Squid Game
Squid Game
oleh Tsabiitah Mustahfizdah (Anggota Dept. Kastrad SEMA FEB-UH 2021)
Genre : Action, suspense, survival, drama
Sutradara : Hwang Dong – Hyuk
Negara Asal : Korea Selatan
Jaringan Penyiar : Netflix
Tanggal Rilis : 17 September 2021
Serial ini sebagai contoh bahwa sistem kapitalisme melahirkan ketimpangan ekonomi di tengah kehidupan masyarakat yang dapat berujung pada tindak kejahatan.
Permainan Squid Game atau permainan cumi-cumi adalah permainan yang berasal dari desa di korea yang aturannya sederhana yaitu : anak-anak dibagi menjadi dua regu, penyerang dan penjaga. Begitu permainan dimulai, ini penjaga bergerak dengan dua kaki di dalam garis, sementara penyerang hanya boleh melompat dengan satu kaki di luar garis. Tapi penyerang ini bisa memotong jalan dengan pinggang cumi-cumi dan kemudian baru bisa bebas berjalan dengan dua kaki. Kalau sudah siap melakukan pertempuran terakhir, para penyerang ini berkumpul di bagian mulut cumi-cumi. Untuk menang, para penyerang harus menginjak bidang kecil di atas kepala cumi-cumi, kalau kau menginjak atau keluar garis saat penjaga mendorongmu, maka kau mati. Squid Game dalam serial ini sebagai permainan final untuk dua orang yang tersisa dalam permainan, dua orang finalis ini akan memainkan Teknik permainan squid game untuk menjadi pemenang yang mendapatkan uang miliaran won.
“These people suffered from inequality and discrimination out in the world, and we’re giving them one last chance to fight fair and win.” (“Orang-orang ini menderita ketidaksetaraan dan diskriminasi di dunia, dan kami memberi mereka satu kesempatan terakhir untuk bertarung secara adil dan menang.”) Kalimat tersebut diucapkan oleh karakter Front Man (Lee Byung-hun) dalam serial Squid Game,menggambarkan latar belakang dan motivasi kenapa permainan itu diselenggarakan: Mengatasi Masalah Finansial
Melibatkan 456 rakyat Korea yang punya kerentanan ekonomi, mereka ditawarkan permainan ini dan dijemput menggunakan mobil untuk pergi ke pulau terpencil tempat permainan dilakukan dan dalam perjalanan ke pulau terpencil itu, mereka para peserta dibius agar tidak ada peserta yang mengetahui tempat permainan tersebut dilakukan. Saat telah sampai, peserta bangun dari pingsan dan sudah lengkap dengan seragamnya. Para peserta permainan tentunya belum tahu mereka akan memainkan permainan yang mempertaruhkan nyawa. Penyelenggara permainan hanya membuat instruksi bahwa yang kalah akan dieliminasi. Kata eliminasi itu ternyata berarti mati ditembak. Peserta tentu belum mengetahui jika mereka akan ditembak jika kalah selama permainan. Saat permainan pertama dimulai, yaitu permainan ‘lampu merah lampu hijau’ dan peserta tidak boleh bergerak saat lampu merah yang berarti jika boneka berhenti bernyanyi, maka lampu merah menyala dan peserta tidak boleh bergerak. Peserta yang bergerak segera ditembak mati, disitu lah peserta lain kaget dengan aturan permainannya dan mereka berusaha kabur dengan berlari, banyak peserta yang mati dalam permainan pertama itu.
Setelah peserta menyadari permainan ini berbahaya, maka peserta diizinkan oleh penyelenggara permainan untuk melakukan pemungutan suara yaitu lanjut atau tidak lanjut dalam permainan. Namun, suara terbanyak peserta memilih tidak lanjut dalam permainan. Alhasil peserta dipulangkan di kehidupannya di kota sebelumnya. Setelah peserta pulang di kehidupannya yang sebelumnya, mereka menyadari bahwa kehidupan mereka sangat sulit. Sebagai contoh yaitu Gi-hun yang merupakan tokoh utama. Kehidupan Gi-hun yang terlilit banyak utang dari rentenir dan bank, perceraian dengan istri, ibunya sakit diabetes dan harus segera mendapatkan operasi, apalagi biaya operasi yang mahal membuat Gi-hun tersadar untuk mencari uang agar ibunya bisa dioperasi. Gi-hun pun segera sadar dan akhirnya mau tidak mau menghubungi nomor penyelenggara permainan untuk melanjutkan permainan yang mempertaruhkan nyawa itu. Pada akhirnya semua peserta yang dipulangkan sebelumnya, mereka bermain lagi dengan sadar konsekuensi permainan itu adalah nyawa mereka sendiri.
Mereka pun berkompetisi dalam permainan anak-anak yang mempertaruhkan nyawa. Setiap nyawa peserta yang dihukum pada permainan dihargai 100 juta won, sebagai akibatnya satu-satunya pemenang akan meraih 45,6 miliar won, setara Rp547 miliar.
“Download file untuk selengkapnya”