Sri Mulyani; Pemegang Perekonomian Indonesia

Menggambarkan kondisi perekonomian Indonesia saat ini memang tak segampang menarik garis demi garis menghasilkan sketsa monokrom sederhana. Rumitnya perekonomian Indonesia menjadi tantangan bagi tokoh satu ini. Mengapa harus dengan coretan? Tak lengkap rasanya kata-kata tak dibumbuhi dengan coretan, jelas ini hanya memberi gambaran mengenai beliau walau tak langsung memaknai rumitnya perekonomian Indonesia saat ini.

Lama berkiprah dalam dunia perekonomian, Sri mulyani bak pahlawan yang tidak bertempur di medan perang, namun berperang dengan gagasannya yang telah memberi sumbangsi besar bagi permasalahan Indonesia. Lantas, apa yang telah Indonesia berikan? Yang menjadi sosok inspiratif dengan gagasan-gagasan yang ada. Salah satu gagasan beliau dengan lahirnya lembaga LPDP dimana ribuan putra-putri bangsa telah diberangkatkan menuntut ilmu di dalam maupun di luar negeri melalui beasiswa LPDP yang digagasnya tersebut. Selain itu, Sri Mulyani juga menjadi bahu bagi Indonesia ketika krisis ekonomi parah yang menghantam Amerika Serikat. Salah satu hal yang bisa dibanggakan ketika Indonesia bisa terselamatkan dari krisis ekonomi, dikala perekonomian dunia yang merosot. Pikirkan saja, jika negara maju mengalami kemorosotan, lantas bagaimana Indonesia bisa terselamatkan? Negara yang masih tergolong negara berkembang dan justru mampu bertahan. Disinilah Sri Mulyani mengambil andil penting, melalui pemikiran yang kuat yang menjadi senjata dan membangun benteng tebal agar terhindar dari ancaman krisis ekonomi global seakan Indonesia tidak mengalami pukulan yang berat dari adanya Krisis ekonomi global saat itu.

Kaya akan gagasan, sosok inspiratif dan inovatif serta menjadi orang yang berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. Melihat hal-hal tersebut, siapa yang tidak ingin seperti beliau? Jika ditanya, apa ingin menjadi seorang menkeu? Yaaa, lantas menjadi menteri keuangan itu seperti apa? Mengelola keuangan negara, pelaku ekonominya, atau siapa yang mesti dikelola?. Melalui kuliah umum yang diadakan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat, pertanyaan-pertanyaan tersebut ikut terjawab. Menurut Sri Mulyani, semua itu kita kelola tak terbatas. “Pelaku ekonominya kadang tak rasional, pasarnya kadang tak bekerja sempurna hanya berdasarkan supply dan demand, pemerintahnya itu sudah ranahnya politik ekonomi. Semua kita kelola,” jawabnya.

Sri Mulyani juga menambahkan, ekonomi Indonesia itu sama saja dengan ekonomi negara lain. Ada presiden, punya menkeu, punya parlemen, punya masyarakat, punya pelaku ekonomi ada yang baik dan yang jelek. Jadi jangan takut duluan.

Sepak terjang Sri Mulyani memang tidak perlu diragukan, mulai dari menjabat sebagai menteri keuangan pada masa pemerintahan SBY, berhadapan dengan kasus Century yang justru menjadi kado ulang tahun Sri Mulyani saat itu, hingga dilegalkan dari negara sendiri sampai akhirnya justru dunialah yang membungkukkan kepala padanya bagai permata yang terpendam dan ditemukan. Saat itulah ia menggambil peranan penting dalam perekonomian dunia lewat jabatannya sebagai Managing Director and Chief Operational Officer di Bank Dunia.

Setelah memberi andil selama kurang lebih 6 tahun dalam penyusunan kebijakan-kebijakan di World Bank, Sri Mulyani akhirnya melepas jabatannya dan kembali ke Indonesia. Bisa dikatakan pulang kampung, mungkin rindu pada negara sendiri, rindu dengan permasalahan Indonesia, tak lupa dengan kondisi Indonesia, yang ingin kembali berjuang di negara sendiri, demi membenahi apa yang seharusnya dibenahi.

Kepulangannya ini sendiri atas dasar permintaan Presiden Joko Widodo agar Sri Mulyani  mengembat jabatan sebagai menteri keuangan yang baru. Lantas, bagaimana kondisi perekonomian Indonesia semenjak Sri Mulyani merangkap menjadi menjadi menteri keuangan yang baru? Apakah telah ada yang terbenahi? Sri Mulyani mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2016 diklaim termasuk salah satu yang tertinggi di dunia. Utamanya bila dibandingkan dengan beberapa negara yang memiliki ciri-ciri sama dengan Tanah Air yakni mengandalkan komoditas. Namun diakuinya pertumbuhan ekonomi Indonesia bila di antara negara-negara berkembang (developing atau emerging country) seperti India dan China yang menjadi benchmark, masih jauh tertinggal.

Pencapaian Sri Mulyani juga dalam penerapan program Tax Amnesty yang sempat menjadi perbincangan yang hangat. Berdasarkan data yang dipegang oleh anggota komisi XI DPR RI, M Misbakhun, penerimaan pajak secara keseluruhan per 31 Desember 2016 mencapai Rp 1.105 Triliun, atau sebesar 81,54 % dari target penerimaan pajak di APBN Perubahan 2016 sebesar Rp 1.355 Triliun. Penerimaan total itu tumbuh sekitar 4,13 % dibandingkan dengan tahun 2015. Jumlah penerimaan itu sendiri sudah meliputi hasil kebijakan Tax Amnesty sampai periode II yang berakhir 31 Desember 2016. Beliau sangat mengapresiasi dari kinerja menteri keuangan Sri Mulyani atas pencapaiannya tersebut.

Namun, tak selamanya keputusan yang diambil dapat diterima oleh masyarakat. Contohnya, adanya masyarakat yang kontra akan kebijakan tax amnesty yang dinilai lebih banyak keburukannya ketimbang kebaikannya. Program ini dinilai sebagai pengampunan koruptor yang memiliki harta di luar negeri. Selain itu, saat ini Indonesia tengah menhadapi isu hangat mengenai akan naiknya harga BBM. Kebijakan mengenai kenaikan harga BBM ini menimbulkan ketakutan bagi masyarakat karena justru akan memberatkan masyarakat terkhususnya rakyat kecil. Adanya kenaikan tersebut akan berdampak terhadap bahan-bahan pokok lainnya. Ketika harga bahan-bahan pokok ikutan naik, maka masyakat akan mengurangi konsumsinya.

Adanya kebijakan-kebijakan pemerintah yang masih tidak pro rakyat menjadi salah satu tantangan bagi Sri Mulyani yang harus mengambil langkah-langkah yang lebih efektif dalam mengambil kebijakan.

Add a Comment

Your email address will not be published.