Kapitalisme sebagai bentuk penindasan yang terjadi terhadap kaum perempuan

oleh Andi Muhammad Fahrizal

Dalam modus produksi kapitalisme terdapat dua komponen untuk memproduksi sebuah komoditas, yakni sarana produksi dan tenaga kerja. Dalam hal ini pula terbentuk dua struktur kelas dalam masyarakat, yaitu kelas pemilik alat produksi (borjuis) dan tenaga kerja (proletar). Dalam laju produksi ini, borjuis membeli keduanya untuk memproduksi sebuah komoditas. Kelas borjuis membelanjakan uangnya untuk membeli alat produksi yang juga termasuk bahan baku dan tenaga kerja yang dapat dijual untuk memperoleh laba. Lantas dari manakah kelas borjuis mendapatkan laba?

Jika laba di peroleh dari biaya bahan pokok dan alat produksi maka hal tersebut tidak mungkin karena keduanya bukan kehendak dari kelas borjuasi untuk penentuan biaya, sehingga borjuasi tidak bisa melakukan penekanan biaya pada biaya bahan pokok dan biaya alat produksi. Apabila laba didapatkan pada ranah sirkulasi maka borjuis harus senantiasa mendapatkan peluang dari pasar. Jika demikian, para borjuis bisa saja menurunkan harga komoditas dengan serendah – rendahnya untuk mendapatkan peluang dipasar tetapi hal ini akan membuat harga jual komoditas juga ikut menjadi turun sehingga tidak adanya perolehan laba. Maka satu-satunya cara untuk memperoleh laba terletak pada penekanan biaya tenaga kerja.

 Untuk memperoleh laba, borjuis harus mengambil hasil curahan kerja dari proletar sehingga, waktu curahan tenaga kerja tidak sesuai dengan upah yang didapatkan oleh tenaga kerja (buruh), disinilah bentuk eksploitasi tenaga kerja terjadi. Buruh tidak dapat menuntut hasil curahan kerjanya karena diluar sana masih banyak tenaga kerja lain yang ingin menjadi tenaga kerja, inilah yang disebut Marx sebagai tentara cadangan.

Dalam struktur sosial menganggap tenaga kerja dapat dibedakan menjadi dua gender yaitu tenaga kerja laki – laki dan tenaga kerja perempuan. Sebagian besar masyarakat merupakan masyarakat patriarkal yang menjadikan laki – laki selalu lebih baik dari pada perempuan. Masyarakat patriarkal mengedukasi para laki-laki untuk berpikir dan bertindak secara maskulin dan perempuan secara feminim. Jenis kelamin berbeda dengan gender, jenis kelamin merupakan kategori biologis (laki-laki,perempuan) sedangkan gender berbicara persoalan kultural (maskulin,feminis). Dalam hal ini, model pasar tenaga kerja berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Dalam kapitalisme terdapat pemisahan yang ketat antara kerja produksi dan reproduksi. Reproduksi sosial ini merupakan isu feminis karena kapitalisme menciptakan struktur subordinasi terhadap perempuan melalui kerja reproduksi sosial yang tanggung jawabnya diserahkan kepada perempuan. Dalam hal ini,  Perempuan telah dijadikan sebagai tenaga kerja posisi kedua, dimana posisi perempuan sebagai ibu atau istri yang berhubungan dengan produksi maupun reproduksi tanpa adanya upah yang diberikan. Kerja-kerja produktif yang berkaitan langsung dengan peningkatan laba selalu dianggap sebagai kerja utama di dalam ekonomi dan menjadi domain utama laki-laki.  Perempuan melakukan pekerjaan – pekerjaan domestik yang dibebankan kepadanya, persoalannya hal yang berhubungan dengan pekerjaan domestik tidak dianggap sebagai kerja sehingga tak ada upah yang diberikan. Kerja perempuan yang berhubungan dengan produksi merupakan pekerjaan yang tidak dianggap sebagai kerja, dalam hal ini perempuan harus mampu melayani suami, menghibur dan masak bagi suaminya untuk dapat kembali bekerja dihari selanjutnya.

Kerja-kerja reproduksi sosial ini terbagi menjadi dua. Pertama, kerja-kerja yang ada di dalam rumah tangga yang tidak dibayar karena tidak dianggap sebagai sebuah kerja seperti memasak, mengurus rumah, mencuci pakaian, merawat anak. Kedua, kerja-kerja reproduktif yang dianggap sebagai kerja kemudian terdapat upah didalamnya seperti pekerjaan di bidang kesehatan seperti pekerjaan-pekerjaan yang ada di rumah sakit dan pendidikan. Tanggung jawab dari kerja-kerja reproduksi sosial selalu dieksternalkan kepada keluarga, dalam hal ini terutama kepada perempuan saja. Secara struktural aspek reproduksi sosial berhubungan erat dengan problem ketimpangan pembagian peran gender di dalam masyarakat. Pembagian peran pada bidang pekerjaan tertentu terkait dengan maskulinitas serta keterampilannya. Oleh karena itu, kerja-kerja reproduksi sosial akhirnya dikomodifikasi bagi yang dapat membayarnya dan menjadi urusan privat bagi yang tidak dapat melakukannya. Laki – laki dianggap bekerja dan memiliki orientasi utama terhadap kerja dalam apa yang disebut pekerjaan. Sementara, perempuan hanya dianggap fokus pada pekerjaan rumah tangga.

