Budaya Influencer: Pengaruhnya terhadap Keputusan Pembelian Konsumen
Budaya Influencer: Pengaruhnya terhadap Keputusan Pembelian Konsumen
Budaya Influencer: Pengaruhnya terhadap Keputusan Pembelian Konsumen
Oleh : Gaby Alneiska Frances Fabian Pakasi
Era global saat ini yang dipenuhi dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Perkembangan teknologi ini telah menciptakan platform-platform media sosial yang memungkinkan penggunanya untuk menciptakan dan menyebarkan konten dengan mudah. Media sosial merupakan platform yang dapat menghubungkan individu
individu atau para penggunanya (Cahya, 2022). Dalam (Maulana, Manulang, & Salsabila, 2020) media sosial juga diartikan sebagai tempat individu berinteraksi secara online tanpa dibatasi ruang dan waktu. Media sosial telah menjadi panggung utama dimana para penggunanya memamerkan gaya hidup, opini, dan preferensi mereka. Hal ini melahirkan influencer media sosial dan fenomena baru di masyarakat, di mana influencer media sosial memiliki pengaruh besar dalam mendorong konsumen untuk membeli suatu produk. Fenomena ini disebut budaya influencer (Influencer culture).
Influencer merupakan individu yang aktif di media sosial dengan jumlah pengikut yang banyak (Christanti & Cahyani, 2022), mereka membangun citra dan kepercayaan melalui berbagai konten yang dibagikannya. Influencer dianggap sebagai role model bagi para pengikutnya, karena merasa memiliki kesamaan, keinginan untuk menjadi seperti mereka, ataupun karena dianggap sebagai ahli dalam suatu bidang. Para influencer memanfaatkan platform-platform seperti Instagram, YouTube, dan TikTok untuk
membagikan konten-konten menarik. Konten yang mereka bagikan dapat berupa review produk, try on produk, dan semacamnya. Baik produk fashion, kosmetik, hiburan bahkan kuliner, para influencer memiliki kemampuan untuk menciptakan tren, mempengaruhi persepsi, dan akhirnya mempengaruhi keputusan pembelian. Hal ini sejalan dengan definisi influencer dalam (Hariyanti & Wirapraja, 2018) yaitu individu atau tokoh media sosial dengan jumlah pengikut yang signifikan, dan konten yang mereka bagikan berpotensi untuk mempengaruhi respon dari pengikut mereka.
Hal ini didukung oleh penelitian (Maulana, Manulang, & Salsabila, 2020) tentang pengaruh influencer di dunia digital, mengungkapkan bahwa engagement antara influencer dan followers terjadi melalui komunikasi yang konsisten dan reputasi yang sesuai dengan produk yang dipromosikan. Terdapat tiga aspek utama yang diperhatikan dari seorang influencer, yaitu reach, resonance, dan relevance, yang mencangkup jumlah followers, Tingkat keterikatan follower terhadap konten, dan kesamaan nilai-nilai antara influencer dan brand produk. Hal ini menunjukkan bahwa influencer memiliki potensi besar untuk mempengaruhi opini dan sikap pengikutnya melalui media sosial, yang dapat berdampak signifikan pada citra dan penjualan suatu produk. Selain itu,
kredibilitas influencer dalam mempromosikan produk dapat meningkatkan brand awareness dan membantu dalam mempengaruhi Tingkat penjualan produk secara efektif. Dengan kata lain ini berdampak pada keputusan pembelian konsumen.
Pengambilan keputusan konsumen merupakan bagian dari perilaku konsumen, yang mana terdiri dari 3 tahap, yaitu input, proses dan output (Schiffman & Wisenblit, 2019). Tahap dimana konsumen terpengaruh oleh influencer merupakan tahap proses. Pada tahap ini konsumen akan terlebih dahulu mengidentifikasi masalah atau kebutuhannya, setelah itu konsumen akan mencari informasi terkait masalah yang dihadapinya tersebut (kebutuhan), pada tahap ini juga terjadi evaluasi alternatif yang diperoleh pada saat pencarian informasi (Schiffman & Wisenblit, 2019).
