Resensi Buku “Melawan Fasisme”

oleh Akuinas Antoni

Buku ini ditulis oleh Clara Zetkin berupa uraian gagasan dalam memecahkan misteri kemunculan fasisme. Di dalam buku ini, Ia menjelaskan sifat dasar fasisme dan bagaimana cara melawannya. Fasisme bagi banyak orang digunakan sebagai sebuah ejekan yang ditujukan kepada individu-individu atau gerakan reaksioner yang sering melakukan tindakan pengusiran secara sepihak.

Fasisme mendapat arti yang baru dalam pemilihan presiden tahun 2016 dan dalam pemilihan presiden Amerika ini, Donal Trump sebagai pemenang dibandingkan dengan Benito Mussolini (orang pertama yang diidentifikasi melakukan gerakan fasisme). Hal ini ditandai dengan adanya kampanye demagogi sayap kanan, dimana Donal Trump secara terbuka melontarkan seruan rasis.

Tindakan yang dilakukan Donal Trump dapat menjadi awal mula adanya gerakan fasisme. Gerakan seperti itu mengakui adanya krisis sosial, tetapi tidak mengakui bahwa kapitalisme lah yang menjadi penyebab krisis.

Itu sebabnya kelas pekerja dan kaum tertindas berhati-hati terhadap ciri ciri fasisme:

  1. Rasisme endemik
  2. Penghapusan hak hak buruh dan sipil
  3. Penindasan secara brutal
  4. Pembunuhan massa

Fasisme tidak muncul dalam bentuk balas dendam kaum borjuis terhadap pemberontakan kaum proletar, melainkan fasisme muncul sebagai hukuman karena kaum proletar belum membawa dan mendorong maju revolusi yang dimulai di Rusia.

Dasar-dasar fasisme tidak terletak pada kasta kecil tetapi pada lapisan sosial dan massa luas yang di dalamnya termasuk kaum proletar. Pemahaman dasar karakter dan ekspresi dari tindakan fasisme ini lah yang perlu dipahami untuk dapat mengatasi musuh yang cerdik secara lebih cepat. Cara militer tidak cukup, sehingga harus juga melawannya secara politik dan ideologis.

Kemunculan Fasisme

Pada tahun 1919, asal usul fasisme mulai diidentifikasi pada periode pasca Perang Dunia I di Italia, dimana Benito Mussolini mengorganisasikan Fasci Italiani di masa krisis sosial. Tujuan dibentuknya organisasi ini adalah untuk merespon adanya gerakan proletariat (kelas sosial yang hidupnya bergantung kepada upah dan hasil penjualan tenaga kerja). Kaum pekerja italia mengalami krisis pasca perang kapitalisme, dan terinspirasi dari gerakan revolusi Rusia yang berharap Partai Sosialis Italia (bagian dari organisasi Komunisme Internasional) dapat menang dan berkuasa

Tahun 1920 merupakan titik tertinggi gerakan ploletariat tepatnya pada bulan September, di mana kaum proletar melakukan penyitaan pabrik dan tanah serta pemogokan. Namun, partai Sosialis Italia dan federasi serikat buruh menolak untuk memaknai gerakan revolusioner lebih dari perjuangan serikat buruh. Sehingga Pemimpin serikat buruh mengarahkan pekerja untuk meninggalkan pabrik. Kaum pekerja Italia meninggalkan pabrik dan membawa perasaan kecewa yang awalnya memiliki keyakinan bahwa kekuasaan kelas kapitalis akan berakhir. Akibatnya, terciptanya demoralisasi di antara kelas pekerja akibat kegagalan gerakan pendudukan pabrik.

Sosialisme reformis juga dipropagandakan di lapisan tengah, yaitu pegawai negeri sipil, intelektual borjuis, borjuis kecil dan menengah, yang terancam kehidupannya dan berharap bahwa melalui demokrasi, sosialisme reformis dapat membawa perubahan sosial. Namun, kaum sosialis reformis justru melakukan kebijakan koalisi lembut yang menciptakan kekecewaan di lapisan kelas kecil-menengah karena kondisi kehidupan mereka yang sedang parah. Dengan melihat kondisi yang terjadi, Fasci meningkatkan perekrutan anggota terhadap orang-orang yang kecewa dan melakukan serangan terhadap gerakan pekerja, yang mana ini didukung secara moral dan finansial oleh kapitalis-kapitalis terkemuka serta perlindungan dari kepolisian Negara Italia.

