Unhas dan Kepemilikannya

(sumber: Line)
Universitas seyogianya adalah sebuah tempat untuk menuntut ilmu. Maka, lingkungannya pun hendaknya merupakan lingkungan yang nyaman dan mendukung hakikat tersebut.
Kampusku, Universitas Hasanuddin atau yang lebih akrab disebut Unhas. Kampus yang menyandang akreditasi A dari Ban-PT. Hebat, bukan? Meski tidak berlokasi di tanah Jawa kampusku sudah bisa menyabet gelar tersebut. Padahal kita sama-sama tahu jika pembangunan infrastruktur beberapa tahun kebelakang lebih terkonsentrasi di pulau Jawa. Bagaimana? Apa kalian telah berdecak kagum?
Namun, sesungguhnya ada banyak hal yang tidak disadari oleh ‘orang luar’. Bahkan ‘orang dalam’ pun tidak semuanya yang sadar akan hal ini.
Ada berbagai tempat dan lingkungan di Unhas dan sekelilingnya. Ada gedung-gedung bertingkat, ada pula bangunan-bangunan kosong dan tak terurus. Ah, tentu saja bangunan-bangunan kumuh juga ada. Ada pula pintu-pintu kaca, dan pintu-pintu kayu yang juga sebening kaca dibeberapa bagian. Ruang kelas yang sejuk, hingga yang membuat gerah. Lantai berlapis tegel mengilap, atau lantai semen yang mulai retak. Tembok dan koridor berlapis keramik mahal, atau yang berlukis grafiti dan aspirasi. Taman-taman yang rumputnya tidak pernah lebih dari 5 cm, atau pekarangan dengan ilalang dan rumput tinggi. Jalan setapak yang dilapisi batu-batu indah, hingga jalanan berkelok dan berlumpur. Taman bunga, atau taman sampah. Sudut-sudut dengan uap kopi yang mengepul, atau ruang ‘administrasi’ dengan kertas dan buku yang berjubel. Hingga kolong yang menyimpan kehangatannya tersendiri.
Semua tempat diatas ada disini. Penuh warna, penuh cerita. Menjadikan Unhas sangat beragam.
Mungkin, beberapa orang tidak akan menyukai atau bahkan merasa terganggu dengan atmosfer di beberapa tempat. Pun awalnya saya, begitu mengetahui keberadaan tempat-tempat tersebut. Kaget, bingung, bahkan pernah merasa tidak nyaman. Tidak menyangka akan keberadaan tempat tersebut.
Yang kemudian mengubah prespektif saya tentang tempat-tempat diatas adalah orang-orang ditempat itu sendiri. Dari situ sebuah kesadaran terbentuk. Mahasiswa, birokrat bukanlah satu-satunya entitas di Unhas. Ada banyak entitas lainnya di Unhas. Bahkan, saya berani mengasumsikan jika entitas-entitas tersebut lebih membutuhkan Unhas dibanding mahasiswa dan birokrat Unhas itu sendiri.
Beberapa mungkin tumbuh bersama Unhas, dan beberapa lainnya terikat dengan Unhas. Yang lain mungkin menganggap Unhas sebagai suatu tempat di sudut kota, sedang yang lain bisa jadi menganggap Unhas sebagai seluruh dunianya. Yang lain bahkan bergantung kepada Unhas, sedang yang lainnya justru ikut membangun Unhas. Pada titik ini ada kesadaran lain yang terbentuk. Unhas bukan hanya ‘milik’ mahasiswa, birokrat, atau bahkan negara. Unhas milik seluruh entitas yang bersentuhan dengannya.
Miris rasanya. Begitu salah satu entitas memandang diri mereka lebih superior dari entitas lainnya. Bahkan disaat tertentu, mereka mencoba menghapus eksistensi entitas lainnya. Mereka mungkin tidak tahu, atau mungkin juga lupa. Unhas yang saat ini kita kenal tidak terlepas dari peran serta entitas disekitarnya.
Kau tidak serta-merta memiliki Unhas hanya dengan membayarkan UKT. Kau tidak serta-merta memiliki Unhas hanya karena kau bekerja untuknya. Kau tidak serta-merta memiliki Unhas hanya karena kau berkuasa dalam beberapa aspek terhadapnya. Kau tidak-serta merta memiliki Unhas hanya karena kau menanam modal padanya. Kau tidak serta-merta memiliki Unhas jika dulunya fakultas ekonomi UI tidak dibuka. Dan kau tidak serta-merta memiliki Unhas jika Tuan Tanah sebelumnya tidak mengikhlaskan tanahnya menjadi tempat Unhas bernaung.
‘KEBERSAMAAN MILIK KITA’
Tolong, rasanya saya ingin meludah. Yah, maaf saja jika ini agak jorok. Saya hanya ingin agar orang yang membaca tulisan ini tahu seperti apa perasaan saya ketika menulis ini.
Siapa ‘kita’ yang dimaknai dalam tulisan ini? Mengapa masih ada entitas yang memarginalkan entitas lainnya?
Bung, tata bahasa yang saya gunakan mungkin bukan dari jenis yang paling sopan. Pun menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain bukanlah hobi saya. Hanya saja saya merasa agak bingung dengan fenomena yang terjadi belakangan ini.
Apa kebingungan dan ketidaktahuan yang diungkapkan dapat mencelakakan?
Jika iya, mungkin saya harus berhenti bertanya dikelas. He-he.
Oleh: Aim (Mahasiswa yang Ingin Lulus)