Membaca Kapitalisme
Membaca Kapitalisme
(Sebuah Cara untuk Mengidentifikasi Lawan)
“Diam sebentar membedakan yang teringinkan dan dibutuhkan..”
FSTVLST
Pertama, tulisan ini hadir untuk menggambarkan diskursus kapitalisme hari ini. Bagaimana kapitalisme lahir dan membentuk dirinya menjadi sebuah sistem yang mapan tak lain dan tak bukan tentunya melalui proses penghisapan. Hal ini tentunya sangat kontradiksi dengan alasan kapitalisme (yang katanya) hadir untuk melawan dominasi raja pada zaman feodalisme namun pada kenyataannya kapitalisme justru menciptakan mode penindasan baru antara si pemilik faktor produksi (borjuis) dengan kaum buruh. Beberapa bagian di tulisan ini menggambarkan objek fokus kapitalisme atau yang menjadi nyawa dari kapitalisme itu sendiri.
Tulisan ini terbagi kedalam beberapa sub bagian mulai dari awal mula peradaban manusia, bagaimana kapitalisme lahir hingga mampu menjadi sebuah sistem yang mapan sampai pada pembahasan wajah baru kapitalisme di abad ke-21 ini.
Awal peradaban manusia
Kehidupan manusia saat ini sudah jauh (waktu) dari zaman awal peradaban manusia ,” zaman purba”. Zaman dimana manusia hidup dan mempertahankan hidupnya dengan cara yang sangat sederhana melalui kemampuan dan pengetahuan yang mereka miliki. Mulai dari belajar menggenggam melempar hingga membuat alat, kemampuan ini akhirnya digunakan dalam berburu untuk mempertahankan hidupnya. Mereka hidup hanya untuk hari ini, tidak memikirkan untuk hari esok oleh karenanya hasil buruan mereka nikmati untuk hari ini. Namun, seiring waktu mereka kemudian akhirnya mulai berfikir untuk besok , mereka mulai hidup menetap disuatu tempat dan mempertimbangkan kondisi persediaan makanannya untuk mengantisipasi bahaya yang datang, seperti bencana atau cuaca buruk.
Proses perkembangan pengetahuan tersebut terus berlanjut hingga manusia menemukan cara lain untuk mempertahankan hidupnya, yaitu melalui proses Bercocok tanam. Pembagian kerja pun mulai dikenal di zaman ini dimana laki-laki bertugas untuk pergi berburu sedangkan perempuan bercocok tanam di rumah. Namun seiring perkembangan waktu manusia mulai melihat potensi reproduksi dari hewan hasil buruan mereka sebagai bahan makanan yang bisa menghemat tenaga. Hingga potensi hewan tersebut tidak lagi sebatas persiapan bahan makanan. Hewan-hewan tersebut kemudian banyak digunkan untuk membajak lahan, dari sinilah awal mulanya patriarki, karena perempuan yang dulunya tugasnya di lahan tersingkir ke dapur.
Proses perkembangan pengetahuan manusia semakin maju, manusia tidak lagi berproduksi berdasarkan kebutuhan , melainkan ada hasil lebih dari produksi tersebut untuk disimpan dan ditukarkan dengan manusia lainnya . Di sinilah awal terciptanya pasar.
Karena adanya dorongan untuk memperoleh hasil lebih yang banyak akhirnya mendorong manusia untuk melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah lain yang pada akhirnya memperkenalkan mereka dengan peperangan baik untuk merebut maupun mempertahankan hasil lebih tersebut.
Dari proses dialektika perkembangan peradaban manusia tersebut kita bisa sampai pada hari ini dimana manusia hidup bukan lagi sebagai suatu proses penyempurnaan kemanusiaannya melainkan (demi) proses penumpukan-penumpukan kapital.