Pada tahun 1921-1922, ribuan pekerja dan petani dibunuh dalam “ekspedisi penghukuman” oleh kaum fasis serta ratusan ruang kerja dan markas besar serikat pekerja turut dihancurkan. Kemudian pada tahun 1922 tepatnya bulan Oktober, kaum fasis mengambil kendali pemerintahan dengan Mussolini sebagai perdana menteri. Hal ini mendorong adanya peningkatan gerakan serupa di negara-negara Eropa, yang paling kuat adalah Jerman. Gerakan ini pun dapat dilihat di Polandia, Cekoslowakia, Austria, dll.

Karakteristik Fasisme

Menurut laporan Clara Zetkin, terdapat beberapa ciri-ciri utama fasisme, yaitu:

  1. Berkaitan dengan krisis ekonomi kapitalisme dan penurunan institusi kapitalisme yang disebabkan oleh perang. Ditandai dengan meningkatnya serangan terhadap kelas pekerja dan adanya proletarisasi terhadap borjuis kecil-menengah dengan sangat luas.
  2. Kebangkitan fasisme didasarkan oleh kegagalan proletariat dalam menyelesaikan krisis sosial yang dialami oleh kapitalisme guna mengambil alih kekuasaan dan menata kembali masyarakat. Kegagalan kepemimpinan kelas proletar melahirkan pendemoralisasian di antara pekerja. Mereka kehilangan kepercayaan terhadap pemimpin reformis dan sosialisme itu sendiri.
  3. Fasisme memiliki daya tarik dalam menarik massa, khususnya massa di lapisan borjuis kecil menengah yang mengalami krisis ekonomi kapitalis. Akibat proletarisasi terhadap borjuis kecil-menengah, keamanan terhadap kehidupan dasar mereka terancam.
  4. Fasisme melakukan demagogi terhadap anti-kapitalis. Dengan mencap kelompok anti-kapitalis, banyak massa memberikan dukungan terhadap fasisme. Hal ini didukung dengan kondisi secara sosial, melarat, dan kecewa.
  5. Ideologi fasisme mengangkat bangsa dan negara di atas semua kontradiksi dan kepentingan kelas. Dimasa krisis tersebut, yang terpenting adalah bangsa dan negara, bukan benar tidaknya fasisme atau penting tidaknya hak kelas pekerja. Massa sudah tidak menaruh harapan terhadap pemimpin reformis dan sosialisme, mereka berharap kepada elemen-elemen yang memiliki kemampuan, kekuatan, tekad, dan keberanian yang ada di setiap kelas sosial. Mereka berharap semua kelas sosial bersatu dalam sebuah komunitas, dimana komunitas tersebut ditafsirkan sebagai sebuah bangsa oleh fasisme, yang merupakan instrumen ideal bagi fasisme dalam mencapai cita2 bangsa, yakni negara. Negara yang kuat dan otoriter bentukan kaum fasis merupakan alat untuk mencapai kepentingan mereka. Negara dengan kekuatan di atas semua perbedaan partai dan kelas.
  6. Ideologi chauvinisme-nasional digunakan oleh pemimpin fasis sebagai topeng untuk membangun militerisme dan membenarkan perang imperialisme. Angkatan bersenjata hanya bertugas untuk membela tanah air. Itulah yang dijanjikan kaum fasis.
  7. Fasisme memiliki karakter utama dalam gerakannya, yakni penggunaan kekerasan terorganisasi yang menghancurkan kegiatan independen kaum proletar. Memulai teror terhadap kaum proletar pedesaan, kemudian berlanjut dan meluas ke kaum proletar di kota-kota besar.
  8. Ideologi rasisme dan pengakambinghitaman pihak lain adalah inti dari gerakan fasisme. Seolah-olah gerakan tersebut menunjukkan kalimat “kalahkan orang Yahudi”.
  9. Pada titik tertentu, kelas kapitalis mulai mendukung dan membiayai gerakan fasis, sebagai cara yang paling efektif dalam melawan ancaman revolusi proletar. Mereka tidak bisa lagi mengandalkan kekuatan umum dari negara untuk menjaga kepentingan kelasnya.
  10. Ketika fasisme berhasil memegang kekuasaan, fasisme tidak hanya cenderung terborikrasi, tetapi mulai bergerak menjauh dari seruan demagogis awal yang diserukan, yakni yang mengarah kepada kontradiksi kelas dan perjuangan kelas.

