Do Not Judge a Book by Its Tittle (and Its Genre)!

Apa yang pertama kali terbayang dalam benak kalian saat membaca judul buku “Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh” oleh Dee Lestari? Atau “Tentang Kamu” oleh Tere Liye?

Mungkin beberapa dari kalian membayangkan bahwa dalam buku “Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh” menceritakan tentang kehidupan seorang princess wannabe yang mengharapkan kehadiran seorang prince charming seperti yang ada dalam dongeng-dongeng Disney. Mungkin juga banyak dari kalian yang berpikiran bahawa “Tentang Kamu” yang ditulis oleh Tere Liye hanya berisikan curahan hati seorang pria tentang wanita pujaannya. Tapi sungguh, tidak demikian.

Umumnya novel dengan genre fiksi dianggap hanya memiliki tujuan komersial saja dan hanya banyak membahas cerita-cerita hiperbola remaja, sehingga dipandang sebelah mata. Padahal, ada juga novel yang membidik kerumitan dan kompleksitas atas realitas yang ada di masyarakat. Novel memang tidak secara eksplisit membidik logika kita sebagaimana buku pemikiran atau jurnal, tapi secara tidak langsung ia membidik dua hal: logika dan rasa. Logika dan rasa ini disentuh dari suguhan dialog dan emosi tentang suatu kebenaran yang terbingkai dalam unsur intrinsik semisal tokoh, alur, bahasa, setting, dan sebagainya. Novel mengajak kita untuk memasuki alam perasaan yang mandalam, yang kata Schopenhaur bisa memberi “akses langsung” menuju hakikat terdalam kenyataan itu sendiri.

Beberapa novel terkenal seperti Dunia Sophie, Supernova: Partikel, Negeri para Bedebah, dan Edensor merupakan contoh novel yang lahir dari penelitian, riset, dan analisis panjang dari penulisnya. Buku-buku ini dibingkai sedemikian rupa sehingga mampu mengemas ilmu filsafat, psikologi, sains, dan masalah culture shock dengan gaya yang lebih menarik dan ringan untuk dibaca, apalagi untuk orang-orang yang minatnya kurang terhadap buku-buku teori dan atau buku-buku pemikiran. Intinya, Novel (non-fiksi ataupun fiksi) bisa menjadi sumber bacaan yang sangat informatif.

Adapun beberapa keuntungan membaca novel antara lain:

Menggugah Empati
Manusia sebagai makhluk sosial harus mampu menempatkan diri pada posisi orang lain. Dengan kata lain membiasakan berempati. Hasil penelitian psikolog Raymod Mar mengungkapkan bahwa membayangkan cerita dalam novel fiksi akan mengaktifkan wilayah otak yang bertugas untuk memahami orang lain. Selain itu, novel fiksi juga membuat kita bisa membuka pemikiran dengan memandang dunia dari sisi lain.

Open Minded
Meskipun novel fiksi bukan berisi pemaparan pengetahuan, alur cerita dan perubahan-perubahan dalam plotnya dapat memicu seseorang untuk menjadi lebih open minded. Ini karena banyak hal, situasi, dan budaya baru yang diceritakan.

Memperkaya Tata Bahasa
Penelitian oleh Universitas Emory membuktikan bahwa membaca buku dapat mengaktifkan wilayah otak temporal cortex kiri yang dapat meningkatkan pemahaman tata bahasa.

Meningkatkan Memori
Menurut National Academy of Sciences, daya ingat pembaca novel rutin lebih kuat 32% dibanding mereka yang tidak suka membaca.

Mengurangi Stress
Untuk mereka yang sudah hobi, membaca novel menjadi sweet escape dari rutinitas yang sangat berat yang dihadapi dalam keseharian mereka.

Dari berbagai manfaat tersebut, diharapkan agar teman-teman tidak men-judge isi buku dari judul dan genrenya. Selebihnya, penting tidaknya membaca novel kembali pada preferensi masing-masing individu. Karena segala sesuatu harus berangkat dari kemauan dan keingintahuan yang tinggi.

 

Oleh: Nur Faizah Fauziah, Akuntansi 2015. Anggota Dept. Kesekhum Sema FEB-UH 2017-2018

 

 

Reference
https://www.zetizen.com./show/7032/ini-7-manfaat-membaca-novel-fiksi-dan-fantasi

 

Add a Comment

Your email address will not be published.