Tulisan Pemenang Writing.com2 “Cahaya Untuk Desa”
Tulisan Pemenang Writing.com2 “Cahaya Untuk Desa”
‘Kita harus membaca lagi agar bisa menuliskan isi kepala dan memahami dunia’, begitulah bunyi sebuah puisi sang legendaris Wijhi Tukul. Puisi yang sarat akan makna. Dulu, aku begitu pusing mengartikannya. Membuat otakku bergeming. Namun kini aku tahu apa maksudnya.
Berbekal sebuah koper hijau tua lusuh, tas ransel yang aku gendong di punggung, dan ditemani kedua sahabatku, aku memberanikan diri untuk kembali ke desaku. Kami menunggu di bandara setengah jam sebelum jadwal keberangkatan kami. Sekarang pukul 06.00 pagi, dan aku sama sekali tidak tidur semalaman dikarenakan harus packing tadi subuh. Aku mengedip-ngedipkan mata dan menahan diri untuk menguap.
“Aku tahu, seharusnya bukan Laras yang aku biarkan untuk membeli ticket,” kataku tidak kepada siapa-siapa.
Gunaidil, sahabatku yang berada di samping kiriku mengiyakan. “Toh sudah aku bilang Ril, apapun yang dikerjakan Laras selalu saja tidak bener,” katanya.
“Membicarakan aku ya?” itu suara Laras, datang dari belakangku. Sontak Gunaidil dan aku berbalik kikuk. Laras membawa dua America Latte yang sebelumnya kami pesan. “Nih,” katanya sembari memberikanku dan Gunaidil masing-masing satu cangkir America Latte itu.
Laras Anastasia Guban, satu-satunya gadis di tim kami. Anak kepala desa nan kaya raya, namun karena tidak suka dimanja dia ikut bersamaku dan Gunaidil untuk mengemban ilmu di Granada, Spanyol. Sekarang dia mendapatkan gelar S2 nya sebagai Magister Manajemen dan Bisnis di salah satu Universitas terbaik di sana. Aku salut dengannya.
Sekarang kami berniat untuk mengabdi ke desa kami bertiga, mengabdi pada rakyat, dan memanfaatkan ilmu yang selama ini kami emban. Kami sekarang berada di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta, dan tujuan kami berada di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, yang berarti membutuhkan setidaknya 4 hingga 6 jam perjalanan udara. Aku berharap pesawat kami tidak delay. Karena jika tidak, kami akan kemalaman untuk tiba di Makassar.
Sebuah suara akhirnya melegakan kami. Suara itu memanggil nomor penerbangan tiket kami, dengan tujuan Makassar. Walaupun sudah lewat beberapa menit dari jadwal penerbangannya, tapi kami bersyukur pesawat kami tidak delay. Gunaidil dan aku mengambil beberapa koper, dan Laras tampak santai hanya memegangi dua tas ransel yang tidak berat-berat amat.
“Untung cantik,” canda Gunaidil kepadaku. Aku hanya bisa tersenyum kecil dibuatnya.
Setelah Laras menunjukkan tiket kepada petugas, kami pun dipersilahkan masuk. Seperti sepatutnya prosedur penerbangan, kami dipersilahkan membuka berbagai perhiasan, jam tangan, cincin, dan barang-barang lainnya yang kami kenakan untuk diperiksa di mesin otomatis. Setelah itu kami memasang kembali pakaian kami. Laras merengek kesal, karena dalam kasus ini, dia paling banyak memakai pernak-pernik dan berbagai perhiasan.
Kami menunggu lagi selama beberapa menit sebelum benar-benar dipersilahkan naik ke kabin pesawat. Kabin itu tampak bersih. Dalam satu baris horizontal, terdapat enam kursi yang nyaman; tiga dikiri dan tiga dibagian kanannya. Kursi kami berada di sebelah kiri, dan aku duduk tepat paling ujung di dekat jendela pesawat, sehigga aku benar-benar bisa melihat keluar. Dan aku baru tersadar, sebentar lagi aku akan tiba di desaku.
“Sudah sampai,” suara Laras membangunkanku dan Gunaidil.