Lahirnya Kapitalisme
Sebelum kapitalisme lahir , sistem ekonomi pada mulanya adalah sistem ekonomi merkantilis. Sistem ekonomi ini menganggap bahwa kesejahteraan suatu negara hanya ditentukan oleh banyaknya asset atau modal yang disimpan oleh negara seperti emas (logam mulia). Sistem ekonomi ini meniscayakan dominasi kekuasaan berada di tangan para bangsawan atau raja. Kondisi ini yang menyebabkan Adam Smith dalam bukunya yang berjudul “the wealth of nations”, menyatakan kritik terhadap dominasi tersebut dengan Liberalisme (klasik). Smith menyatakan bahwa kesejahteraan suatu negara itu bergantung pada individu, olehnya itu setiap individu mesti dijamin kebebasannya untuk memiliki hak kepemilikan pribadi atas faktor-faktor produksi. Pemerintah tidak perlu ikut campur dalam pasar , biarkan permintaan dan penawaran mencapai titik equilibriumnya sendiri melalui bantuan tangan-tangan tak terlihat itu “invisible hand”.
Liberalisme merupakan paham yang memandang manusia memiliki hak dan kebebasasn sejak lahir untuk melakukan proses ekonomi yaitu produksi, dsitribusi dan konsumsi. Oleh karenanya pasar akan tetap ada meskipun tidak ada negara yang mengatur perekonomian. Setiap individu memiliki hak atas setiap faktor produksi. Setiap individu berhak atas kesejahteraannya sendiri, ketika setiap individu telah hidup sejahtera maka negara akan sejahtera dengan sendirinya. Smith menggambarkan individu adalah individu ideal yang memliki kebaikan hati yang tinggi, Smith menafikkan “keserakahan manusia” bahwa kekayaan yang dimiliki tidak akan terdistribusi secara merata dikarenakan terjadi penumpukan-penumpukan kekayaan pada beberapa kelompok sebaliknya terjadi “perampasan” kekayaan di pihak lain. Dari paham filsafat liberalisme inilah kemudian akhirnya kapitalisme berdiri.
KAPITAL-Isme
Kapitalisme adalah sebuah sistem yang “menuhankan” akumulasi modal. Adapun komponen penyusun dalam kapitalisme itu adalah manusia dan kapital itu sendiri. Manusia dalam kapitalisme adalah dia yang bekerja untuk menghasilkan kapital dan dia sang pemilik kapital itu sendiri. Kedua pihak ini terjebak dalam sebuah hubungan penghisapan melalui proses produksi itu sendiri yang terbentuk ke dalam dua kelas masyarakat yaitu kelas borjuis bagi si pemilik faktor produksi dan kelas proletar bagi si buruh atau pekerja yang menghasilkan produk itu sendiri.
Kapitalisme hadir “katanya” sebagai alat pembebasan atas segala bentuk perbudakan yang terjadi di zaman feodal, untuk melawan dominasi raja terhadap masyarakat. Pembebasan dari segala bentuk pembayaran upeti atas hasil produksi masyarakat justru berujung pula pada pembebasan hak kepemilikan masyarakat atas faktor produksi oleh para kaum-kaum borjuis sekaligus menuju pada zaman perbudakan baru, menjadi budak atas barang dan hasrat manusia itu sendiri,
Dalam sistem produksi kapitalis uang digunakan untuk membeli komoditas tertentu untuk dapat menghasilkan uang yang lebih banyak. Secara matematis dapat digambarkan sbb :
M – C – M’
Dimana, M = Uang (Awal) yang dimiliki kapitalis
C = Komoditas
M’ = Uang (Akhir) + nilai lebih
Artinya para kapitalis menggunakan uang (modal/kapital) dalam membeli faktor produksi termasuk bahan baku dan tenaga kerja untuk menghasilkan suatu komoditas yang dapat dijual untuk memperoleh uang (akhir) yang harus lebih besar dari modal yang digunakan tadi. Dalam upaya untuk memperoleh modal akhir yang lebih tinggi , kapitalis akan berupaya untuk meminimalkan biaya produksi yang digunakan. Berdasarkan rumus umum tersebut kita membagi biaya produksi menjadi dua yaitu, fixed cost untuk Bahan baku dan variable cost untuk biaya tenaga kerja. Karena tenaga kerja yang besifat variable cost, maka yang akan ditekan oleh kapitalis adalah upah dari tenaga kerja itu sendiri agar dapat memperoleh akumulasi kapital yang lebih besar.
