Kenapa Ganja Sebaiknya Tidak Dilegalkan?

Setelah banyak negara maju yang melegalkan penjualan dan pemakain ganja entah sebagai obat-obatan atau dijual sebagai teman minum kopi, mulai banyak menyebar gerakan legalisasi ganja tidak terlepas di Indonesia sendiri.

Terlepas dari khasiat ganja itu sendiri, yang jadi menyebalkan adalah dari banyak yang ikut menyuarakan gerakan legalisasi ganja alasannya selalu sama, kalo gak ganja sebagai obat penyembuh kanker, gula darah, asma dan penambah nafsu makan atau ganja ditinjau dari historisnya seperti ganja sebagai catalist untuk berdoa atau menjadi jamuan pada saat ngumpul kerajaan jaman dulu. Dan alasan yang paling parah serta menjengkelkan adalah ganja menjadi bahan dasar baju pasukan perang pada saat perang dunia ke dua dan teks kemerdekaan America terbuat dari daun ganja, gila kan?!

Dari sekian banyak alasan yang dipaparkan orang-orang atau buku yang mendukung gerakan legalisasi ganja atau legalize it, saya cenderung menangkapnya seperti ini “kalo dilegalkan berarti bisa hisap ganja tanpa harus takut ditangkap aparat dong” masalah selesai dan kita semua bahagia tanpa pernah melihat dampaknya ketika tanaman ganja menjadi sebuah komoditas, maka dari itu saya akan membahas satu persatu.

1. Ketika tanaman menjadi komoditas

Sekarang mari kita berandai-andai jika ganja sudah legal entah itu menjadi obat-obatan atau dijual bebas, pastilah tingkat kebutuhan ganja akan meningkat. Layaknya sebuah hal yang baru di Indonesia, orang-orang akan mencoba ganja sebagai dasar utama mereka menentukan mana yang baik atau tidak. Belum lagi perihal media yang akan me-Hiperbola-kan berita tersebut, kita ambil contoh film korea saja yang alur ceritanya hampir sama dengan sinetron Indonesia saja heboh di media apalagi sesuatu yang dulunya haram tiba-tiba legal, pasti akan menjadi sasaran empuk media.

Setelah permintaan pasar naik pasti kita butuh lahan untuk bercocok tanam ganja dan darimana kita mendapat lahan luas untuk tanaman ganja? Otomatis kita akan membabat hutan, mengambil paksa lahan para petani atau yang lebih buruk menggusur penduduk yang gak tau apa apa untuk lahanya dijadikan lahan tanam ganja.

Bayangkan saja ketika kelapa sawit menjadi salah satu komoditas untuk pendapatan negara, negara harus merusak sekitar 1,8 jt ha di hutan kalimantan, itu kelapa sawit bagaimana dengan tanaman ganja yang sekarang lagi nge-trend di zaman sekarang? Ingat bro, dalam ekonomi dasar ketika ada demand pasti ada supply.

2. Siapa yang diuntungkan?

Jawabannya sangatlah gampang yang diuntungkan adalah perusahan-perusahaan farmasi alias kaum borjuis keparat. Iyalah, kamu kira yang untung bakalan kamu yang setiap hari like posting-an LGN atau kamu yang sudah siap siap dari tahun gajah untuk ikut Global marijuana march? duh, gak sesimple ini dunia bro!

3. Ketika dilegalkan akan menambah banyak masalah

Ketika lahan sudah tersedia dan hukum sudah membolehkan apalagi kebutuhan pasar meningkat, pasti kaum borjuis akan berlomba-lomba untuk meng-invest uangnya didunia bisnis ganja. Ketika itu pabrik akan muncul sebagai tanda bahwa ganja akan diseriusi dalam bisnis ganja dan kalau pabrik sudah ada pasti akan ada buruhnya entah itu buruh pabrik atau buruh tani ganja. Dan pastinya ketika sistem perburuhan sudah tercipta maka yakin dan percaya pasti akan ada lagi penindasan baru dan deretan perbudakan baru lagi untuk kaum proletar.

4. Menciptakan konflik horizontal dan Merusak Hutan.

Seperti yang sudah saya jelaskan, ketika permintaan pasar naik maka otomatis perusahaan harus menambah jumlah produksinya, ketika seperti itu entah tenaga buruh yang akan diperas untuk kerja lebih keras atau menciptakan lahan baru lagi untuk bisnis ganja. Dan lahan pasti akan diambil dari daerah pinggiran kota yang biasanya diambil dari lahan pertanian rakyat, ambil contoh kasusnya adalah para petani takalar. Petani di takalar sendiri dari berpuluh-puluh tahun lalu sudah berkonflik dengan PTPN yang mengelola pertanian tebu, PTPN sendiri hadir di Takalar untuk memenuhi kebutuhan gula nasional. Dan hasilnya adalah ketika lahan petani Takalar direnut oleh PTPN banyak muncul kemiskinan, pencurian, dan lain-lainnya dikarnakan para petani yang sudah tidak memiliki penghasilan bagi keluarganya.

Kalau tidak mau ribet maka pemerintah akan menyediakan hutan untuk menyediakan lahan baru bagi tanaman ganja, maka ketika hutan dibabat habis bukan hanya kita akan kehilangan hutan saja, semua aneka ragam hayati akan musnah seiring pembabatan hutan, seperti hilangnya tempat tinggal bagi satwa hewan liar atau malah yang lebih tragis musnah bersama hutan itu sendiri.

5. Masalah hak paten akan ganja.

Dan yang terakhir adalah masalah hak paten terhadap tanaman ganja. Ketika sebuah perusahaan sudah bisa memproduksi ganja itu sendiri makan dia akan mematenkan tanaman yang katanya hasil dari rekayasa perusahaan itu sendiri.

Padahal kalo dilihat dari sejarah ganja sudah ditanam berpuluh puluh tahun oleh petani ganja di aceh sana, petani sendiri di aceh sana dalam membagi hasil ganjanya dibagi dua yaitu ganja cewek dan cowok kalo bahasa science-nya indica sp dan sativa sp. Nah yang jadi masalah adalah para petani sudah berpuluh puluh tahun melakuan hal itu dan tiba-tiba saja datang perusahaan meng-claim bahwa hal yang mereka lakukan adalah hasil dari kerja perusahaan itu sendiri yang berakhir pada petani yang tidak bisa lagi berkreasi dengan tanamanya dikarenakan takut melanggar hak cipta.

Nah jadi bagaimana bro, masihkah kita perlu mendukung ganja untuk dilegalkan dengan keadaan pertanian sekarang yang sudah sangat komersil? Saya sendiri sih tidak ada masalah dengan para pemakain ganja tapi saya bermasalah ketika ganja menjadi tanaman yang menciptakan pebudakan baru, pengerusakan lahan, atau malah lebih menciptakan konflik horizontal antara kita semua.

Oleh : Tommy Sharif (Akuntansi 2013)

Add a Comment

Your email address will not be published.