Brief Review Buku “Saman”

Sebelum membahas isi novel karangan Ayu Utami ini, ada baiknya pembaca mengetahui latar belakang pencipta dan penciptaan buku ini. Buku ini ditulis oleh Ayu Utami, seorang jurnalis pada masa pemerintahan orde baru. Ayu Utami tergabung ke dalam Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) yang memperjuangkan kebebasan pers di Indonesia. Pada saat menulis buku ini, Ayu Utami sedang resign pada pekerjaannya di salah satu kantor berita nasional karena mencoba mengkritik dan melawan sistem pers yang tidak sesuai dengan hak kebebasan pers. Untuk tetap dapat bersuara melalui tulisan, maka penulis mengikuti lomba sayembara novel oleh Dewan Kesenian Jakarta dan terciptalah novel ini.

Terbit pada tahun 1998 mengawal reformasi, buku ini mengambil latar suasana zaman orde baru. Penulis mencoba untuk menggambarkan kondisi Indonesia saat itu ke dalam bentuk fiksi. Banyak isu-isu menarik yang diangkat penulis seperti pembebasan lahan untuk perkebunan sawit, kasus buruh Marsinah, pandangan terhadap politik patriarki, hingga bahasan dominan mengenai konsep kebebasan diri dan seksualitas. Babak demi babak cerita disusun dengan gaya khas kepenulisan Ayu Utami yang sarat akan kritik terhadap manusia dan pemerintah.

Sebagai pemenang pertama sayembara buku Dewan Kesenian Jakarta saat itu, maka kekentalan sastra buku ini dapat tergambarkan melalui setiap kata hingga paragraph di dalamnya. Pemilihan kata pada buku ini sangat kaya dan seolah menghendaki kita untuk mempelajari lebih banyak lagi kosa kata dalam bahasa Indonesia. Karena buku ini juga membahas tentang seksualitas, maka akan dijumpai banyak kata-kata seperti orgasme, ejakulasi, onani dan masturbasi. Pada kata sambutannya, Ayu Utami berujar bahwa dirinya sangat mengapresiasi Kelompok Penerbit Gramedia yang telah berani menerbitkan karyanya secara utuh tanpa sensor apapun. Sejak diterbitkan, buku ini mendapat kecaman dari berbagai pihak karena dianggap membahas sesuatu yang tabu. Namun, pada realitanya hingga saat ini buku ini terus mengalami naik cetak, bahkan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa untuk dibaca oleh penikmat sastra dunia.

Novel Saman berkisah tentang persahabatan di antara empat orang wanita muda. Mereka adalah Laila, seorang fotografer dan juga penulis, Yasmin, seorang pengacara sukses yang bekerja di kantor ayahnya, Shakuntala, seorang pelajar jurusan seni di New York yang sangat suka menari, dan Cok, seorang pengusaha sukses di bidang perhotelan. Dua di antara empat wanita muda tersebut terlibat hubungan percintaan dengan seseorang yang bernama asli Wisanggeni, yang dalam pelariannya disebut Saman, seorang pasto yang juga aktivis hak asasi manusia.

Buku ini dibuka dengan cerita ketika Laila bertemu dengan Sihar Situmorang, seorang karyawan tambang minyak di sebuah kapal di mana Laila bekerja untuk melakukan dokumentasi. Latar tempat yang dipilih penulis adalah Prabumulis, Sumatera Selatan. Pada babak ini, penulis menggambarkan realita yang terjadi pada dunia pertambangan minyak di laut yang menyaratkan kerakusan dan keserakahan para pengais minyak bumi. Sihar yang seorang ahli dalam bidang tersebut, berargumen dengan pejabat petinggi perusahaan yang rakus dan memetingkan ego sendiri untuk mengais sebanyak-banyaknya minyak dari dalam laut sehingga harus mengorbankan nyawa rekanan Sihar. Babak ini penulis menceritakan bagaimana Laila jatuh cinta kepada Sihar atas kecerdasan dan keberanian yang dimilikinya.

