Brief Review Buku “Madilog”

Yang saya dapatkan dari buku madilog ini walaupun saya belum selesai membaca keseluruhannya. Pertama-tama buku madilog ini mengajak pembaca kepada revolusi paradigma berpikir dari model logika mistika adalah cara berpikir yang digunakan oleh bangsa Indonesia pada waktu itu. Dimana menurut Tan Malaka, logika adalah cara berpikir antimistik dan antidogmatik. Cara berpikir antimistik adalah penolakan terhadap cara berpikir yang bersifat mistis,gaib dan takhayul. Cara berpikir antidogmatik adalah penolakan terhadap cara berpikir yang bersifat pasif, dogmatik, dan ketergantungan atau ketidakmandirian untuk menentukan keputusan bagi diri atau bangsanya sendiri. Artinya, orang tidak mau berpikir sendiri.

Yang kedua yaitu yang saya dapatkan dari buku ini yaitu Tan Malaka membagi 3 bagian yaitu Materialisme , Dialektika ,dan Logika yang merupakan titik pokok buku ini. Materialisme merupakan peninggalan pikiran dari Karl Marx dan sahabatnya yaitu Friedrich Engels. Materialisme adalah sebuah paham dasar dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi. Materialisme lebih mengedepankan pada panca indra ketimbang insting ataupun kepercayaan dalam menerima dan mencapai suatu ilmu atau biasa disebut kaum empiris atau kaum rasionalitas. Logika bearti pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam Bahasa atau singkatnya adalah ilmu tata cara berpikir. Logika adalah ilmu yang menentukan keadaan suatu materi dalam dua pilihan, ya atau tidak, mati atau hidup, tinggi atau pendek, dan sebagainya. Dialektika, menurut Hegel, menyatakan tidak ada satu kebenaran yang absolut berlaku. Andaikata logika di ibaratkan sebagai sebuah keadaan 0 dan 1, maka dialektika adalah keadaan diantara 0 dan 1, yaitu 0,5, 0,67, 0,83, dan sebagainya. Dialektika dipandang sebagai sebuah keadaan antara nilai benar dan salah dalam logika.

Terdapat kekurangan buku Madilog itu sendiri yaitu gaya tulisan dan dan beberapa kosakata dalam Madilog susah untuk dicerna bagi pembaca saat ini termasuk saya. Hal ini disebabkan, keterbatasan konsep tulisan berbahasa dan beberapa kosakata dari Bahasa asing yang belum ada artiinya katanya di Bahasa Indonesia.

Kelebihan buku Madilog ini yaitu mengajarkan kita semestinya bercermin terlebih dahulu ke diri sendiri sebelum bertindak. Bagaimana bisa membuat negeri ini maju jika di dalamnya masyarakat kita tidak bisa terbuka pada ilmu pengetahuan dan masih berkutat pada hal-hal yang dogmatis sifatnya? Kita tidak akan pernah kemana-mana selama kita tidak berani melihat keluar.

Madilog adalah simbol kebebasan berpikir. Seperti Tuhan yang menganugerahkan manusia akal, maka gunakanlah akal itu seoptimal mungkin. Bebaskan.

Oleh : Alif Avicienna (Manajemen/2016)

Add a Comment

Your email address will not be published.