Pandangan sosial-demokratis mengenai fasisme

Menurut sosial-demokrat, fasisme hanyalah teror dan kekerasan. Fasisme bagi kaum reformis, adalah konsekuensi dari revolusi rusia, sebuah dosa yang berasal dari kaum proletar. Otto Bauer sebagai pemimpin dan ahli teori Partai Sosial Demokratik Austria mengatakan bahwa dalam mencapai kesuksesan melawan fasisme, metode seperti pemberontakan atau pemogokan umum tidak cukup. Melainkan yang dibutuhkan adalah koordinasi aksi parlementer dengan aksi massa ekstra-parlementer. Produk akhirnya berupa pengumuman melalui biro informasi internasional yang digunakan sebagai rujukan mengenai reaksi dunia terhadap fasisme. Hal ini tentu menciptakan skeptisme di masyarakat luas, sehingga penting untuk memahami pendirian biro berita.

Bagaimana melawan fasisme

Kaum reformis berpendapat bahwa kaum proletar hanya dapat mundur dengan tenang dan rendah hati. Hal ini dikarenakan kekuasaan dan kekuatan penguasa kelas borjuis yang tidak tergoyahkan.

Namun, pendapat tersebut berbeda dengan Zetkin, di mana ia menekankan beberapa poin tentang perjuangan melawan fasisme, antara lain:

  1. Membangun pertahanan yang terorganisisir
  2. Front persatuan yang melibatkan semua organisasi dan kelas pekerja, terlepas adanya perbedaan di dalamnya.
  3. Perlunya memerangi daya tarik politis massa terhadap fasisme, dengan cara masuk di lapisan kelas menengah. Memandang gerakan fasisme bukan hanya berdasarkan aspek militernya saja, melainkan gerakan tersebut juga mencangkup aspek ideologis dan politik yang berhasil mempengaruhi massa.
  4. Terdapat dua hal yang dapat dilakukan dalam memerangi aspek ideologis dan politik, yakni melalui tekad kepemimpinan yang kuat untuk berjuang dalam menyelesaikan KRISIS sosial kapitalisme dan memperkuat aliansi yang terdiri dari kelas sosial yang tereksploitasi dan tertindas, pemerintahan buruh dan tani (prasyarat dalam perjuangan melawan fasisme).

Janji Fasis versus Kinerja

Penjelasan ini merupakan lanjutan mengenai apa yang terjadi pada organisasi fasisme di Italia. Dalam hal pengorganisasian dan kekuatan, fasisme dapat berkembang dikarenakan ia memiliki program yang sangat menarik bagi massa luas. Tetapi, hal ini juga memunculkan pertanyaan penting:

  1. Apa yang dilakukan fasisme di Italia sejak mengambil alih kekuasaan untuk mewujudkan programnya?
  2. Apa sifat negara yang merupakan instrumen yang dipilihnya?
  3. Apakah itu telah menunjukkan dirinya sebagai negara yang dijanjikan dan memberikan keadilan bagi setiap lapisan masyarakat?
  4. Atau apakah justru menunjukkan dirinya sebagai alat bagi kaum minoritas yang memiliki properti khususnya kaum borjuis industri?

Fasisme menjanjikan beberapa hal dalam membentuk negara terhadap massa yang mendukungnya. Namun, terdapat kontradiksi antara yang dijanjikan dan kinerja yang mereka lakukan. Faktor tersebut lah yang menjadi titik kehancuran fasisme, negara ciptaan fasis yang menempatkan kepentingan bangsa di atas segalanya. Pada kenyataannya rezim fasis menunjukkan dirinya sebagai borjuasi. Sebuah kehancuran ideologis ini tentu dan seharusnya akan menyebabkan kebangkrutan politik, cepat atau lambat.

Kontradiksi dalam Fasisme

Fasisme sudah tidak mampu menyatukan berbagai arus borjuis yang berbeda. Namun Mussolini berhasil menyerap satu partai tunggal, yaitu kaum nasionalis (Asosiasi Nasionalis Italia yang bergabung dengan Partai Fasis pada Maret 1923). Walaupun begitu, perpaduan tersebut memiliki dua sisi (terdapat kontradiksi), dimana terdapat perbedaan antara tujuan Mussolini dengan sisa sisa demokrasi borjuis yang ada.