Influencer memainkan peran penting pada tahap proses ini, melalui konten yang dibagikannya di platform media sosial yang ia gunakan. Hal ini didukung oleh penelitian (Sandi, Azhari, Fernando, Hidayanti, & Kurniawati, 2022) yang menunjukkan bahwa variabel yang paling signifikan dalam mempengaruhi keputusan pembelian adalah variable konten Instagram. Selain itu, pada penelitian yang dilakukan pada generasi Z mengenai pengaruh influencer marketing terhadap pengambilan keputusan pembelian di marketplace Shopee menunjukkan bahwa influencer marketing mempengaruhi keputusan pembelian para konsumen (Chystrie & Sartika, 2022). Juga pada penelitian terdahulu mengenai branding yang dilakukan oleh influencer media sosial oleh (Astuti, 2016)
ditemukan adanya hubungan signifikan antara promosi yang dilakukan influencer pada kontennya dengan minat beli konsumen, dengan persentase 89.7% menunjukan bahwa influencer berhasil meningkatkan minat beli konsumen.
Adapun alasan terbesar mengapa konsumen tertarik terhadap suatu produk yang dipasarkan oleh influencer berdasarkan penelitian (Chystrie & Sartika, 2022) adalah karena konsumen merasa tertarik dengan produk yang ada di dalam konten influencer marketing. Selain itu melalui Influencer marketing, konsumen tidak merasa ragu dalam membeli produk. Dalam konten yang dibagikan oleh seorang influencer, mereka akan mencoba suatu produk terlebih dahulu dan menyampaikan hasil pemakaiannya melalui konten berupa review produk. Hal ini dapat mendorong tingkat kepercayaan konsumen pada suatu produk. Adapun alasan yang ketiga, yaitu konsumen merasa puas dengan produk hasil rekomendasi dari influencer. Ini sejalan dengan penelitian (Adrianto, 2021) yang menunjukkan bahwa melalui kredibilitas influencer, termasuk kepercayaan, penyampaian informasi yang akurat, dan kejujuran, dapat memberikan keyakinan dan daya Tarik kepada konsumen terhadap suatu produk yang dipromosikan.
Sedangkan alasan dibalik keputusan pembelian konsumen pada penelitian (Chystrie & Sartika, 2022) terdapat 4 (empat) alasan, dengan persentase tertinggi sebesar
32,5% dikarenakan influencer marketing memberikan penjelasan yang mendetail tentang produk di dalam kontennya. Posisi kedua sebesar 27,5% karena konsumen sudah lama menginginkan produk yang direview oleh influencer tersebut. Dan alasan influencer jujur dalam mereview serta produk sedang banyak digunakan memiliki persentase yang sama besar, yaitu sebesar 20%. Dengan produk fashion dan kecantikan menjadi produk yang paling banyak dijadikan konten oleh influencer. Dalam penelitian (Chystrie & Sartika, 2022) juga disebutkan beberapa penelitian yang sejalan, salah satunya yaitu penelitian Kyswantoro et al pada tahun 2021. Temuan dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa keputusan pembelian dipengaruhi oleh persepsi merek, Tingkat kualitas produk, dan harga yang tercermin dari ulasan yang disampaikan oleh influencer pada konten yang dibagikannya.
Namun, maraknya fenomena budaya influencer ini berpengaruh besar terhadap pola konsumsi masyarakat (Maulana, Manulang, & Salsabila, 2020). Hal ini berkaitan dengan konsumerisme. Dimana konsumerisme menurut Jean Baudrillard dalam (Marpaung & Rahma, 2023) merupakan sebuah sikap dan perilaku dimana individu melakukan pembelian bukan karena kebutuhan akan barang tersebut, melainkan karena
tindakan pembelian itu sendiri memberikan kepuasan pribadi. Dalam konteks ini, pembelian yang dilakukan tidak berkaitan dengan nilai fungsionalnya, melainkan dengan nilai simboliknya. Konsumerisme ini dianggap sebagai logika untuk memuaskan keinginan.
Dalam penelitian (Marpaung & Rahma, 2023) salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku konsumerisme adalah gengsi atau prestise. Prestise dalam penelitian tersebut diartikan sebagai keadaan dimana seseorang merasa bangga dalam mengkonsumsi produk tertentu, baik berupa barang atau jasa. Menurut Atmodjo dalam (Wibowo & Riyadi, 2017) bahwa semakin tinggi status dan kedudukan seseorang, maka akan semakin tinggi pula kebutuhan prestise dirinya.
