2018: Akan Kemana Kita?

Kita dan modernisme.

 

“Kita sudah meraksasa dalam sains dan teknologi, tetapi masih merayap dalam etika.”

 

Ungkapan di atas membuat saya sejenak terdiam ketika membaca tulisan seorang teman. Hanya memuat beberapa kata namun cukup menggambarkan realitas masyarakat global hari ini. Kita menyaksikan hari ini Ilmu pengetahuan dan Teknologi begitu pesat berkembang, sementara nilai-nilai luhur bangsa justru mengalami kemerosotan. Menurut saya, Ilmu pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) ibarat Pedang Naga Puspa. Apabila berada di tangan pendekar yang berwatak jahat, maka bersiap saja terjadi kekacauan di tengah masyarakat akibat pedang itu. Pun sebaliknya, jika ia berada di tangan pendekar berwatak baik, maka pedang ini akan berguna dalam menegakkan kebenaran serta keadilan.

 

Arus globalisasi kini telah mengantarkan kita ke sebuah dunia baru, yang mau tidak mau, kita mesti beradaptasi dengannya. Sehubungan dengan itu, kita juga melihat perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi telah membawa kita ke era yang serba praktis. Teknologi telah melahirkan berbagai produk unggulan yang dibanggakan oleh para penggunanya. Manusia seolah ingin memberitahukan pada makhluk hidup selainnya bahwa ia mampu menciptakan mahakarya yang tak ada tandingannya. Ya, Tuhan memang menganugerahkan kelebihan tersebut demi melayani manusia itu sendiri. Namun, apakah penggunaan teknologi hari ini benar-benar berorientasi kemanusiaan? ataukah justru lebih banyak membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia?

 

Pada pertengahan abad ke-20, ratusan orang kulit hitam di Alabana menderita penyakit syphilis. Ilmuwan ingin meneliti efek antibiotik. Mereka dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama  diberi suntikan “bohongan” (phony shots). Sedangkan kelompok kedua diberi perawatan sebaik-baiknya. Tahun 1952, penelitian ini menunjukkan hasil memuaskan. Pada kelompok pertama (yang tidak diberi antibiotik), terjadi dua kali lebih banyak kematian dibanding kelompok kedua. Etiskah tindakan peneliti untuk memilih yang satu harus mati dan yang lain boleh hidup? Apakah hal ini tidak bertentangan dengan principle of equality?

 

Di sisi lain, dari segi budaya, Ilmu pengetahuan dan Teknologi tidak kalah dalam andil mewarnai kehidupan generasi muda Indonesia. Memprihatinkan, sebab sudah cukup lama kita kewalahan dalam mengatasi kekosongan strategi budaya yang dapat mengantarkan bangsa ini menuju arah yang seharusnya. Kemajuan teknologi khususnya di bidang informasi dan komunikasi telah berhasil memainkan peran yang kita sendiri sulit mengendalikan dan menjadi sutradaranya. Dapat kita katakan bahwa terjadi sebuah “Perang Kebudayaan” di situasi ini, dimana suatu kekuatan politik atau ekonomi melakukan penyerangan atau soft terror terhadap prinsip-prinsip dan unsur-unsur kebudayaan suatu bangsa.

 

Perang kebudayaan menginginkan generasi muda untuk ‘melucuti sendiri’ keyakinan (prinsip) dirinya dengan berbagai cara. Pertama, menggoyahkan keyakinan mereka terhadap agamanya, menjauhkan generasi muda dari kearifan lokal – adat istiadat dengan gempuran gagasan modernisme, mengikis jiwa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan generasi muda (dengan beragam bentuk pengalihan opini), serta menjauhkan kita dari pemikiran efektif yang dapat melahirkan kekuatan besar bagi bangsa ini. Sebaliknya, kita dikehendaki untuk memiliki jiwa yang ketakutan dan tak punya nyali untuk melawan penyimpangan yang kita saksikan di dunia sekitar kita.

 

Lantas apa yang mesti kita lakukan sebagai suatu bangsa demi menghadapi arus yang tidak biasa ini?

 

Indonesia sebagai bangsa yang telah mengukuhkan falsafah dan pandangan hidupnya yaitu Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, dalam realitanya dikepung oleh desakan ideologi transnasional.  Mungkin kita dapat dengan sigap bertindak jika sebuah kekuatan militer (fisik) berusaha menyerang kita, namun bagaimana jika kekuatan itu berwujud non-fisik –tidak kasat mata-?