Selain itu, ketidakmampuan fasisme dalam mengkonsolidasikan dan memperdalam cengkramannya pada kekuatan politik diketahui dengan baik melalui hubungannya dengan Partai Rakyat Katolik (Partai Rakyat Italia yang beraliran demokratis Kristen). Pada kongres populari di Turin, terdapat protes keras terhadap fasisme berupa kritikan terhadap kebijakan fasis dan disambut dengan persetujuan yang penuh antusias.

Di balik semua itu, terdapat konflik kelas yang tidak dapat dibantah keberadaannya. Kontradiksi kelas lebih kuat dibandingkan kontradiksi ideologi mereka. Perilaku popularis mencerminkan kesadaran dari lapisan luas kaum borjuis kecil perkotaan dan petani kecil tentang posisi kelas mereka dan antagonismenya terhadap modal skala besar.

Kebangkitan Proletar

Fasisme tidak mampu membela kepentingan buruh melawan kaum borjuis, dan tidak mampu menepati janji-janji yang dibuatnya, khususnya kepada serikat buruh fasis. Fasisme bahkan tidak dapat memaksa pengusaha untuk menepati janji kaum fasis mengenai keuntungan organisasi secara bersama karena biayanya yang mahal.

Segera setelah kudeta terhadap fasis, terjadi PHK secara besar-besaran. Hal ini menyebabkan munculnya pemberontakan yang dipimpin oleh serikat buruh fasis dan pendudukan pabrik. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa kehancuran ideologis mengarah kepada kehancuran politik, dan bahwa para pekerja lah yang akan dengan cepat mulai berpikir sekali lagi dalam hal kepentingan dan tanggung jawab kepentingan kelas mereka.

Siapa yang akan Menggulingkan Fasisme?

Fasisme pada dasarnya bersifat kontradiktif, meliputi berbagai kekuatan yang saling bertentangan, dimana akan membawanya ke dalam kerusakan dan disintegrasi internal. Walaupun begitu, akan sangat berbahaya untuk mengansumsikan bahwa pembusukan fasisme secara ideologi dan politis di italia akan menyebabkan keruntuhan militernya juga.

Kaum proletar harus mempertimbangkan bahwa fasisme sementara waktu akan binasa secara ideologis dan politis, namun kemudian mereka menyerang balik dengan terorisme militer. Oleh karena itu, kaum proletar revolusioner, kaum komunis, dan kaum sosialis harus mengikuti jalan perjuangan kelas yang dipersiapkan dan dipersenjatai untuk pertempuran tersebut. Akan menjadi bencana bagi kita jika hanya berperan sebagai pengamat yang pandai dan halus dalam proses pembusukan fasisme.

Ancaman fasisme hari ini

Bukan hanya sejarah dari fasisme yang dipelajari, melainkan untuk memahami krisis kapitalisme yang terjadi sebagai penyebab terjadinya fasisme.

Hari ini, kapitalisme memasuki krisis sosial yang ditandai dengan meningkatnya serangan terhadap hak-hak dan kondisi kehidupan kelas pekerja serta semua kaum yang tertindas. Hal ini lah yang menciptakan polarisasi sosial yang semakin tajam.

Ciri-ciri fasisme ditandai dengan adanya teori konspirasi atau pengkambinghitaman kaum-kaum tertentu untuk mengalihkan perhatian massa mengenai adanya krisis sosial, yang sebenarnya kapitalisme lah penyebab krisis. Selanjutnya, muncul lah berbagai propaganda yang memicu kebencian antarsesama.

Perlawanan atau pertempuran melawan fasisme tidak hanya berhenti diranah ide, tetapi juga meluas ke ranah kebijakan negara seperti politik, hukum, dan ekstra yudisial. Jika gagal, maka banyak kapitalis yang memanfaatkan kebijakan negara untuk mengamankan kepentingan kelas mereka. Perlawanan atau pertempuran ini hanya dapat dilakukan ketika kita membangkitkan kesadaran kelas revolusioner di setiap pekerja dan menyalakan api tekad perjuangan kelas.

Add a Comment

Your email address will not be published.