Selain rumus umum kapital, hal lain juga yang menjadi unsur pembangun kapitalisme yakni adanya, kerja, upah, komoditas, nilai lebih, dan alienasi sebagai konsekuensi daripada kapitalisme.
Nilai dan Nilai Lebih
Objek ilmu ekonomi adalah kebutuhan manusia, dalam proses pemenuhan kebutuhan tersebut tentulah harus terdapat komoditas yang akan menjadi “Alat Pemuas Kebutuhan”, karena adanya keterbatasan alat ini maka dalam pemenuhan kebutuhan manusia terjadi proses pertukaran. Aristoteles dalam melihat hubungan sosial dalam konteks ekonomi mengatakan bahwa “Tidak akan ada asosiasi tanpa pertukaran , tidak akan ada pertukaran tanpa kesetaraan , dan tidak akan ada kesetaraan tanpa keseukuran “. Lalu bagaimana menentukan keseukuran antara dua komoditas yang berbeda ? Sebuah komoditas lahir dari proses kerja, kerja yang menjadikan suatu produk menjadi bernilai. Sehingga keseukuran dari dua komoditas dilihat dari kerja itu sendiri.
Marx kemudian mendefinisikan nilai sebagai jumlah kerja sosial yang perlu untuk menghasilkan suatu komoditi.(Baca :Nilai). Nah berangkat dari definisi tersebut seorang pekerja pada dasarnya mereka lah yang menciptakan suatu nilai dalam komoditas. Dalam rumus umum kapitalisme terjelaskan bahwa modal akhir yang diperoleh dalam mode produksi kapitalis harus lebih besar dari modal awal yang digunakan untuk membeli faktor produksi, selisih dari M’ dan M inilah yang kemudian disebut sebagai nilai lebih. Nilai lebih inilah yang kemudian diakumulasikan oleh para kapitalis untuk meningkatkan modal yang dimiliki.
Kerja
Kerja adalah sebuah proses pengolahan bahan baku untuk menjadi sebuah produk yang siap digunakan oleh para tenaga kerja. Kerja menjadi unsur terpenting dalam proses produksi, tanpa kerja tidak akan tercipta suatu nilai produk. Bahan baku , mesin tidak akan berguna tanpa tenaga manusia dalam menjalankannya. Hanya kerja yang mampu memberikan nilai pada suatu produk. Nilai itu sendiri lahir dari sitem kapitalisme, karena menilai suatu pertukaran bukan dari kegunaannya melainkan “nilai” yang dibawa oleh produk tersebut.
Kerja merupakan unsur terpenting dalam proses produksi, olehnya itu orang-orang yang melakukan kerja itu sendiri harusnya memperoleh nilai lebih ketimbang dengan mereka yang hanya duduk menunggu hasil atas kepemilikan faktor produksinya. Sebuah mesin , modal tidak akan mampu menciptakan sebuah nilai tanpa tenaga dari manusia (Baca : Buruh). Namun realitas hari ini yang terjadi justru mereka yang melakukan kerja yang justru mengalami perlakuan tidak adil dari hasil produksinya , apakah ini keadilan yang dijanjikan oleh kapitalisme ?
