Pergi

Penulis : Tere Liye

“Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, kemana hendak pergi, melalui kenangan demi
kenangan masa lalu, pertarungan hidup-mati, untuk memutuskan kemana langkah kaki akan dibawa pergi.” Pergi merupakan sekuelnya dari novel Pulang yang sudah diterbitkan terlebih dahulu sekitar lima tahun yang lalu. Bagi yang belum membaca novel Pulang kalian masih bisa menikmati novel, karena di dalam novel ini sang penulis selalu memberikan beberapa detail yang sebenarnya ada di novel Pulang agar pembaca bisa membaca dengan leluasa dan tidak terputus. Pergi adalah sebuah novel perjalanan mengelilingi beberapa tempat untuk menemukan arti sebuah tujuan setelah semua sudah didapat di depan mata. Perjalanan yang akan membuat seseorang menemukan arti dari kata “pergi”.

Penulis novel ini adalah Tere Liye yang mana sudah memiliki banyak series buku yang lainnya seperti Bumi, Bulan, Matahari, Pulang, Negeri diujung tanduk, dan masih banyak yang lainnya. Novel ini adalah novel action yang diterbitkan oleh Republika. Memiliki ketebalan 496 lembar. Seperti biasa, Tere Liye menggunakan kata-kata yang sangat unik dalam mendeskripsikan setiap bagian dari cerita, yang membuat kita serasa terjun ke sebuah dunia baru padahal kita belum pernah pergi ke tempat itu. Latarnya banyak di luar Indonesia, seperti Macau, Hongkong, Singapura, Meksiko, Moscow ataupun Jepang. Bujang, nama aslinya Agam dan julukannya Babi Hutan. Sesuai namanya, Bujang dikenal sebagai tukang pukul handal Keluarga Tong. Di novel Pergi ini, Bujang sudah menjadi Tauke Besar menggantikan ayahnya. Nama Tauke Besar merupakan sebuah panggilan hormat yang ditunjukan kepada pemimpin tertinggi dari Keluarga Tong. Keluarga Tong ini yang merajai berbagai bisnis penting dunia dan menjadi satu daridelapankeluarga shadow economy. Keberadaan Keluarga Tong semakin terancam dengan ulah Master Dragon. Sebagai pemimpin keluarga, mempertahankan nama baik keluarga adalah sebuah kewajiban. Jadi Bujang memiliki ambisi yang besar untuk mengalahkan Master Dragon. Semuanya dimulai ketika salah satu prototype hasil penemuan riset teknologi miliknya dicuri El Pacho, keluarga aliansi Master Dragon bersama Keluarga Lin dan Keluarga Beijing. Keluarga Tong berusaha mengambilnya namun kelakuan aliansi Master Dragon semakin keterlaluan. Bujang berjanji akan mengalahkanaliansi Master Dragon. Berbagai cara dilakukan untuk mengalahkan Master Dragon yang memiliki pengaruh dan kekuatan cukup besar serta menjadi rival terberat Keluarga Tong. Bujang berusaha mencari aliansi dari berbagai keluarga shadow economy di seluruh dunia sebagai langkah yang tepat untuk mengalahkan Master Dragon yang suka bermain licik. Dengan perjuangan dan upaya diplomasi kesana kemari akhirnya dua keluarga bersedia bergabung dengan Keluarga Tong. Mereka adalah Keluarga Yamaguchi yang dipimpin Hiro Yamaguchi di Jepang dan Keluarga Bratva yang dipimpin Otets di Rusia.  

Awalnya Otets menolak bergabung. Ia bersedia bergabung dengan aliansi Keluarga Tong jika Bujang berhasil mengalahkan Maria, putri cantik Otets yang jago menembak danternyatasealmamater dengannya. Bujang sempat kalah dalam melawan Maria namun ketangkasan

