Idealkah Pendidikan Kita?
Idealkah Pendidikan Kita?

Pendidikan adalah suatu hal yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Pendidikan kerap kali disamakan dengan sekolah, namun nyatanya berbeda. Sekolah hanyalah salah satu media guna memperoleh pendidikan. Lantas, apakah sebenarnya pendidikan itu? Pada UUD 1945, telah diatur bahwa salah satu tugas negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, ada pula yang mengatakan bahwa pendidikan bertujuan memerdekakan, mendewasakan, lebih anti-mainstream, ada yang mengatakan pendidikan adalah alat untuk mencetak tenaga kerja. Sungguh luar biasa makna dari pendidikan.
Bebicara tentang pendidikan adalah sarana untuk mencari ilmu. Mencerdaskan, memerdekakan, mendewasakan. Tentu sangat wajar, saya rasa inilah tujuan pendidikan asli, bukan turunan. Seharusnya pendidikan yang membawa kecerdasan bagi kita guna lepas dari penjajahan langsung atau tidak langsung, menuntun bagaimana kita bersikap sesuai ilmu, bijaksana dalam pergerakan. Itulah pendidikan yang seharusnya.
Menjalani pendidikan tentu ada dan tidak akan lepas dari paradigma-paradigma pendidikan yaitu ada tiga : (1) paradigma konservatif yang beranggapan bahwa sistem pendidikan akan berubah dengan sendirinya tanpa perlu dikritisi, (2) paradigma liberal berbicara tentang kebebasan individu memanfaatkan modalnya untuk berpendidikan. Liberal pula yang meniscayakan sifat dan sikap kompetitif, (3) paradigma pendidikan kritis, dimana kita mencari tahu bagaimana pendidikan itu seharusnya selama realitas pendidikan belum sesuai dengan ide pendidikan maka patut untuk dikritisi. Saya rasa kita menganut paradigma liberal.
Lantas bagaimana pendidikan saat ini ? Yah, saya mengatakan pendidikan saat ini adalah liberal, dimana yang kaya sangatlah mudah untuk memperoleh pendidikan, yang miskin semakin sulit mendapatkan pendidikan karena tidak adanya modal yang menunjang. Selain itu nampak pendidikan dipengaruhi adanya korporat. Pendidikan selama dua belas tahun ditambah masa kuliah seolah dibuat agar kita menjadi pekerja-pekerja korporat guna membantu korporat mendapatkan keuntungan maksimal. Kita sudah lupa bahwa seharusnya kita cerdas, bukan pintar.
Oleh : Tariq Hidayatullah (Akuntansi 2016)