Gaya hidup yang lebih mengedepankan prestise menyebabkan masyarakat terdorong oleh aliran gaya kekinian yang dipopulerkan oleh para influencer media sosial (Maulana, Manulang, & Salsabila, 2020). Efek dari prestise ini membuat konsumsi tidak hanya didasarkan pada kebutuhan fungsional, tetapi juga pada kesenangan. Seperti keinginan untuk selalu tampil dengan mengikuti tren-tren terbaru, tidak ketinggalan zaman, serta keinginan untuk meningkatkan gengsi dan status sosial. Untuk mendukung hal ini, penelitian tersebut menyebutkan bahwa pada teori Sumarsono (2002) menunjukkan perilaku konsumen melibatkan berbagai dimensi emosional dan sosial, termasuk gengsi dan pengakuan sosial.
Hal ini juga mendorong terjadinya perilaku konsumtif. Dalam (Maulana, Manulang, & Salsabila, 2020) Suyasa dan Fransisca (2005) mengartikan perilaku konsumtif sebagai aktivitas pembelian barang yang tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan, melainkan untuk memenuhi keinginan, yang dilakukan secara berlebihan dan menyebabkan pemborosan dan inefisiensi dalam pengeluaran biaya. Dalam (Nurwahyuni & Yuniasanti, 2023) perilaku konsumtif didefinisikan sebagai tindakan individu dalam melakukan pembelian tanpa kendali dengan memprioritaskan faktor emosional daripada rasional, dengan pandangan bahwa produk-produk tersebut dapat membantu individu dalam membangun citra diri yang positif.
Salah satu faktor yang mendorong perilaku konsumtif terbentuk adalah penjualan barang melalui digital marketing (Maulana, Manulang, & Salsabila, 2020). Dimana salah satu bentuk pemasaran digital yang sekarang ramai digunakan oleh pelaku bisnis yaitu melalui influencer. Influencer dianggap sebagai salah satu strategi yang paling efektif untuk menarik calon konsumen ketika melakukan promosi melalui media sosial, dengan memanfaatkan jumlah pengikut yang dimiliki oleh influencer tersebut (Rosyadi, 2018). Strategi pemasaran dengan cara ini pada akhirnya dapat membentuk perilaku konsumtif karena suatu produk dapat dengan mudah untuk dipromosikan, sehingga mempengaruhi seseorang untuk membeli produk tersebut meskipun sebenarnya tidak diperlukan (Maulana, Manulang, & Salsabila, 2020). Hal ini didukung oleh penelitian (Maulana, Manulang, & Salsabila, 2020) yang menyimpulkan bahwa influencer dapat mendorong sifat konsumtif dari konsumen.
Sehingga dapat dipahami bahwa budaya influencer memiliki dampak yang signifikan terhadap perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian. Perkembangan teknologi yang terjadi memunculkan platform-platform media sosial yang kemudian digunakan sebagai panggung utama bagi influencer membagikan gaya hidup, opini, dan preferensi mereka. Para influencer media sosial ini pun dengan kehadirannya mampu mempengaruhi opini, persepsi, dan akhirnya keputusan pembelian konsumen. Pengaruh ini terjadi karena adanya kredibilitas, daya tarik, dan kesesuaian nilai antara influencer dan produk yang dipromosikan. Hal ini tercermin dari engagement yang terjalin antara influencer dan pengikutnya, di mana konten-konten yang dibagikan memiliki potensi besar untuk mempengaruhi sikap konsumen terhadap suatu produk.
Namun, fenomena budaya influencer memiliki dampak yang lebih dalam terhadap konsumerisme dan perilaku konsumtif di masyarakat. Budaya influencer tidak hanya mempengaruhi keputusan pembelian konsumen, tetapi juga secara signifikan mempengaruhi pola konsumsi dan perilaku belanja. Pengaruh ini terjadi karena budaya influencer cenderung menghidupkan rasa keinginan yang tak terbatas. Akibatnya, individu cenderung terdorong untuk membeli barang dan layanan tidak hanya karena
kebutuhan, tetapi juga untuk memenuhi keinginan yang dipengaruhi oleh tren dan citra yang dipromosikan oleh influencer.
