Resensi Buku: The Secret of Carstensz

 

Peresensi         : Dian Purnamasari

Judul buku      : The Secret of Cartensz (Eksplorasi Tiada Henti Tanah Papua)

Pengarang       : Marino Gustomo, Zaynur Ridwan (Co-Writer)

Penerbit           : Penerbit Salsabila, Jakarta

Tahun terbit    : 2017

Tebal halaman : 324 halaman

 

The Secret of Cartensz adalah sebuah novel fiksi yang menceritakan kisah petualangan empat orang sahabat yang bernama Krisna, Abdul, Dendy, serta Jani. Novel ini bukan hanya berkisah mengenai petualangan dan persahabatan empat orang ini. Lebih dari itu, ini adalah kisah tentang penjelajahan, tentang eksplorasi tanah Papua, tentang Indonesia.

 

Krisna Kusuma adalah seorang “kandidat” yang dipilih oleh suatu organisasi yang bernama “The Board” untuk memimpin suatu penjelahan di Gunung Cartensz. Hasratnya terhadap gunung sangatlah besar, itu sebabnya dia menerima tawaran “The Board” meskipun dia dan timnya sudah pernah menjelajah Cartensz. Abdul adalah seorang pendaki dengan banyak informasi dan data yang tidak banyak diketahui orang. Kecintaannya terhadap buku dan informasi membuatnya mampu menuangkan kisah-kisahnya buku karangannya. Dendy digambarkan sebagai seorang pria keras kepala yang juga hobi bermusik, menjadi yang tercepat dalam pendakian di antara yang lainnya. Kemampuannya inilah yang membuat Krisna sangat membutuhkannya di dalam tim dan  mengharuskan Krisna mencari cara untuk membuatnya bergabung di dalam tim. Jani, adalah sahabat dan adik dari Krisna. Meski mencintai pendakian, namun naluri wanita yang hangat, perhatian, dan penakut tetap mengalir dalam dirinya.

 

Meskipun Cartensz menjadi sorotan utama dalam cerita ini, namun petualangan keempat sahabat ini bukanlah berupa pendakian ke puncak Cartensz, melainkan penjelajahan ke bagian-bagian Cartensz yang gelap. Tujuannya adalah demi mencari seorang peneliti “The Board”, Robert Stanford, yang hilang dua puluh tahun yang lalu. Peneliti yang memiliki harta yang dicari-cari oleh “The Board” bahkan dicari-cari oleh dunia. Dalam pencarian itu, mereka mengalami dan melihat Papua yang sebenarnya. Papua yang sangat kaya. Papua yang indah. Papua yang bebas. Dan Papua yang menangis

 

Akhir kisah perjalanan mereka akan berujung pada fakta-fakta yang tidak terduga, kisah-kisah yang terjadi di tanah Papua. Bagaimana keserakahan manusia mematikan rasa “kemanusiaan” manusia itu sendiri. Bagaimana Papua di mata Indonesia. Bagaimana Papua di mata kita. Perjalanan ini membuat keempat sahabaat itu semakin kaya. Bukan hanya kaya dengan pengalaman dan petualangan tentang pendakian puncak tertinggi yang diselimuti salju abadi di Indonesia itu.  Namun lebih dari itu, mereka juga semakin kaya dengan cinta, cinta kepada bangsa, cinta kepada tanah air, cinta kepada saudara-saudara yang terpisah pulau namun tetap satu ibu Indonesia, yakni Papua, surga dan tulang punggung Indonesia.

 

Kelebihan Buku:

  • Novel ini memiliki bahasa yang ringan dan cukup mudah untuk dipahami.
  • Pembukaan novel yang memuat kesan-kesan pembaca sebelumnya ditampilkan dengan nuansa hitam seolah memperkuat unsur misteri dalam novel ini.
  • Model penceritaan dalam novel terstruktur dengan baik sehingga pembaca tidak kesulitan memahami alurnya.
  • Memuat banyak sekali informasi yang mungkin saja baru bagi sebagian orang, terkhususnya mengenai sejarah Freeport di Indonesia, bahkan kaitannya dengan era Orde Baru dan Orde Lama.
  • Ending buku yang tidak dapat ditebak dari awal karena menceritakan pencarian Robert Stanford yang tidak diketahui apakah telah meninggal atau belum.
  • Banyak sekali pesan dan makna yang tertuang khususnya bagaimana kita sebagai sebuah bangsa memiliki hati untuk negara kita.

 

Kekurangan buku:

  • Ada beberapa bagian yang typo (kekurangan spasi), namun tidak mempengaruhi penyampaian yang ingin diungkapkan.
  • Cover buku yang kurang menarik.
  • Beberapa kisah yang tidak diceritakan dengan jelas, khususnya pada bagian penyebab meninggalnya Andro di Gunung Slamet.
  • Tidak diceritakan lebih lanjut bagaimana akhir kisah dari orang-orang “The Board” dan Team

 

Quote pilihan:

  • Dalam pelarian, tiap detik adalah waktu yang sangat berharga (hal. 147)
  • Media adalah alat propaganda paling berpengaruh (hal. 161)
  • Uang berbicara, semua bisa dibeli (hal. 189)
  • Keserakahan itu tak berbatas. Manusia bisa menjadi lebih kejam daripada serigala hanya karena uang, emas, berlian…. (hal. 273)
  • Kami kehilangan semuanya, kami berdiri di tanah paling kaya di negeri ini, tapi kami bahkan tidak mampu membeli pakaian yang layak. Kami tidur di atas emas, kami berenang di atas minyak, tapi itu semua bukan punya kami. Kami hanya menjual buah pinang. (hal. 300)

Add a Comment

Your email address will not be published.