Kita Tidak Hidup Sendiri.
Kita Tidak Hidup Sendiri.
Setiap dari kita pasti menginginkan kebahagiaan, kesejahteraan, dan kemerdekaan. Masing-masing dari kita sibuk mengejar keinginan itu sendiri.Terkadang seseorang memiliki sikap untuk sukses sendiri tanpa bantuan orang lain. Tanpa kita sadari bahwa sesuatu hal bisa diraih dengan mudah jika dikerjakan bersama. Layaknya yang pernah penulis dapatkan dari urgensi berlembaga (bekerja sama) adalah karena manusia adalah makhluk monodualistik yaitu makhluk individu dan makhluk sosial. Sebagai makhluk individu manusia memiliki potensi dalam dirinya yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan suatu pekerjaan sedangkan sebagai makhluk sosial yaitu manusia tidak dapat bekerja sendiri dan selalu membutuhkan bantuan orang lain. Masing-masing potensi manusia berbeda dan menjadi alasan mengapa kita perlu bekerja sama. Layaknya aku adalah sabun dan kau adalah air, kita bekerja sama untuk membersihkan kain yang dicuci. Kita juga takkan pernah tahu hal yang luar biasa apa yang akan kita dapat saat kita bekerja sama dengan orang lain.
Tapi tidak semua orang mau atau mampu bekerja sama dengan orang lain karena sikapnya yang masih mementingkan kesejahteraan dirinya sendiri (egoisme). Tidak bisa dipungkiri memang egoisme ada di setiap masing-masing individu. Tetapi ada sikap yang juga perlu yaitu juga mementingkan kesejahteraan orang lain (alturisme).
Sampai saat ini, menurut kacamata pribadi penulis sikap egoisme masih dimiliki oleh dominan dari kita. Masing-masing dari kita memiliki cara sendiri dan jalan masing-masing untuk mendapatkan keinginan kita sendiri. Apatis tetang hidup orang lain. Apatis tentang apa yang dilakukan disekitar kita. Lupa bahwa kita tidak hidup sendiri kita punya lingkungan yang didalamnya kita hidup. Bahkan apatis tetang kondisi di negara kita sendiri. Kita semua sibuk memperkaya diri, tidak peduli tentang belia yang tidak lagi main layangan tapi melayang-layang dengan plastik kalengnya. Belia yang tidak lagi main rumah-rumahan tapi sudah berani hidup satu rumah. Tentang buku-buku yang masih rapi di raknya tapi tuannya sibuk mencari colokan listrik. Apakah hanya kita? Bahkan ayah kepala rumah tangga negara kita saja cenderung lebih mengurusi material apa yang bagus untuk bangunan rumah bukan makanan apa untuk penghuni rumah ini.
Kebanyakan dari kita mungkin tidak tahu masalah apa yang sedang terjadi di negara kita sendiri. tentang penggusuran, tentang perampasan, tentang ketidakadilan, dan ketimpangan-ketimpangan lainnya yang tidak pernah habis. Bisa jadi, kita hanya sekedar tau menganggapnya bagai angin berlalu toh kita menganggap itu tidak ada sangkut pautnya dengan kita. Semakin kita abaikan, tidaklah kita sadar bahwa hal itulah yang mengikis rasa kemanusiaan yang ada dalam diri kita. Hingga kebaikan itu perlahan menjadi tabuh.
Tidakkah kita sadar bahwa setiap dari kita punya peran untuk mencegah atau mengatasi problematika yang ada. Mahasiswa sebagai kaum intelektual, dianggap memiliki pengetahuan serta potensi yang lebih. Dengan peranan itu ada konsekuensi logis yang seyogyanya harus dipenuhi. Tapi tidak semua dari kita paham tentang konsekuensi logis itu sebab kita dijauhkan dari pemahaman tersebut dengan didorongnya kita masuk dalam dunia ciptaan kita sendiri. Kita dimanjakan dengan teknologi yang membuat kita nyaman untuk tetap diam dan membuat kita jadi lupa pada kenyataan. Permasalahan dunia nyata yang menunggu untuk dipecahkan.
oleh :
Rizki Putri Giswandari
Anggota Kastrad Sema FEB-UH