Tidak terasa kami berdua ketiduran di dalam pesawat dan sekarang kami sudah tiba di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin. Bandar Udara ini sangat berbeda dari yang aku ingat. Maklum, aku sudah 10 tahun tidak kesini. Lebih banyak orang berlalu lalang. Starbucks dan gerai kios ada dimana-mana. Seperti membayangkan kapok using yang berubah wujud menjadi selimut super empuk. Sungguh menawan.
Setelah benar-benar sudah tidak ada yang terlupakan lagi, kami menaiki taksi untuk tiba di pusat kota. Tumben, selama perjalanan hujan tidak turun. Gerimis pun tidak, padahal seharusnya sekarang adalah musim hujan. Makassar—dari yang aku ingat, jauh lebih panas disiang hari pada hari ini dibandingkan dengan 10 tahun sebelumnya. Sebelum aku benar-benar berniat untuk meninggalkannya.
Aku dan Gunaidil adalah pelajar miskin yang bercita-cita tinggi. Ayah kami hanya petani. Kedua ibu kami hanya menjual dagangan di sekitar desa: bakwan, pisang goreng, tahu bakso, dan semacamnya. Akhirnya karena tidak ingin hidup dibelenggu kemiskinan, kami berdua mengadu nasib di Makassar. Sejak lulus bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), aku ingat betul kami berdua pamit ke ibu kami masing-masing. Di depan teras rumah kayu kami, ibuku dan ibu Gunaidil bercengkerama sambil meneguk teh hangat.
“Bu, aku ingin belajar di Makassar,” kataku blak-blakan.
“Aku juga bu,” kata Gunaidil ke ibunya, benar-benar mengikutiku.
Sontak mereka berdua menertawakan kami. “Untuk apa kesana nak? Kamu disini saja, bantu ayah kamu bertani,” jawab ibuku, disertai anggukan ibu Gunaidil.
Hari demi hari berlalu. Ketika kami menanyakan hal yang sama, ibu kami menjawab dengan jawabannya yang masih tetap sama. Akhirnya, dibekali kenekatan yang tinggi, pada sore hari aku dan Gunaidil kabur dari desa, membawa beberapa pakaian dan tas. Uang saku kami berasal dari celengan yang sudah kami hancurkan. Tiga ratus ribu rupiah, aku ingat betul. Aku dan Gunaidil lantas menaiki sepeda tua kami berdua dan bertemu dengan Laras dijalan. Sontak, Laras kepingin ikut, dan dalam hitungan jam Laras mengambil beberapa pakaian di rumahnya, lalu kami bertiga pergi ke Makassar untuk mendaftar sekolah.
Singkat cerita kami bertiga lulus dengan nilai terbaik. Masuk di SMA yang sama. Mendapat beasiswa yang sebagian besarnya aku serahkan kepada ibuku. Lalu melanjutkan kuliah kami di Universitas terbaik di Makassar. Universitas Hasanuddin. Kala itu, aku dan Laras memasuki Fakultas yang sama ; Fakultas Ekonomi dan Bisnis, sedangkan Gunadil mengambil program Psikologi. Kami lulus dengan nilai yang baik, dan akhirnya sama-sama lagi untuk mendaftarkan diri mengambil program S2 di Granada, Spanyol.
Selama di Granada, kami betul-betul tidak pernah lagi ke desa. Aku hanya berhubungan dengan ibuku melalui telepon, itupun ketika jaringan tidak sedang buruk di desa. Hanya sekitar sebulan sekali. Dan sekarang ketika kami lulus di Granada, kami memutuskan untuk kembali ke desa, setidaknya membawakan ilmu bagi anak-anak disana.
Kami melanjutkan perjalanan dari Makassar ke desa kami, Sayoang. Sayoang terletak di kabupaten Takalar dan sangat jauh dari kota. Untuk itu kami menyewa mobil untuk sampai ke sana.
Jalanan terlampaui baik, terlepas ketika kami sudah hampir tiba di desa kami. Jalanannya bebatuan. Mobil yang kami sewa naik-turun seakan-akan menginjak kerikil yang jumlahnya ribuan. Gunaidil mendesah, “Sudah sepuluh tahun, dan jalanannya masih saja rusak. Ya ampun!”
