S.K Trimurti Pejuang Perempuan Indonesia

Penulis : Ipong Jazimah
Penerbit : Buku Kompas
Cetakan pertama : 2016
No. ISBN : 978-602-412-019-1

S.K Trimurti adalah sosok perempuan yang cerdas, tegas, dan berani. Beliau lahir di

Desa Sawahan, Boyolali, Keresidenan Surakarta oleh pasangan R.Ng. Salim Banjaransari
Mangunsuromo dan R.A. Saparinten Mangunbisomo. Latar belakang orang tua Trimurti
adalah seorang abdi dalem Keraton Kasunan Surakarta. Lahir dari latar belakang tersebut
tentu memberikan kehidupan yang berbeda dibandingkan anak-anak pada umumnya. Sejak kecil S.K Trimurti sudah menyadari perbedaan tersebut, baik dari segi penampilan,
pendidikan, dan lingkungan sosial. Kesadaraan itulah yang membawa perjalanan panjang
beliau hingga dikenang saat ini. Bisa dibilang, S.K Trimurti adalah salah satu pahlawan yang menyaksikan perjuangan rakyat Indonesia memerdekakan Indonesia. Sejak muda, Trimurti merupakan seorang wartawati. Tulisannya tajam dan berani sehingga menimbulkan kecurigaan Pemerintah Kolonial Belanda. Namun, ia tak pernah merasa gentar atau menyerah. Semangat perjuangannya tak pernah padam. Beliau beberapa
kali merasakan jatuh bangun di dunia jurnalistik. Semasa hidupnya beliau telah mendirikan beberapa majalah atau surat kabar seperti Bedug yang berganti nama menjadi Terompet, Suara marhaeni, Pesat, dan Mawas Diri. Keberanian S.K Trimurti dalam menyebarkan semangat antikolonialisme melalui tulisan-tulisannya membuat beliau sempat menjadi tahanan politik pada saat itu. Merasakan dinginnya dinding sel tahanan membuatnya semakin menyadari bahwa penjara ‘pun tidak lepas dari perilaku diskriminasi dan penjajahan yang dilakukan oleh bangsa kulit putih. Bukan hanya aktif di dunia jurnalistik, beliau juga aktif di dunia politik. S.K Trimurti memilih Partindo sebagai kendaraan politiknya pada masa perjuangan kemerdekaan. Berada di bawah asuhan Soekarno secara langsung membuat jiwa dan semangat perjuangan beliau menebal bak baja. Pada tahun 1946, beliau memilih bergabung dengan Partai Buruh Indonesia (PBI) yang membuatkan menjadi menteri perburuhan pada era kabinet Amir Syarifuddin. Beliau kemudian dipercaya menjadi anggota dewan nasional, anggota MPRS, dan anggota Dewan Perancangan Nasional. Saat masa demokrasi terpimpin, beliau kemudian diminta kembali menjadi menteri sosial oleh Soekarno, yang kemudian ditolak oleh beliau dan milihuntuk berjuang dengan cara lain dan mendirikan Gerwani (Gerakan Wanita
Indonesia) yang dahulu bernama Gerwis (Gerakan Wanita Indonesia Sedar).

Buku ini sangat menarik karena mengisahkan tentang salah satu tokoh perempuan yang namanya jarang dikenal dan kisahnya jarang terdengar. Buku mengajarkan kita bahwa pahlawan kemerdekaan tidak melulu melalui soal orasi-orasi di depan podium, tidak melulu melalui perlawanan bersimbah darah, dan tidak melulu tentang laki-laki. Semua pihak secara bersamaan hadir di setiap lini sejarah di Indonesia.

Oleh : Husnul Awalia Suwardi

Add a Comment

Your email address will not be published.