Sistem pengupahan yang dilakukan para kapitalis terhadap buruh yang katanya telah melalui sebuah kesepakatan pun ternyata masih saja terjadi perampokan dan peramapasan atas tenaga buruh. Sungguh, mereka para buruh telah dirampas hak kepemilikannya terhadap faktor produksi pun tenaganya dirampok lagi oleh mereka para kapitalis. Setiap buruh di upah berdasarkan kesepakatan jam kerja , dalam sehari mereka dituntut bekerja selama 8 jam dari pukul 07.00-18.00. Namun pada realitasnya dalam melakukan proses produksi untuk produk yang setara dengan upah yang diperoleh waktu yang dibutuhkan tidak mencapai 8 jam tersebut, akan tetapi mereka tetap harus bekerja selama 8 jam , produk yang dihasilkan setelah waktu tersebut itulah yang dirampas oleh para kapitalis , yang ditumpuk untuk menambah pundi-pundi modal mereka.
Apakah ini sebuah sistem pembebasan ? atauka ini sebuah sistem penindasan baru yang dibungkus rapi oleh hak kepemilikan “sekelompok” individu atas faktor produksi yang justru memperluas kesenjangan sosial di masyarakat ?
Ter-Asing-Kan (Alienasi)
Kesenjangan sosial yang diciptakan oleh kapitalisme inilah yang menciptakan konsep alienasi di masyarakat, entah itu alienasi antara buruh dan produknya atau bahkan buruh dengan lingkungannya.
Dalam sebuah proses produksi meniscayakan sebuah output berupa produk yang dihasilkan oleh tenaga buruh yang bekerja dalam mengelolah modal atau faktor produksi yang ada. Antara produk dan buruh adalah sebuah kesatuan artinya kedua entitas tersebut memiliki hubungan sebab akibat, buruh menjadi sebab adanya produk, maka buruh sesungguhnya memiliki hak kepemilikan atas produk tersebut. Namun dalam sistem kapitalisme buruh dan produk menjadi dua hal yang terpisah yang dianggap tidak memiliki hubungan apapun. Seorang buruh yang bekerja di Pabrik smarthphone misalnya karena upah yang diperoleh di pabrik tersebut rendah hanya untuk mempertahankan hidupnya dari hari ke hari , maka ia tidak dapat memiliki sebuah smarthphone karena ketidakmampuannya untuk membeli. Nah hal ini kemudian yang menggambarkan bagaimana wujud keterpisahan antara si buruh dan hasil produksinya.
Selain dengan hasil produksinya, buruh pun ternyata mengalami keterasingan dari lingkungan kehidupannya. Tuntutan kerja 8 jam dalam sehari pun menjadikan buruh tidak mampu lagi mengembangkan dirinya. Dari pagi hingga petang mereka berkutat dengan produksi , pulang dari kerja mereka kelelahan sesampai dirumah istirahat tidur besok paginya berangkat lagi ke tempat kerja , begitu siklus hidup buruh setiap harinya , hingga mereka kehilangan waktu untuk belajar,mengembangkan potensi diri, terlebih lagi untuk bersantai menikmati kehidupannya bersama keluarga.
KAPITALISME Abad 21
Sebelumnya telah dibahas bagaimana kapitalisme menekankan akumulasi modal atau optimalisasi kentungan yang diperoleh oleh perusahaan. Karena logika optimalisasi keuntungan yang harus maksimal oleh kapitalisme meniscayakan adanya peningkatan jumlah produk yang dihasilkan disamping itu ada pula penekanan biaya produksi seminimal mungkin. Peningkatan jumlah produk barang berbanding lurus dengan peningkatan penerimaan perusahaan. Logika ini kemudian yang menyebabkan para kapitalis senantiasa meningkatkan jumlah produksi barang tanpa melihat aspek permintaan barang tersebut di masyarakat. Karena produksi yang terus ditingkatkan justru akan mengantarkan pada overproduksi, karena tingkat daya beli masyarakat yang rendah dikarenakan penghasilannya yang rendah.( baca: Perang Dunia). Kondisi inilah yang menurut marx mampu menjadi titik balik kapitalisme itu sendiri.