Aku dan Laras hanya tertawa kecil. Walaupun jalanan masih kurang baik, tapi kami melihat bahwa desa ini semakin lama semakin asri. Sawahnya hijau. Di sepanjang jalanan, di depan rumah-rumah tetangga, terdapat banyak bunga hias yang menambah estetika dan keindahan desa kami.
Mobil kami berhenti di depan rumah Gunaidil. Sebelum kami turun, sontak kami dikerumuni banyak orang, karena sebelumnya tidak pernah ada tamu yang memakai mobil mewah sampai ke desa untuk berkunjung. “Anakkkuu!! Ohh anakkuuu,” ibuku berteriak menelusuri kerumunan, lalu memelukku sangat erat yang membuatku kehabisan napas. Ibu Gunaidil bereaksi berbeda, ia memukul anaknya dipundak, sedangkan Gunaidil hanya tersenyum dan mencium tangan ibunya. Sang mantan kepala desa, ayah Laras, datang dengan peci yang selalu ia kenakan, berjalan tegap, lalu mencium pipi putrinya.
Kami tiba di desa pukul 3 sore hari. Sebentar lagi sholat Adzhar. Kami bertiga : Aku, Gunaidil, dan Laras membawa barang bawaan kami ke rumah masing-masing serta pamit ke orangtua kami masing-masing sebelum berangkat ke Masjid desa kami. Masjid desa kami sudah tua, temboknya terkelupas, dan hanya ada satu keran air wudhu, yang diisi oleh kedua jamaah pria dan wanita,
Aku, Laras, dan Gunaidil berembuk untuk mengumpulkan uang kami, lalu menyumbangkannya kepada pihak masjid. Sebelum kesini memang kami sudah merencanakan momen ini. Alhamdulillah kami bertiga sukses, dan ingin memberi sedikit apa yang kami punya kepada tempat yang telah membesarkan kami.
“Alhamdulillah, semoga berkah nak,” senyum Pak Ustadz yang menerima sumbangan kami.
Setelah Sholat adzhar, kami bertiga dikejutkan oleh kedua pasang bocah. Yang lelaki umurnya terpaut 11 tahun, dan yang perempuan masih kecil, seperti anak yang berusia 7 tahunan. Si lelaki menerangkan beberapa perkalian dasar kepada si perempuan. Bocah perempuan itu hanya mengangguk, seakan mengerti.
Aku menghampiri bocah itu, “Nama kalian siapa? Dan kalianSedang apa?” tanyaku.
“Namaku Eta dan ini adikku Anisah. Kami sedang belajar Pak,” katanya. Sontak Laras dan Gunaidil tertawa karena aku dipanggil pak.
“Panggil saja aku kak Aril,” kataku. “Memangnya di desa ini, hanya kalian yang mau belajar? Teman-teman kalian mana?”
“Mereka tidak mau kak,” Anisah menjawab dengan sedih.
“Lho kenapa?” Tanya Laras.
“Banyak dari kami setelah lulus SMP sudah tidak bisa melanjutkan sekolah. Ada yang karena masalah biaya. Ada yang disuruh menjadi petani. Ada yang menjual dagangan. Dan karena itu semua mereka mendapat penghasilan, kemudian sekolah dinilai tidak mendatangkan rezeki,” jelas Eta.
Akhirnya sebuah ide datang kepadaku. “Kakak ada hadiah buat kalian. Tapi sebagai imbalannya, besok pagi kakak mau kalian mengajak teman-teman kalian ke rumah kakak. Setuju?”
“Rumah kakak dimana?” Tanya kedua bocah bersamaan.
“Hmmm, kamu tahu Pohon beringin besar di ujung jalan?” tanyaku.
“Iya tahu kak,” kata mereka serempak.
Nah nanti setelah itu kalian belok kanan, rumah kayu paling ujung. Anak itu mengangguk mengiyakan. Akupun pamit kepada kedua bocah itu bersama Laras dan Gunaidil. “Ditunggu ya!” kata Laras sambil melambaikan tangan kepada kedua bocah itu.