 

Kita mengenal terdapat beberapa ideologi ‘import’ yang dewasa ini telah menyusup ke dalam kehidupan masyarakat, termasuk generasi muda yang nantinya akan menjadi pilar bangsa ini. Sebut saja salah satunya adalah ideologi kapitalisme yang telah membawa masyarakat kita kepada budaya konsumerisme, entah itu dalam hal kuliner hingga fashion. Spirit monopoli perdagangan serta ambisi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya di atas hasrat konsumsi massa telah menjadikan kita semakin jauh dari akar budaya kita yang sebenarnya. Nilai-nilai luhur Pancasila tentu saja telah jauh di tinggalkan. Misalnya penerapan pola hidup sederhana, tidak boros, serta saling berbagi.

 

Mari kita mengulas fenomena yang hari ini begitu dahsyat mempengaruhi generasi kita. Tidak jarang di media kita disuguhkan tayangan tentang sebuah model fashion tertentu yang kemudian di blow-up dengan cara ditayangkan berulang-ulang demi menciptakan ‘trend’ tertentu. Tujuannya tidak lain ialah mendorong hasrat konsumsi masyarakat. Kerap kali kita menyaksikan betapa produk tertentu tersebut tidaklah memiliki nilai yang berarti, namun kemudian dengan cepat menjadi konsumsi massal karena telah di blow-up sedemikian rupa. Di masa lalu, kita telah melihat bagaimana orang-orang menciptakan brand bahwa kulit putih itu lebih indah daripada kulit hitam. Brand itu kemudian di blow-up untuk menciptakan sebuah trend warna kulit putih agar produk kosmetik khususnya pemutih menjadi laris di pasar. Munculnya para selebgram yang kemudian menjadi tokoh idola generasi ‘zaman now’ juga menjadi salah satu fenomena yang menarik untuk kita amati lebih jauh.

 

Akan kemana kita?

 

Solusi alternatif yang seharusnya sedari dulu kita sadari ialah menggali kembali nilai-nilai luhur Pancasila. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sukarno bahwa Pancasila merupakan sebuah pandangan dunia (weltanschauung) yang memang murni digali dari kebudayaan bangsa ini. Pancasila selama ini hanya sebatas dihapalkan, dilafalkan di ruang seremonial belaka. Padahal, pancasila memuat sekumpulan nilai universal yang merupakan intisari dari semua ajaran agama. Nilai Ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan serta nilai-nilai keadilan yang menjadi hakikat tujuan penciptaan manusia dan alam semesta. Saya (secara pribadi) bahkan menafsirkan bahwa kata “hikmah kebijaksanaan” dalam sila ke-4 memuat makna yang sangat agung, yakni hikmah kebijaksanaan yang dibawa oleh seluruh Nabi utusan Tuhan di muka bumi. Sebagaimana yang termaktub dalam kitab suci QS.Al baqarah:129.

 

Resolusi kedua yang tak kalah penting bagi kita ialah membenahi cara berfikir agar tidak mudah tertipu oleh berbagai rekayasa yang disuguhkan pada kita, baik itu melalui tontonan ataupun hoax-hoax yang bertebaran di media sosial.

 

Informasi yang berisi konten kebencian dan isu perpecahan berbau SARA, hari ini adalah santapan sehari-hari masyarakat Indonesia. Hanya karena banyak orang yang men-share suatu postingan, lantas kita juga ikut-ikutan membagikannya, tanpa melakukan cross-check, apakah informasi tersebut fakta atau bukan. Inilah efek dari kerapuhan kerangka berfikir kita. Dalam ilmu logika, ada beberapa jenis kesalahan berfikir (fallacy). Salah satunya ialah ‘Argumentum ad populum’, dimana seseorang menganggap sesuatu itu benar hanya karena banyak orang yang mempercayainya. Sejak kapan ukuran mayoritas menjadi standar sebuah kebenaran?
Kita juga sering melakukan kesalahan berfikir ‘Argumentum Ad Verecundiam’, dimana kita beragumen untuk mebenarkan sesuatu berdasarkan otoritas seorang tokoh atau institusi yang boleh jadi merupakan hasil blow-up juga. Kita menjadi cuti nalar, meliburkan daya analisis, dan dengan emosional, kita segera membagikan informasi yang kita anggap benar itu kepada halayak.
Perlu ditekankan kembali, kita membutuhkan sebuah rekonstruksi kerangka berfikir, agar tidak terjebak dengan apa yang tampak saja, melainkan juga memahami apa yang ada di baliknya. Sebab, Tuhan menganugerahkan kita akal untuk dapat berfikir dan kecendrungan mulia untuk mengikuti kebenaran.

Ataukah… selamanya ingin menjadi KORBAN PEMBODOHAN?!

 

“Masa lalu boleh saja menjadi romantisme sekaligus trauma,

sementara masa depan

tetap saja akan menjadi harapan sekaligus kecemasan”

–xx-

 

Selamat Tahun Baru!

 

Kolaka, 31 Desember 2017

 

Oleh: Titania Ramadhanti, Ilmu Ekonomi, 2016.

(Email: nyanya.swan@gmail.com)

Add a Comment

Your email address will not be published.