Namun, karena kecerdasan para kapitalis tersebut , mereka kemudian merumuskan metode baru untuk mempertahankan kemapanan kapitalisme itu sendiri dengan melakukan ekspansi , baik itu ekspansi wilayah hingga ekspansi hasrat. Ekspansi wilayah dibungkus dengan apik melalui kebijakan-kebijakan internasional yang menempatkan posisi negara-negara kapitalis tersebut sebagai pahlawan penerang bagi negara-negara “dunia ketiga”. Terciptalah kemudian kelas-kelas dunia yang diukur dari seberapa besar tingkat pendapatan per-kapita yang terlalu general dalam mengukur kesejahteraan manusia. Lahirlah kemudian orgaanisasi-organisasi internasional seperti WTO dan IMF sebagai pahlawan untuk keterpurukan ekonomi di negara berkembang , khususnya. Namun dibalik niat tersebut mereka kemudian menguasai suatu negara dengan mengintervensi setiap kebijakan yang dilakukan pemerintah,seperti penghapusan subsidi, privatisasi BUMN, bahkan hingga komersialisasi pendidikan kita hari ini,semisal produk PTN-BH
Namun kapitalisme hari ini tidak berhenti sampai disitu, kapitalisme kemudian menginternalisasi dirinya melalui logika hasrat. Bagaimana media membungkus kapitalisme dengan apiknya. Menjadikan yang semu menjadi nyata, lebih mengutamakan simbol yng melekat ketimbang objek itu sendiri, mengkonsumsi tidak lagi karena kebutuhan melainkan karena dorongan hasrat yang telah dikomodifikasikan oleh kapitalisme melalui tayangan-tayangan di media. Baudrillard mengatakan dalam teori konsumsinya bahawa telah hadir nilai baru dalam logika konsumsi masyarakat yaitu symbolic value ataun nilai simbol artinya orang tidak lagi melihatdari sisi nilai guna maupun nilai tukar melainkan karena adanya nilai tanda simbol yang sifatnya abstrak dan telah terkonsturk di masyarakat melalaui tawaran iklan yang justru menafikkan kebutuhan konsumen itu sendiri. Konsumen tidak lagi berperan sebagai sebagai subjek dalam mengkonsumsi, melainkan menjadi objek dari komoditas itu sendiri.
Lima hari dalam seminggu masyarakat menghabiskan waktu untuk bekerja mengumpulkan pundi-pundi kapital untuk para kapitalis. Sedangkan dua hari di akhir pekan mereka gunakan untuk menghabiskan upah yang mereka peroleh menikmati fasilitas-fasilitas yang diciptakan oleh kapitalis. Bangunan-bangunan restoran fast food yang didirikan oleh kapitalis untuk pengefisienan waktu buruh agar bisa kembali bekerja untuk mereka dibuat semegah mungkin untuk menciptakan citra di masyarakat untuk menunjukkan status sosial mereka. Orang-orang mengkonsumsi tidak lagi di dasarkan pada kelasnya akan tetapi pada kemampuan konsumsinya. Siapapun bisa menjadi bagian dari kelompok tertentu jika sanggup mengikuti pola konsumsi kelompok tersebut. Jika Marx mengatakan kapitalisme akan melahirkan sebuah keterasingan antara produk dengan buruh, Sungguh hari ini kapitalisme telah menciptakan keterasingan baru antara manusia dengan dirinya sendiri.
Bacaan :
Kusumandaru, Ken Budha Karl Marx, Revolusi, Dan Sosialisme “Sanggahan terhadap Frans Magnis-Suseno” Yogyakarta: Resist Book 2004.
Makmuralto, Alto Dalam Diam Kita Tertindas “Memperjuangkan Tata Dunia Baru” Makassar: Liblitera Institute 2004.
Pialang, Yasraf Amir Dunia Yang Dilipat “Tamasya Melampau batas-batas Kebudayaan” Yogyakarta : Jalasutra 2004
Suryajaya, Martin “Asal-Usul Kekayaan “ Yogyakarta: Resist Book 2016.
Oleh: Desy Septiani, Akuntansi 2016.