa manusia adalah inti dari Allah dan agama, dan terlihat jelas bahwa unsur-unsur atheisme terlihat dari usaha Heuerbach untuk menjatuhkan teologi melalui perlawanan terhadap sebah ayat Kitab Suci. Namun, bab ini juga disertai oleh kritikan dari penulis itu sendiri bahwa Heuerbach dan Marx hanya memberi fungsi dari Allah dan agama, namun tidak mampu mendefinisikan. Penulis memberi pandangan melalui penalaran yang menimbulkan kontradiksi Heuerbach dan Marx atas usaha mereka untuk mendefinisikan hal itu.

Pada bab V, pemikiran Simmel mengenai uang dikaitkan dengan para perancang busana dan para pialang saham. Secara umum bab ini menjelaskan bagaimana perbedaan kehidupan metropolis dan kehidupan pedesaan dan bagaimana para perancang busana dan pialang saham menunjang diri mereka dan kebutuhan kehidupan metropolis.

Pada bab VI, pemikiran Mercuse melalui buku “One Dimensional Man” menjadi bahan telaah. Secara umum buku ini membahas bagaimana perusahaan iklan melakukan berbagai usaha untuk mengaburkan kebutuhan palsu dan kebutuhan sebenarnya, serta bagaimana perusahaan iklan melakukan pencitraan produk-produknya.

Pada bab VII, Merleau-Ponty dan konsep tubuh-subjek menjadi landasan pembahasan bada bab ini. Secara umum buku ini membahas mengenai bagaimana editor mengajak kita untuk memahami konsep Merleau-Ponty tentang tubuh-subjek dan kaitannya dengan orang-orang yang berusaha untuk merawat tubuh demi menjaga bentuk fisik atau penampilan mereka

Pada bab VIII, pemikiran Bauman akan afiliasi seseorang menjadi bahan telaah. Pada bab ini dijelaskan bagaimana orang-orang “berkelana” atau “bepergian” dan berafiliasi terhadap lingkungannya.

Pada bab IX, pemikiran Rorty menjadi bahan telaah. Secara umum, bab ini mengaitkan bagaimana filsafat dikaitkan dengan kehidupan dan profesi sebagai seorang sastrawan

Pada bab X, pemikiran Heidegger menjadi landasan filsafat. Bagaimana kemudian para pensiunan melakukan profesinya sebagai pensiunan yang berusaha untuk melakukan kebaikan karena ketakutan akan kedekatannya dengan sesuatu yang disebut dengan kematian.

Add a Comment

Your email address will not be published.