Brief Review Buku “Imagined Communities”

Nasionalisme sejatinya merupakan sebuah fenomena yang muncul dalam pembahasan tentang pembentukan negara pada abad ke-20. Para pemikir seperti Nairn maupun Hobsbawn telah menjelaskan mengenai konsep kebangsaan dan nasionalisme, namun dalam buku “Imagined Communities” Anderson menyajikan konsep mengenai kebangsaan dan nasionalisme dengan istilah “Komunitas-komunitas Terbayang”. Lebih lanjut, Anderson juga tidak cukup puas dengan pernyataan Ernest Renan yang menyatakan bahwa bangsa memiliki kepunyaan bersama dan didalamnya melupakan hak milik bersama. Anderson juga menolak pernyataan Gellner bahwa nasionalisme adalah pembentuk suatu bangsa yang menurutnya hal tersebut hanyalah sebuah kepalsuan karena bangsa terbentuk melalui pembayangan-pembayangam yang dilakukan oleh individu didalamnya.

Anderson mendefiniskan bangsa sebagai “sebuah komunitas politis dan dibayangkan terbatas secara inheren dan memiliki kedaulatan”. Ia menyebut bangsa sebagai komunitas terbayang karena individu-individu dalam bangsa itu tidak benar-benar berinteraksi dan bertemu seluruhnya, mereka hanya membayangkan bahwa ada individu yang seperti mereka. Terbatas dalam artian hanya individu-individu tertentu yang memiliki syarat inheren dalam bagian dari bangsa dan berdaulat dalam artian bangsa tersebut menganggap bangsanya memiliki kesatuan wilayah yang mandiri.

Anderson menjelaskan bahwa kesadaran nasional itu muncul melalui kapitalisme percetakan. Kapitalisme percetakan yang dimaksud adalah dorongan produksi teks/cetakan yang bukan hanya sekadar untuk memperkenalkan bahasa secara lebih luas, melainkan karena adanya motif-motif ekonomi kapitalistik dibaliknya. Produksi massal percetakan akhirnya mendorong munculnya bahasa nasional yang bisa saja berasal dari bahasa-bahasa administratif maupun bahasa ibu.

Anderson lebih lanjut menjelaskan sejarah berbagai bangsa dan juga menunjukkan para perintis kreol (warga Eropa yang lahir diluar tanah Eropa) adalah yang pertama kalinya memperjuangkan apa yang disebut sebagai kesadaran nasional yang mendorongnya untuk memisahkan diri dari induk koloninya di Eropa. Dari 13 koloni Inggris di Amerika, semuanya memutuskan hubungan dengan London dan mendeklarasikan diri sebagai bangsa yang berdaulat.

Sejak Revolusi Perancis yang memperjuangkan kesadaran nasional bangsa Perancis dimana mereka ingin berdaulat dalam memimpin negerinya sendiri tanpa dikuasai oleh bangsa Bourbon. Setelah itu, prototipe nasionalisme inilah yang akhirnya ditiru oleh bangsa-bangsa Eropa lainnya. Hal inilah yang menjadi keunikan bangsa sebagai suatu komunitas terbayang melalui penggunaan bahasa, pemahaman akan sejarah dan atribut masing-masing. Anderson juga sangat bebas dalam membandingkan berbagai nasionalisme Inggris, Jepang, Indonesia, Swiss, Hungaria dan Finlandia dengan dasar keunikan dari nasionalisme bangsa-bangsa tersebut. Dengan itu pula, Anderson menyusun model-model kemunculan nasionalisme dengan menggunakan berbagai pengalaman historis berbagai bangsa, termasuk didalamnya Indonesia. Dalam kasus Indonesia, sejarah nasionalismenya tidak setua sejarah nasionalisme Amerika maupun Eropa. Namun, peniruan model nasionalisme bangsa-bangsa juga berlaku bagi Indonesia.

Dalam konteks Indonesia, penggunaan bahasa Melayu Pasar telah cukup lama menghubungkan berbagai pulau dan etnis di Nusantara, jauh sebelum kemunculan pengaruh dari Eropa. Bahkan, pemerintahan Kolonial Belanda turut memperkuat status bahasa Melayu menjadi bahasa resmi di nusantara.

Add a Comment

Your email address will not be published.