Cita – cita awal feminisme ialah untuk membebaskan perempuan dari belenggu patriarki dan kapitalisme yang saling berhubungan. Feminisme membahas bagaimana konsep agar keluar atas penindasan dan konsep apa yang mereka inginkan untuk mencapai kesetaraan tersebut. Konsep patriarki sebagai sumber penindasan pada perempuan yang juga berakar pada keluarga ini menempatkan posisi laki – laki yang lebih dominan atas perempuan, seakan – akan hal ini merupakan sesuatu yang terjadi secara alamiah. Pada kenyatannya, konsep patriarki ini secara teoritik dan praktiknya selalu berhubungan dengan kapitalisme. Namun, dikalangan feminis itu sendiri muncul berbagai pandangan perihal praktiknya yaitu kerja perempuan pada tataran produksi, reproduksi, keluarga dan seksualitasnya. Perbedaan tersebut melahirkan beberapa ideologi pada gerakan feminis. Ada beberapa ideologi pada gerakan feminis yang berbeda termasuk didalamnya feminis radikal, feminis sosialis, dan feminis marxis.

Pertama, feminis radikal memandang patriaki sebagai sistem yang berbasis pada patriakh atau bapak yang menjadi sumber masalah pada penindasan perempuan. Feminis radikal menggunakan perspektif  “personal is political” yang dimana memandang konflik keluarga. Feminis radikal juga memakai konsep gender sebagai bentuk analisanya untuk membedah relasi kuasa dalam patriarki. Dengan inilah penganut feminisme radikal tidaklah memandang sistem kapitalisme sebagai sumber utama permasalahan patriarki. Kedua, feminis sosialis mengartikan sumber penindasan terhadap perempuan atau patriarki bertautan dengan sistem kapitalisme, dimana masing – masing memiliki sumber masalah yang berdiri sendiri namun di diantara keduanya berkorelat. Disatu pihak, feminis sosialis menggunakan konsep gender dalam menganalisis ketimpangan dalam relasi kuasa berdasarkan seksualnya dan dipihak lain menggunakan konsep kelas tenaga kerja perempuan dibawah kapitalisme yang dikenal sebagai teori sistem ganda. Yang terakhir ada feminis marxis, feminis marxis memandang sumber utama masalah ini berakar pada kapitalisme, menurutnya didalam kapitalismelah partiarki itu dapat bekerja. Feminis marxis menggunakan konsep kelas yang memanfaatkan relasi kuasa berdasarkan seksualitasnya dalam menganalisis permasalahan kelas pekerja perempuan dibawah sistem kapitalisme.

 Pembebasan perempuan dalam tatanan masyarakat kapitalisme dimana alat -alat produksi dimiliki,dikontrol dan diakses bersama – sama oleh laki – laki dan perempuan. Kaum perempuan hanya dapat dicapai melalui kekuatan kolektif  dari kelas buruh untuk membebaskan dirinya dari belenggu patriarki yang terjadi. Berbicara persoalan feminisme seharusnya tidak membatasi dirinya pada isu-isu perempuan saja sebagaimana ia didefinisikan secara tradisional, melainkan berdiri untuk semua kelompok gender yang diksploitasi, didominasi dan ditindas.

Pendekatan  sebagai kaum sosialis visi terhadap pembebasan perempuan berpijak pada garis kelas. Menurut pandangan sosialis, penindasan laki – laki terhadap kaum perempuan muncul dari kepemilikan pribadi atas alat produksi dan masyarakat kelas. Mengenai sejarah pada peradaban manusia sejak zaman batu memperlihatkan bahwa dalam masyarakat yang tidak mengenal kepemilikan pribadi dan perbedaan kelas kaum perempuan dan laki – laki sama – sama terlibat dalam produksinya dengan kedudukan yang sejajar tanpa adanya dominasi dari gender tertentu. Munculnya kepemilikan pribadi ini atas alat produksi dan masyarakat kelas telah menyingkirkan kaum perempuan dari proses produksi dan melemparkannnya kepada pekerjaan domestik atau pada tataran reproduksi. Sehingga, bagi kaum sosialis, pembebasan perempuan tidak dapat dipisahkan dari perjuangan untuk merebut dan mengakhiri kepemilikan pribadi atas alat produksi.

Daftar Pustaka

Izzati, Fildzah 2020, “Feminisme Liberal Tak Cukup Demokratis dan Membebaskan bagi Kita Kaum 99%” https://indoprogress.com/2020/08/feminisme-liberal-tak cukup-demokratis-dan-membebaskan-bagi-kita-kaum99/

Jakasurya, Pandu 2012, “Pembebasan Perempuan dan Sosialisme” https://revolusioner.org/teori-4/teori-pembebasan-perempuan/8308-pembebasan-perempuan-dan-sosialisme.html

Indiah Rahayu, Ruth 2017, “Dalam Tegangan Permanen: Relasi Gerakan Feminis dalam Perjuangan Kelas” https://indoprogress.com/2017/05/dalam-tegangan-permanen-relasi-gerakan-feminis-dalam-perjuangan-kelas/

Indiah Rahayu, Ruth 2020 “Feminisme Anti-Imperialis Gerwani di Panggung Perang Dingin” https://indoprogress.com/2020/02/feminisme-anti-imperialis-gerwani-di-panggung-perang-dingin/

Suryajaya, Martin 2013, Asal – Usul Kekayaan

Add a Comment

Your email address will not be published.