Resensi Buku “Berani Tidak Disukai”

oleh Riyan Fadilah Putra

Resensi Buku : Berani Tidak Disukai

Karya : Ichiro Kishimi & Fumitage Koga

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2019

Buku ini mengambil konsep percakapan antara Socrates dan anak muda pada zaman yunani dimana menjelaskan mengenai bagaimana kita menilai kehidupan dalam pandangan teori psikologi Alfred Adler yang merupakan satu dari tiga psikolog termuka pada abad ke 19. Buku ini berisi tentang percakapan filsuf yang menganggap bahwa dunia ini sederhana dan manusia bisa meraih kebahagiaan dan seorang pemuda.

Isi dari bab pertama (Menyangkal keberadaa trauma) dari buku ini menjelaskan tentang konsep dasar “teleologi”, gagasan dari Alfred Adler yang menjelaskan tentang bagaimana tindakan manusia ditentukan oleh tujuan dan bukan dari sebab yang terjadi di masa lalu. Hal tersebut bertentangan dengan  Gagasan Freud dimana segala fenomena yang dilakukan manusia terjadi karena adanya sebab akibat (Aetiologi). Teori psikologi dari Adler yang menjelaskan bahwa trauma secara definitif tidak diterima. Teori Adler ini menolak alasan dari trauma tersebut dan mengatakan bahwa diri kita tidak ditentukan oleh pengalaman kita sendiri namun bagaimana kita menyikapinya.

Dari bab kedua (Semua persoalan adalah tentang hubungan interpersonal) menjelaskan tentang segala masalah yang terjadi dalam hidup dikarenakan adanya hubungan interpersonal. Hubungan ini akan menghasilkan perasaan inferior, namun tergantung bagaimana kita menyikapi adanya perasaan tersebut. Perasaan inferior merupakan hal yang alamiah yang dimiliki setiap manusia, perasaan ini bisa menjadi pemicu untuk berubah menjadi lebih baik, namun juga bisa menjadi alasan untuk merasa tidak bisa melakukan apa-apa dan menyebabkan munculnya kompleks inferoritas ataupun kompleks superioritas.

Bab ketiga (Menyisihkan tugas-tugas orang lain) menjelaskan  mengenai bagaimana pembagian tugas yang ada dalam teori psikologi Adler. Dalam sistem pembagian tugas kita memiliki tugas masing-masing yang harus kita ketahui. Tugas tersebut bisa diidentifikasi dengan melihat bagaimana efek dari tindakan yang akan dilakukan apakah berdampak pada kita sendiri. Apabila kita menyadari dampak tersebut dan ingin melakukan tindakan untuk mencapai atau merubahnya, tindakan tersebut merupakan bagian dari tugas kita.

Bab keempat (Dimanakah pusat dunia ini) menjelaskan tentang penyisihan tugas tidak berarti menjadikan kita seseorang yang tidak peduli dengan lingkungan sosial, namun tujuan dari semua itu untuk menghasilkan perasaan sosial. Sebagai individu kita tidak dapat hidup tanpa bantuan dari orang lain.

Bab Kelima (Hidup dengan sungguh-sungguh disini pada saat ini) menjelaskan tentang bagaimana kita bisa menerima kekurangan kita dan fokus pada hidup kita saat ini. Hidup diibaratkan sebagai sebuah panggung dimana lampu sorot diarahkan ke kita sehingga kita bisa fokus pada diri kita sendiri. Dengan menjalan tiga tahap dalam teori psikologi Adler maka manusia dapat meraih kebahagiaan. Tahap tersebut dimulai dengan penerimaan diri kemudian dilanjutkan dengan menganggap orang lain adalah kawan seperjuangan, dan yang terakhir yaitu mendapatkan peraasaan berkontibusi.

Pelajaran yang saya dapatkan dari membaca buku ini yaitu tidak adanya pengalaman yang mempengaruhi kegagalan ataupun keberhasilan seseorang, hal tersebut pertama ditentukan oleh tujuan dan efek dari tujuan tersebut akan menghasilkan emosi yang atau tindakan yang dibutuhkan dalam pemenuhannya. Segala persoalan yang ada dalam diri kita dapat dipandang sebagai kelebihan ataupun kekurangan kita. Perasaan inferior yang kita miliki seharusnya digunakan sebagai landasan pacu untuk menjadi manusia yang lebih baik. Setiap manusia memiliki tugasnya masing-masing, focus kita adalah melakukan tugas kita tanpa mengintervensi tugas dari orang lain. Dengan fokus melakukan tugas kita sendiri kita bisa menghindari pemikiran negative mengenai diri kita sendiri yang terjadi karena hubungan interpersonal.

Membantu orang lain juga merupakan tugas kita namun dengan mengetahui sistem pembagian tugas kita bisa melakukannya tanpa mengintervensi tugas dari orang lain. Seperti pribahasa yang ada dalam buku ini yaitu “kita dapat membawa kuda ke sungai namun tidak bisa membuatnya minum, persoalan apakah kuda tersebut minum atau tidak adalah hal yang tidak bisa dikendalikan. Manusia bisa bahagia dengan penerimaan diri, menganggap orang lain sebagai kawan seperjuangan dan perasaan berkontibusi.

Add a Comment

Your email address will not be published.