Kapan Kebahagiaan Datang?

Kapan sarjana?

Kapan kerja?

Kapan nikah?

Kapan punya anak?

Sejumlah pertanyaan yang mungkin saja pernah kalian para pembaca tulisanku menerimanya. Bagaimana respon kalian? Adakah diantara kalian yang merasa kesal jika pertanyaan tersebut ditujukan kepada kalian, ataukah diantara kalian ada yang justru merasa berterimakasih kepada si penanya karena telah mengingatkan dan mengevaluasi, ataukah diantara kalian ada yang justru biasa-biasa saja which means ‘bodoh amat’? Train your honesty.

Sedikit ulasan terkait pertanyaan yang ku terima beberapa minggu yang lalu “Kapan nyusun skripsi?” dari kedua orang tua dan tetangga komplek saat bertemu di depan pagar rumah. Ya, saya baru mendapatkan 1 macam pertanyaan dari 4 macam pertanyaan yang ku sebutkan diatas sebelumnya. Mungkin karena saya masih berstatus mahasiswa yang menuju menjadi mahasiswa tingkat akhir. Dan responku hanya

“Doakan saja yang terbaik”.

Para orang tua yang khawatir akan masa depan anaknya, tentu telah menyusunkan beberapa planning agar anaknya dapat hidup sejahtera dan bahagia. Tetapi ada kalanya planning yang disusun tersebut tidak sesuai terhadap diri anak itu sendiri. Ekspektasi yang dibangun oleh para orang tua terkadang terlalu tinggi. Sementara ekspektasi yang dibangun oleh seorang anak, seperti saya, tidak setinggi yang dibangun oleh orang tua saya. Yang sedang saya lakukan, saya upayakan, dan saya fokuskan hanyalah bagaimana saya menikmati proses ini. Proses perkuliahan. Proses menuntut ilmu. Ilmu yang ku dapatkan dari bangku sekolah dan perkuliahan, semua ku niatkan untuk ibadah. Ibadah untuk anak-anakku kelak. Mungkin tidak sedikit dari kalian yang ingin bekerja kantoran atau buka usaha setelah S1 nanti, tetapi berbeda denganku yang hingga hari ini belum memikirkan rancangan hidup setelah S1.

Seperti yang dikatakan oleh Gita Savitri, youtuber dan blogger Indonesia yang terkenal dan sedang menempuh jenjang pendidikan S1 di Jerman dalam videonya berjudul “Setelah S1, what’s next?”; planning memang dibutuhkan tetapi saya tidak ingin merasa dibatasi oleh planning yang saya buat sendiri. Gita lebih memilih fokus terhadap apa yang ia kerjakan, ia menutup kuping terhadap 4 pertanyaan yang telah ia dapatkan, dan sedang melakukan pembuktian kepada dirinya sendiri. Ia tidak ingin terjebak dalam social pressure masyarakat. Gita ingin membuktikan ekspektasi yang ia bangun sendiri oleh dirinya apakah telah berhasil atau ternyata melebihi diluar dugaannya.

Terinspirasi dan tersadarkan oleh opini Gita, saya pun ikut menuangkan sedikit opini lewat tulisan kali ini. Inti dari menjalani hidup, kita ingin selalu merasa bahagia. Tolok ukur kebahagiaan seseorang berbeda dengan seseorang lainnya. Ada yang merasa bahagia selepas S1 kemudian mempersunting atau dipersunting, ada juga yang merasa bahagia selepas S1 kemudian melanjutkan pendidikan S2nya, dan ada juga yang merasa bahagia selepas S1 kemudian sibuk traveling sebagai volunteer dalam beberapa kegiatan sosial. Begitu banyak bentuk apresiasi diri terhadap tanggung jawab yang telah diselesaikan sebagai mahasiswa setelah kuliah S1. Hidup kita tidak perlu selalu sama dengan yang lain. Mengapa begitu takut untuk berbeda? Mengapa begitu kesal terhadap social pressure? Andai begitu, kapan kalian bahagia? Train your honesty.

 

Oleh: Dian Permatasari Denka’a (Akuntansi, 2015)

Add a Comment

Your email address will not be published.