BAGAIMANA BERMAIN-MAIN DALAM HIDUP?

oleh Gunawan Putra

Manusia adalah homo ludens atau makhluk yang bermain, hasrat untuk bermain merupakan fitrah bagi manusia. Dalam analisis filsuf, main-main itu bukan sekadar main-main, tapi juga serius. Hal tersebut merupakan permainan eksistensial yang berkaitan dengan hakikat hidup manusia. Sebuah kalimat berkata, “Dunia adalah panggung sandiwara”. Dimana semua manusia bermain dalam sebuah drama, ada masa dimana manusia akan naik atau turun panggung. Menurut Shakespeare, manusia bermain drama di tujuh babak. Yang pertama yaitu infant (bayi), kemudian menjadi school boy (Anak sekolah), selanjutnya masuk pada tahap the lover (Remaja yang baru mengalami cinta), selanjutnya, manusia akan masuk dalam babak the soldier (Pekerja keras), dan kemudian ketahap Justice dimana pada tahap ini manusia akan mulai memikirkan kebijaksanaan serta makna hidup. Melewati itu, manusia kemudian masuk ketahap The Lean and The Pantaloon dimana manusia sudah mulai menua namun dalam keadaan yang sudah mapan. Hingga pada tahap akhir, manusia akan masuk ke babak Second Childish atau anak-anak fase kedua, dimana manusia akan kembali seperti bayi lagi, tidak memiliki gigi, tenaga, dan hanya bisa tergolek di ranjang.

Karena dunia adalah panggung sandiwara, maka dunia jangan terlalu dianggap serius. Tetapi, jangan pula hanya main-main. Manusia harus serius dalam bermain akting untuk mendapatkan piala citra. Manusia hanya bermain dari satu peran ke peran lain. Ketika dirumah anda akan berperan sebagai seorang anak, ketika di kampus anda akan berperan sebagai seorang mahasiswa.

Permainan itu memiliki beberapa variabel. Pertama, permainan adalah “serius dalam ketidakseriusan”. Dunia adalah ketidakseriusan, namun juga harus serius. Contohnya adalah sepakbola. Sepakbola hanya sekadar permainan yang dimana harus dinikmati. Sepakbola memanglah sekadar permainan, namun jika sepakbola hanya sekadar saling berebut bola, bukannya lebih baik membeli bola saja sebanyak-sebanyaknya. Namun, sepakbola bukan hanya sebatas itu, sepakbola menuntut agar bagaimana pemainnya bisa serius agar bisa menciptakan goal. Begitupula dengan dunia, dunia merupakan sebuah permainan tetapi harus bermain dengan serius juga.

Ciri yang kedua adalah “Bebas” dan “Sukarela”. Orang yang tidak mau bermain tidaklah bisa dipaksa untuk melakukan permainan. Ketika orang melakukan permainan karena dipaksa, hanya akan menimbulkan kekacauan dalam permainannya. Oleh karena itu, orang yang melakukan permainan haruslah dengan bebas dan sukarela.

Ciri yang ketiga, permainan biasanya bukan sekadar jasmaniah tapi juga terdapat dampak inteleknya. Permainan akting bukan sekadar jasmaniah saja, melainkan harus melibatkan intelektual dan imajinasi haruslah ikut bermain. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, permainan sekarang sudah mulai kurang menggunakan jasmani. Contohnya seperti permainan di gadget yang dimana lebih mengandalkan intelektual.

Ciri yang keempat, permainan memiliki efek yang menyenangkan. Ketika manusia bermain sandiwara, akan sia-sia ketika ia merasa tersiksa dan tidak nyaman. Karena pada dasarnya permainan dilakukan karena mengejar efek menyenangkannya. Ketika merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan, anggap saja sedang memerankan adegan sedih dalam panggung sandiwara, dimana setelah melakukan adegan tersebut, maka akan selesai ketika penampilan sandiwara anda selesai.

Ciri yang kelima yaitu proses permainan bisa dinikmati. Dalam permainan, yang menjadi puncak kesenangannya adalah proses, bukan dalam hasil. Ketika permainan hanya cukup dengan melihat hasilnya, maka tidaklah ada kesenangan dan keseruan didalamnya. Oleh karena itu, puncak keseruan dari sebuah permainan adalah prosesnya. Dalam konteks teologi, hasil itu urusan tuhan. Sedangkan bagian dari manusia adalah proses.

Kata Plato, “Hidupmu harus kamu jalani sebagai permainan”. Plato juga berkata, “engkau dapat mengetahui watak, ciri, karakter seseorang dalam satu jam bermain bersamanya”. Dalam artian, manusia bisa diketahui karakternya dengan bermain bersama dibanding dengan mengobrol dengannya dalam satu tahun. Karena dengan obrolan, manusia bisa dengan mudah memanipulasi perkataannya, namun dibanding dengan bermain manusia bisa dterbuka keaslian dari karakternya. Hidup ini merupakan permainan, maka bermainlah dengan cantik karena karakter seseorang terlihat ketika bermain.

Add a Comment

Your email address will not be published.