Sepasang Yang Melawan(2)
Sepasang Yang Melawan(2)
Editor 1 : Nurul Amin
Editor 2 : Christian Adi N
Penerbit : Djeladjah Pustaka
Tebal Buku : vi + 303 halaman
ISBN : 978-602-336-465-7
Cetakan ketiga, Juli 2019
dirumahaja sambil membaca buku kedua dari Pejalan anarki di tengah pendemi wabah Covid-19
Buku pertama selesai saya baca beberapa hari yang lalu, yang dimana lebih berporos kepada perkembangan hubungan Sekar dan El dan juga tidak pula ketinggalan dengan idealisme mereka yang membuat saya acap kali kagum terhadap keduanya. Di akhir buku pertama, Sekar ditinggal oleh El di bandara, setelah mendaki bersama.Di buku kedua ini, di awal bab diceritakan bagaimana Sekar setelah di tinggal oleh El, bagaimana Sekar belum bisa move on dari kenangan-kenangan El yang meninggalkan begitu banyak hal unik dan romantis , dan beberapa bab juga menceritakan flashback Sekar dan El ketika mendaki bersama di beberapa gunung.Selama dua tahun hidup dalam bayang El, Sekar akhirnya mencoba untuk bangkit lagi,mengambil jalan perpisahan sebelum benar-benar pergi : ia kembali menyusuri jejaknya dengan El. Yang hebatnya dari buku ini adalah,bagaimana penulis menyisipkan pandangan-pandangannya soal Kapitalisme, dari botol air kemasan, toko buku besar yang mematikan toko buku kecil, royalti penulis yang hanya tujuh ribuan. Beberapa Bab menceritakan desa Naori, sebuah distrik kecil di sebelah selatan perbatasan Indonesia dan Papua Nugini yang masih jauh dari pengaruh kota. Distrik Naori membuat kitabelajar, bahwa apa yang kita labeli dengan kata ‘tertinggal’ nyatanya jauh lebih maju, cerdas, dan merdeka dari kita, orang-orang kota. “Gunakan handphone pintarmu, suruh ia mencari nama-nama perusahaan yang menghasilkan produk-produk dengan cara dan sistem yang merusak alam,sosial, dan budaya. Dan jangan beli produknya. Jangan menyumbang pisau untuk musuh-musuh alam itu, kawan. Sekecil apapun, perlawanan tetaplah perlawanan. Boikot!! (Hal.229) tapi sebagaimana akhir cerita (tidak akan ada spoiler tentang ini), idealisme tiap orang berbeda, dan bagaimana mereka memilih dan mengakhiri kisah mereka adalah kemerdekaan mereka sendiri. Penulis dan semua tokoh di dalamnya adalah yang melawan. “Aku adalah seorang yang tidak mau tunduk apapun kecuali padaNya,Tuhan Semesta Alam”
Oleh : Reza ( Departemen Kastrad Sema FEB-UH 2019/2020)