Keesokan paginya, rumahku kedatangan begitu banyak anak kecil. Ada yang berumur 6 tahun, 9 tahun, bahkan yang tertua ada yang sudah berumur 16 tahun. Aku, Laras, dan Gunaidil mempersilahkan mereka semua duduk di lantai rumah kayuku, dan kami membuat setengah lingkaran besar. Aku memberikan hadiah berupa cokelat kepada masing-masing anak itu. Dilahapnya cokelat itu begitu nikmat.
“Kak, mau apa kita kesini?” Tanya anak kecil yang tertua. “Kami benar-benar sibuk kak. Ada banyak yang mesti kami kerjakan. Kalau tidak, ayah ibu kami memarahi kami.”
“Sebentar saja, aku minta waktu kalian 30 menit,” kataku lugas.
“Kata Eta dan Anisah, kalian tidak mau belajar yah? Kenapa?” itu suara Laras.
Lagi-lagi, anak yang tertua angkat bicara, “Iya kak, kami lebih baik membantu ayah kami bertani. Atau membantu ibu kami menjual. Dengan begitu kami mendapat uang,” terangnya.
“Pemikiran seperti itu salah dik. Kakak adalah pelajar,” jelasku.
“Lalu? Apa yang sudah kakak dapatkan dari belajar? Uang?” kata seorang anak berbaju hitam. Sepertinya umurnya baru 9 tahunan.
Aku meminta tolong kepada Gunaidil untuk membawakan isi tasku. Setelah diambilkan, akhirnya aku membuka isi tasku di depan kerumunan anak-anak itu dan sontak mereka membelalak. Aku mengeluarkan selebaran uang ratusan ribu yang totalnya 2 juta rupiah. Kubagikan ke mereka hingga perorangnya mendapat jatah seratus ribu.
“Kalian hanya mau berguna untuk diri sendiri? Atau juga untuk orang lain?”
Tidak ada yang menajawab pertanyaanku. Mereka semua kebingungan. Akhirnya aku, Laras, dan Gunaidil memberi mereka pencerahan. Cahaya yang membawa mereka terlepas dari kegelapan. Terlepas dari belenggu kemiskinan. “Ketika kalian bertani, uang kalian datang tetapi akan habis dalam sekejab. Ketika kalian belajar, uang kalian susah akan datang tetapi ketika datang maka dalam jumlah yang besar. Dengan belajar kalian dapat meraih cita-cita kalian. Butuh waktu yang lama untuk bisa seperti kakak, tapi kakak yakin, apabila kalian berusaha dan tetap belajar, kalian akan sukses,” begitulah yang aku katakan kepada mereka. Mereka menatap kami. Antusias, seantusiasnya harimau ketika melihat domba. Dunia tidak melihat yang kecil. Tetapi yang kecil akan terlihat ketika dia membesar, berusaha untuk terlihat.
Malaikat bisa mengubah yang kumuh menjadi asri. Malaikat bisa mengubah gelap menjadi terang. Malaikat bisa mengubah kambing menjadi singa perkasa. Dan malaikat itu adalah kita. Jiwa pelajar yang mengabdi untuk masyarakat. Memberikan dampak yang besar bagi negeri ini. Dan mulailah mengubah desamu menjadi mutiara yang indah. ‘Kita harus membaca lagi agar bisa menuliskan isi kepala dan memahami dunia’, akhirnya aku mengerti maksud dari bait di puisi ini. Sebuah makna yang dalam.
Tunggulah gelap menjadi terang. Jangan ingin terang terlalu cepat. Lampauilah orang hebat, tapi jangan pernah itu menjadi kesombonganmu. Si Miskin butuh orang hebat, bukan orang kaya, sehingga nantinya Si Miskin dapat melampaui yang kaya. Hanya persoalan waktu teman. Dan kamu akan berguna di dunia ini, setidaknya untuk mereka.
Oleh:
Muhammad Fadel Dwi M. (Ilmu Ekonomi, 2016)