Babak kedua pada buku ini bercerita tentang seorang lelaki bernama Wisanggeni, seorang pastor di Prabumulih yang kemudian menjadi aktivis pejuang hak-hak atas warga Prabumulih yang ingin dikuasai lahannya oleh perusahaan kelapa sawit. Bagian awal babak ini akan bercerita tentang kisah masa kecil Wisanggeni di Prabumulih yang diwarnai dengan kejadian-kejadian mistis yang dialami ibunya berupa kehilangan bayi (adik Wisanggeni) di dalam kandungan. Kisah mistis yang diangkat oleh penulis menunjukkan kearifan lokal masyarakat yang masih mempercayai adanya hal-hal mistis di tengah masyarakat.

Babak Wisanggeni juga bercerita tentang perlawanan warga Prabumulih untuk melawan perusahaan kelapa sawit yang akan menggantikan perkebunan karet warga menjadi perkebunan sawit. Pada bagian ini, penulis mengajak kita untuk melihat bagaimana perusahaan kaitalis yang bekerja sama dengan pemerintah mencoba untuk merebut ahan secara paksa, membodoh-bodohi warga dengan dalih bahwa membuka perkebunan sawit akan menimbulkan banyak manfaat. Warga yang tingkat pendidikannya rendah dan tidak mampu memikirkan dampak-dampak jangka panjang akan tertipu oleh penjelasan perusahaan dan pemerintah untuk kemudian menghilangkan kepemilikannya atas tanah di kampung halamannya sendiri.

Di bagian ini pula diceritakan kisah Wisanggeni bertemu dengan gadis kecil warga Prabumulih yang bernama Upi. Upi digambarkan adalah seorang gadis remaja yang memiliki gangguan jiwa sampai pada taraf mengganggu dan meresahkan masyarakat. Upi mempunyai nafsu berahi yang sangat tinggi yang darinya penulis akan menggambarkan megenai konsep seksualitas dan kebebasan. Karena tidak tahu cara merawat Upi, maka warga memilih untuk memasungnya di suatu gubuk.

Perlawanan yang dilakukan oleh Saman membuatnya menjadi buronan intelijen. Dia terus dikejar hingga keluar dari Kawasan Prabumulih. Di bagian ini, penulis mencoba untuk menggambarkan betapa bahayanya orang-orang yang melawan para penguasa saat itu melalui siksaan-siksaan yang diterima para aktivis. Bila kau tidak ingin tunduk pada penguasa, maka kau harus ditundukkan dengan cara apapun termasuk bila mengancam nyawa.

Babak lain pada buku ini bercerita tentang Shakuntala yang memilih untuk meninggalkan Indonesia karena menerima beasiswa untuk berkuliah di New York. Ia merupakan seorang penari yang membebaskan diri dari norma dan aturan yang dipegang teguh oleh masyarakat. Shakuntala sejak kecil menyimpan kebencian kepada ayahnya yang senang sekali mengekangnya. Baginya, hidupnya saat ini adalah hidup atas kebebasan yang akan dipertanggungjawabkan sendiri. Terkait konsep patriarki, penulis menggambarkan keresahan akan segala aturan yang mendiskriminasi kebebasan seorang perempuan.

Selain berbagai kritik terhadap sistem tatanan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, buku ini juga menyuguhkan kisah romansa yang rumit antara Laila, Sihar, Saman dan Yasmin. Sebagaimana yang telah disebutkan di awal bahwa novel ini vulgar dengan menyasar pembaca berusia dewasa.

Beberapa pembaca akan merasakan kebingungan dengan alur cerita yang disajikan karena tiap babak akan diperankan oleh tokoh utama yang berbeda-beda. Namun, secara keseluruhan akan terdapat satu benang lurus yang menghubungkan cerita-cerita di tiap babak. Buku ini sangat direkomendasikan kepada orang-orang yang ingin mengetahui situasi Indonesia zaman orde baru, maupun para pejuang hak asasi manusia dan kebebasan. Jangan lupa untuk menyiapkan Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk membantu menerjemahkan kata-kata rumit di dalam buku ini.

Add a Comment

Your email address will not be published.