Bujang membuat ia memenangkan pertandingan. Keluarga Bratva, pembuat senjata kenamaandunia akhirnya bersedia bergabung bersama Keluarga Tong dalam menghadapi Master Dragon beserta aliansinya. Di sela-sela persiapan menghadapi ganasnya Master Dragon. Bujang dihadapkan pada kenyataan kurang menyenangkan bahwa ayahnya, Samad, ternyata pernah mempersunting penyanyi soprano asal Spanyol bernama Catrina sebelum akhirnya menikah dengan ibunya, Midah. Penyerangan terhadap Master Dragon dimulai dengan menyerang aliansinya. Penyerangan Keluarga Lin di Macau berhasil dikalahkan oleh Keluarga Tong dengan strategi matang, sementara Keluarga Beijing sukses ditumbangkan oleh Keluarga Bratva dan El Pacho dibabat habis oleh Keluarga Yamaguchi. Kemenangan itu membuat Keluarga Tong dan aliansinya semakin mudah dalam menyerang Master Dragon. Puncak cerita, Bujang sempat kewalahan menghadapi muslihat Master Dragon yang tiada duanya. Rencana matang bersama aliansi lainnya menjadi sia-sia belaka. Mereka tidak mampu membendung serangan kuat Master Dragon. Ketika hendak kalah, tiba-tiba Diego datang. Ia memiliki kehebatan dalam strategi bertarung sampai-sampai Master Dragon dibuat tak berkutik olehnya.  Bujang tidak sendiri dalam melancarkan setiap misinya. Ada beberapa tokoh pendukung lainnya
yang memiliki ciri khas masing-masing, seperti si kembar Yuki dan Kiko yang jago
dalam hacking, Salonga yang bijak dan selalu menasihati Bujang, Pawrez yang menjadi
kepercayaan Keluarga Tong dalam menjalankan bisnis besarnya, White, Togar, Edwin, Tuanku Imam, Lubai, Kaeda, Akashi dan Thomas. Pada sesi akhir, Bujang telah mengundurkan diri dari jabatan bos atau pemimpin tertinggi Keluarga Tong lalu Diego mengajaknya untuk menghancurkan semua keluarga shadow economy tak terkecuali Keluarga Tong. Tapi tawaran Diego tidak dibalas dalam novel, mungkin akan dilanjutkan di novel selanjutnya. Dalam novel ini sosok Bujang yang orangnya cepat dan to the point, namun tetap sarat akan makna. Banyak banget pesan moral yang dapat kita petik dari buku ini. Yang paling ditekankan dalam buku ini adalah menentukan tujuan hidup, arah kemana kamu akan pergi, apalagi ketikakamu terombang-ambing oleh tanggung jawab dan ekspektasi. Kita senantiasa diajarkan untuk bersyukur dan pantang menyerah menentukan, memperjuangkan, mencapai tujuan hidup. Dalam novel ini juga digambarkan dimana Bujang yang galau akan kemana dia akan membawa Keluarga Tong, kemana dia akan pergi. Hal ini memperlihatkan kepada kita bahwasanya memang benar banyak di antara kita yang masih sering bingung akan tujuan hidup kita, kemana kita akan melangkah selanjutnya. Digambarkan juga dalam cerita bahwa manusia sering kali
kalap dan gelap mata apabila sesuatu atau seseorang yang berharga dalam kehidupannya direngut dari bagaimana Bujang nantinya membalaskan dendam orang-orang yang tewas karenanya. Novel menceritakan persahabatan, perjuangan, kasih sayang, berambisi yang baik dan tak lupa juga bersyukur kepada Tuhan. Dalam novel ini saya merasakan Bujang, yang bingung setengah mati menentukan kemana ia harus pergi, kemana ia harus membawa Keluarga Tong yang diamanatkan kepadanya pergi. Dan ketika membaca nasihat-nasihat yang diberikan baik oleh Tuanku Imam maupun Salonga, aku
merasa bahwa masih banyak sudut pandang lain yang bisa kita ambil dalam melihat sesuatu, termasuk mendefinisikan benar atau salah, maupun apa itu kebahagiaan.
Kelebihan novel Tere Liye ini sangat banyak, terutama terkait tema, di mana sangat jarang novel Indonesia bertema laga plus drama. Selain itu detail pendeskripsian dalam setiap bab membuat kita serasa nonton film Hollywood versi novel. Alur yang disajikan juga sangat rapi sehingga cerita yang disajikan tidak terasa monoton. Banyak istilah-istilah asing, sajian budaya dan pengenalan singkat mengenai ekonomi politik internasional akan menambah keilmuan kita. Hampir di setiap novel karya Tere Liye selalu menyelipkannya. Disamping gagahnya Bujang, Salonga, White, Yuki, Kiko, dan semua karakter yang ada dalam buku ini, yang tersampaikan dengan sangat baik dengan detail gerakan yang menurutku sangat hidup.

Oleh : Jihan ( Departemen BKND Sema FEB-UH 2019/2020)

Add a Comment

Your email address will not be published.