Brief Review Buku “Perempuan Berbicara Kretek”
Brief Review Buku “Perempuan Berbicara Kretek”
Membincangkan tentang perempuan di negeri ini serasa tidak aada habisnya. Serasa semua topik dapat disangkut pautkan dengan perempuan. Mulai dari sejarah, keseharian, pola pikir hingga masa depan. Suatu perbincangan yang tidak punya akhir dan terus berkembang dari hari ke hari.
Di negeri yang kental dengan sistem patriarki ini perbedaan antara perempuan dan laki-laki begitu kentara. Beberapa hal telah menjadi stigma tentang yang boleh dan tidak boleh, yang baik dan tidak baik dilakukan oleh perempuan seperti salah satu contohnya kebiasaan rokok atau kretek oleh perempuan.
Kebiasaan kretek di masyarakat Indonesia lazim untuk laki-laki namun tidak untuk perempuan. Untuk perempuan yang mengkretek seringkali mendapatkan stigma dan pandangan masyarakat yang cenderung negatif dan saat stigma itu telah tertanam serasa jawaban dan alasan perempuan tidak lagi cukup untuk didengar apa lagi untuk dipahami.
Menyadari hal ini aktifis perempuan Komunitas Kretek dari berbagai daerah di Indonesia berinisiafit menuangkan pengalaman dan pikiran mereka dalam sebuah buku. Buku Perempuan Berbicara Kretek ini mengajak para permpuan untuk menjelaskan tentang penilaian masyarakat pada kaum perempuan yang telah negative tanpa ada penjelasan.
Buku ini berisikan esay-esay menarik yang ditulis oleh perempuan-perempuan cerdas Indonesia yang enak di baca dan sangat lugas mengungkapkan yang mereka pikirkan. Kelincahan bertutur menjadikan pembaca tidak akan meninggalkan buku ini di tengah jalan saja namun akan terus membaca dan belajar memahami dari sudut pandang perempuan.Tulisan dalam buku ini dibagi dalam 4 bagian besar.
Bagian pertama, Ritus Keseharian pada bagian ini mengupas kehairan kretek dalam kehidupan keseharian masyarakat Indonesia mulai dari kretek yang di racik sendiri, rokok dengan kesehatan, perjodohan dan juga rokok modern yang ada. Bagian kedua, Perempuan di Simpang Stigma menceritakan tentang kisah-kisah perempuan dengan kebiasaan kretek mereka dan padangan masyarakat kepada mereka. Pada bagian ini juga mengusik sebuah roman Indonesia Roro Mendut yang juga berkretek apa Roro Mendut juga dikatakan perempuan nakal?
Bagian ketiga, Dalam Pusaran Arus Zaman mengupas kretek sendiri yang juga berjuang melawan tantangan zaman yang ia hadapi. Makin hari makin marak gerakan anti rokok, fatwa haram tentang rokok dan juga makin tersudutkannya industri rokok di Indonesia. Bagian keempat, Kretek, Budaya dan Keindonesiaan bagian ini membahas sebenarnya kretek adalah salah satu warisan budaya bangsa. Seberapa besar peran kretek dalam keindonesiaan yang ada dan sebarapa belas kretek menjadi mata pencarian untuk masyarakat di Indonesia.
Buku ini membuka mata kita tentang alasan dan memahami penjelasan tentang kretek. Dari sepucuk puntung kretek yang Anda lihat atau yang baru selesai Anda hisap berapa banyak nyawa yang tergantung atas industri ini. Perempuan dengan kretek bukan untuk dihindari dan bukan untuk di labeli negatif namun perlu dipahami. Memahaminya bukan pula sebagai suatu kewajaran tapi sebagai suatu pilihan dewasa oleh seorang perempuan.
