Notulensi Kapsul Bagian 6
SOSIALISASI HASIL
KAPSUL
( KAJIAN SEPUTAR SOSIAL )
BAGIAN 6
“Gerakan Sosial Menuju Perubahan Sosial”
Pada kajian seputar isu sosial terakhir ini kami mengangkat tema Gerakan Sosial Menuju Perubahan Sosial. Dengan peserta kurang lebih terhitung 20 peserta. Kajian dimulai tepat pukul 16:15 di “karpet merah” FEB-UH.
Latar belakang kami mengangkat tema ini karena mengimgat sebagai alhir dari rentetan Kapsul yang kami adakan diharapkan dengan memberikan materi terkait bagaimana selanjutnya dalam melakukan pemabasisan dalam pergerakan. Aspirasi dibungkam, segala yang berbau kritik terhadap pemerinhan akan “dihilangkan” dan mahasiswa hanya disuruh tunduk belajar, menaati aturan-aturan pembelajaran yang diberikan oleh dosen di kelas. Mahasiswa sebagai moderat antara si penguasa dan yang dikuasai mulai disorientasi dan akibatnya mahasiswa harus patuh terhadap aturan. Jika akan terus begini birokrat kampus selaku pemegang kekuasaan tertinggi dalam masyarakat kampus akan melihat segala bentuk kebijakan yang dikeluarkan olehnya sudah baik-baik saja karena sudah tidak adalagi peran mahasiswa (yang juga merupakan warga dalam masyrakat kampus) yang selalu akan mengkritik agar melahirkan solusi bersama. Dan pendidikan seperti ini pun ditemukan di era orba.
Refleksi merupakan bentuk dari penggungkapan kesadaran, dimana ia dapat memberikan atau bertahan dalam situasi dan kondisi tertentu dalam lingkungan. Setiap teori yang dihasilkan oleh seorang merupakan refleksi tetang realitas dan manusia. Manusia dalam melahirkan cinta untuk semua merupakan jawaban untuk eksistensi manusia yang membutuhkan rasa dan sayang dari yang lain. Begitupula, tetang kesadaran merupakan sangat berkaitan dengan manusia bahkan yang membedakan manusia dengan binatang. Kesadaran merupakan unsur dalam manusia dalam memahami realitas dan bagaimana cara bertindak atau menyikapi terhadap realitas. Manusia dengan dikaruniahi akal budi merpakan mahluk hidup yang sadar dengan drinya. Kesadaran yang dimiliki oleh manusia kesadaran dalam diri, akan diri sesama, masa silam, dan kemungkinan masa depannya. Manusia memiliki kesadaran akan dirinya sebagai entitas yang terpisah serta memiliki kesadaran akan jangka hidup yang pendek, akan fakta ia dilahirkan diluar kemauannya dan akan mati diluar keinginannya.
Kesadaran adalah kemampuan untuk menyadari, kemampuan untuk mempersepsi sesuatu yang ada. Pada tingkat kesadaran manusia mengalami proses sensasi dan untuk mengintegrasikan sensasi menjadi kehendak. Kesadaran dapat dicapai dan dipertahanakan dengan kegiatan (action) yang terus menerus. Secara langsung atapun tidak setiap fonem kesadaran diderevasikan kesadaran manusia akan dunia luar. Ekstropeksi merupakan suatu proses kesadaran yang diarahkan ke luar–proses untuk memahami yang ada di dunia luar. Sedangkan intropeksi merupakan proses kesadaran yang diarahkan ke dalam-proses untuk memahami kegiatan psikologi sendiri dengan meperhatiakan yang ada di dunia luar, seperti kegiatan berfikir, merasa, dan mengenang. Kesadaran merupakan kesadaran terhadap sesuatu, kesadaran timbul dikarenakan interaksi terhadap dunia luar, maka kegiatan sadar dapat dialami.
Bagaimana dalam sebuah pergerakan tidak boleh terdapat seorang tokoh yang menjadi poros pergerakan, tatapi hanya berupa orang yang menjadi pemantik sekelompok orang dalam bagaimana berfikir dan mencari solusi untuk bergerak. Sama halnya dengan pengaderan, tidak boleh dalam hal mematenkan sebuah pengetahuan, perlu adanya pemantik kesadaran kritis bukan mematenkan sebuah paham. Diharapkan agar paham atau pengetahuan dipahami tidak hanya dihafal. Kesadaran secara arbiter menciptakan realitas suatu generasi kelas social, dengan menolak situasi yang ada tempat mereka hidup, dapat mentrasnformasikan dengan suatu gerakan sederhana yang relevan.
Jika dalam pembasisan pada suatu daerah, jika hanya menjadi tokoh dalam pergerakan jika tokoh tersebut telah hilang maka pergerakan akan terhenti. Manusia jika berdasarkan pemahaman akan berbeda seperti komunis, radikal. Dalam kenyataan, kesadaran bukanlah hanya tiruan dari apa yang nyata dengan demikian pula dengan apa yang nyata bukan hanya konstruksi kesadaran yang berubah-ubah. Ia hanyalah jalan setapak merupakan kesatuan yang dialektis, dimana kita menemukan solidaritas antara subjektivitas dan objektivitas, sehingga kita dapat keluar dari kesalahan subjektivis atapun kesalahan mekanistis. Kita harus memperhitungkan peran kesadaran atapun peran mahlk sadar dalam transformasi social. Bagaimana seseorang menerangkan misalnya dalam istilah subjektivis, posisi manusia sebagai individu generasi atau kelas social yang dikonfrotasikan dengan situasi sejarah tertentu dimana mereka menjadikan kesadaran atau kehendak mereka independent? Begitu juga, dengan etis profetis yang dimiliki oleh ikatan merupakan dasar dari yang dilakukan oleh kader ikatan atapun gerakan kolektif ikatan. Dengan menjadikan kepentingan organisasi diatas kepentingan diri sendiri