Selain itu, budaya influencer juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perilaku konsumtif. Fenomena ini semakin diperkuat dengan adanya digital marketing dengan menggunakan para influencer sebagai salah satu strateginya. Dengan adanya tekanan untuk selalu mengikuti tren terbaru dan citra yang ditampilkan oleh influencer, individu cenderung terjebak dalam siklus belanja yang tidak terkendali dan berlebihan. Hal ini dapat menyebabkan pemborosan dan inefisiensi dalam pengeluaran biaya, serta potensi terjadinya masalah keuangan dalam jangka panjang.
Oleh karena itu, untuk mengatasi dampak negatif dari budaya influencer terhadap konsumerisme dan perilaku konsumtif, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan pengaruh yang dimiliki oleh influencer dalam pembelian mereka. Selain itu, perlu adanya upaya untuk mengembangkan kemandirian konsumen dalam menilai kebutuhan dan membedakan antara kebutuhan yang sebenarnya dan keinginan yang dipengaruhi oleh tren dan citra yang dipromosikan oleh influencer. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat mengembangkan pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Adrianto, R. (2021, Juli). Kredibilitas Influencer dalam Membentuk Kepercayaan Konsumen terhadap Brand. Jurnal Riset Manajemen Komunikasi, 1(1), 57-63. doi:https://doi.org/10.29313/jrmk.v1i1.117
Cahya, H. M. (2022, April). Pengaruh Social Media Influencer terhadap Minat Beli Konsumen di Media Sosial. Jurnal Syntax Transformation, 3(4). Diambil kembali dari
https://jurnal.syntaxtransformation.co.id/index.php/jst/article/view/550/764
Christanti, M. F., & Cahyani, I. P. (2022, April). Instagram: Konstruksi Identitas Budaya Virtual Melalui Unggahan Foto Para Influencer Indonesia. Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni, 6(1), 1-11. doi:https://doi.org/10.24912/ jmishumsen. v6i1.9620
Chystrie, D. A., & Sartika, S. H. (2022, April). Apakah Influencer Marketing berpengaruh pada Pengambilan Keputusan Pembelian di Marketplace Shopee pada Generasi Z? Jembatan: Jurnal Ilmiah Manajemen, 19(1), 17-31.
Hariyanti, N. T., & Wirapraja, A. (2018, Juni). PENGARUH INFLUENCER MARKETING SEBAGAI STRATEGI PEMASARAN DIGITAL ERA MODERN (SEBUAH STUDI LITERATUR). Jurnal EKSEKUTIF, 15, 133- 146.
Marpaung, k., & Rahma, T. I. (2023, Januari 17). Pengaruh Gengsi, Diskon, dan Literasi Keuangan Terhadap Perilaku Konsumerisme Generasi Z di Kalangan Mahasiswa Manajemen. CAKRAWALA Repositori IMWI, 6(1), 8-23.
doi:https://doi.org/10.52851/cakrawala.v6i1.182
Maulana, I., Manulang, J. M., & Salsabila, O. (2020). Pengaruh Social Media Influencer Terhadap Perilaku Konsumtif di Era Ekonomi Digital. Majalah Ilmiah Bijak, 17(1), 28-34. Diambil kembali dari http://ojs.stiami.ac.id/
Nurwahyuni, W. A., & Yuniasanti, R. (2023, Februari). Konsep Diri Dengan Perilaku Konsumtif Terhadap Produk E-Commerce Pada Generasi Z. Psychopolytan: Jurnal Psikologi, 6(2), 60-69. doi:https://doi.org/10.36341/psi.v6i2.3018
Rosyadi, M. Z. (2018). pengaruh Influencer Marketing Sebagai Strategi Pemasaran Digital Era Modern (Sebah Studi Literatur). Jurnal Manajemen dan Inovasi (MANOVA), 1(2), 14-23.
Sandi, F., Azhari, R., Fernando, J., Hidayanti, R. K., & Kurniawati, L. S. (2022). Pengaruh Influencer dan Konten Instagram “@Anakjajan” terhadap Keputusan Pembelian Konsumen di What’s Up Cafe. PROMEDIA, 8(1), 59-89.
Schiffman, L., & Wisenblit, J. (2019). Consumer Behavior Twelfth edition. New Jersey: Pearson Education.
Wibowo, A. F., & Riyadi, E. S. (2017). Pengaruh Gaya Hidup, Prestise, dan kelompok Referensi Terhadap Keputusan Pembelian (Studi Pada Konsumen Taiwan Tea House Semarang). Prosding Seminar Nasional Riset Manajmen & Bisnis, 97- 113.